Cangkir kopi di sudut meja kerja Rhea sudah lama mendingin, menyisakan noda kecokelatan yang mengering di pinggirannya. Di layar monitor berukuran dua puluh tujuh inci itu, kursor putih berkedip-kedip ritmis, seolah sedang mengejek Rhea yang sudah kehilangan kata-kata sejak tiga puluh menit lalu. Jarum jam di dinding kantor menunjukkan pukul 16:45. Lima belas menit lagi menuju kebebasan, atau setidaknya begitu pikirnya.
Rhea meregangkan otot lehernya hingga terdengar bunyi *kretek* yang memuaskan namun menyakitkan. Matanya terasa panas, perih akibat paparan cahaya biru selama hampir sembilan jam tanpa jeda. Ia memijat pangkal hidungnya, mencoba mengusir pening yang mulai berdenyut di pelipis.
"Satu ekspor terakhir, lalu aku pulang, mandi air hangat, dan melupakan dunia," bisik Rhea pada dirinya sendiri. Jemarinya dengan lincah menggerakkan tetikus, mengarahkan kursor ke tombol *Render*.
Namun, suara langkah kaki yang berat dan teratur di atas lant** parket itu membuyarkan fantasinya. Suara itu begitu khas; tegas, tanpa ragu, dan selalu membawa aura dingin yang mampu menurunkan suhu ruangan dalam sekejap. Rhea tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Ia mengenali aroma parfum *sandalwood* bercampur aroma detergen mahal yang merayap ma**k ke indra penciumannya.
Arka Dirgantara. Sang CEO muda yang lebih mirip robot pemroses data daripada manusia.
"Rhea," suara bariton itu memanggil. Pendek, tanpa embel-embel basa-basi.
Rhea memaksakan sebuah senyum profesional, meski otot wajahnya terasa kaku. Ia berbalik dan mendapati Arka berdiri di belakangnya dengan tangan terlipat di depan dada. Kemeja putihnya masih tampak licin tanpa kerutan, sangat kontras dengan kaus Rhea yang sudah sedikit kusut di bagian pinggang.
"Ya, Pak Arka? Ada yang bisa saya bantu sebelum jam kantor berakhir?" Rhea mencoba menyelipkan penekanan halus pada kata 'berakhir'.
Arka tidak menjawab. Matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai tipis itu tertuju lurus ke layar monitor Rhea. Ia melangkah mendekat, mempersempit ruang pribadi Rhea hingga gadis itu bisa mencium aroma kopi espresso yang baru saja diminum pria itu.
"Filosofi logo ini," Arka menunjuk ke arah desain identitas visual proyek 'Nusantara Soul' yang baru saja Rhea selesaikan. "Warna biru yang kamu pakai. Kenapa terlalu... mendayu?"
Rhea mengerutkan kening. "Mendayu? Pak, itu adalah *Royal Blue* yang melambangkan kepercayaan dan kedalaman budaya. Sesuai dengan *brief* awal yang Bapak berikan minggu lalu."
Arka menggeleng pelan, sebuah gerakan kecil yang bagi Rhea terasa seperti vonis mati. "Terlalu pasif. Kita butuh sesuatu yang lebih provokatif tapi tetap elegan. Merah hati, mungkin? Tapi jangan merah yang agresif. Merah yang... berbisik."
Rhea menarik napas panjang, berusaha menahan agar matanya tidak berputar ke atas. "Merah yang berbisik? Pak, kita sudah melewati tiga tahap persetujuan untuk palet warna ini. Jika saya mengubah warna utamanya sekarang, saya harus merombak seluruh aset visualnya. Tipografinya, *layout* proposalnya, bahkan elemen grafis pendukungnya."
"Saya tahu," jawab Arka datar, seolah ia baru saja mengomentari cuaca. "Dan saya ingin lihat draf barunya besok pagi pukul delapan. Sebelum rapat pemegang saham dimulai."
Keheningan yang menyesakkan menyelimuti kubikel itu. Rhea merasa dadanya sesak. Jam di dinding kini menunjukkan pukul 16:55. Harapan tentang mandi air hangat dan tidur lebih awal menguap begitu saja seperti kabut di bawah sinar matahari.
"Besok pagi?" suara Rhea sedikit bergetar. "Pak, ini sudah jam pulang. Merombak palet warna bukan sekadar klik *'copy-paste'*. Saya harus menyesuaikan kontras dan keseimbangan visual di ratusan slide."
Arka menatap Rhea, tatapannya tidak terbaca, namun ada ketegasan yang tidak bisa dibantah di sana. "Kreativitas tidak punya jam kerja, Rhea. Saya pikir kamu salah satu desainer yang paham bahwa kesempurnaan butuh pengorbanan. Atau saya salah menilai dedikasimu?"
Kalimat itu menghantam telak ego Rhea. Sebagai seorang perfeksionis yang kerap meragukan dirinya sendiri, tantangan terhadap dedikasinya adalah senjata paling mematikan yang bisa digunakan Arka. Rhea mengepalkan tangannya di bawah meja, kukunya menekan telapak tangan hingga meninggalkan bekas merah.
"Baik, Pak. Saya mengerti," jawab Rhea akhirnya, suaranya pelan dan tertahan.
"Bagus. Pastikan merahnya tidak terlalu 'berteriak'. Saya tunggu di meja saya jam delapan tepat," ucap Arka dingin sebelum berbalik dan berjalan pergi tanpa kata pamit.
Rhea memperhatikan punggung tegak itu menghilang di balik pintu kaca ruang CEO. Segera setelah pintu itu tertutup, Rhea menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. Ia menatap langit-langit kantor yang mulai sepi. Teman-teman sekantornya sudah mulai mengemasi barang, beberapa melemparkan tatapan simpati padanya sebelum bergegas menuju lift.
"G***," gumam Rhea. "Dia benar-benar tidak punya hati."
Ia kembali menghadap monitor. Warna biru yang tadinya ia banggakan kini tampak seperti ejekanβsebuah monumen kegagalan yang harus ia hancurkan sendiri. Jarinya gemetar saat membuka kembali perangkat lunak desainnya. Pukul 17:15. Dunia di luar sana mungkin sedang memulai perayaan malam hari, namun bagi Rhea, malam baru saja dimulai di balik layar monitor yang menyilaukan.
Dua jam berlalu. Kantor sudah benar-benar sunyi, menyisakan suara dengung AC dan detak jantung Rhea yang tidak beraturan karena terlalu banyak a**pan kafein dan amarah yang tertahan. Setiap kali ia mencoba mengaplikasikan warna merah yang diinginkan Arka, ia merasa seperti sedang mengkhianati insting seninya sendiri.
"Merah yang berbisik... apa-apaan itu?" maki Rhea sambil menghapus kembali lapisan warna pada kanvas digitalnya.
Pukul 22:00. Pukul 00:00.
Rhea merasa seperti raga yang kosong. Matanya mulai berair karena lelah, dan punggungnya terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Di tengah keputusasaan itu, ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping papan tik. Sebuah notifikasi muncul dari sebuah aplikasi berwarna gelap dengan logo lingkaran sederhana.
Forum 'Nir-Tidur'.
Hanya di sana ia bisa menjadi siapa saja. Hanya di sana ia tidak perlu menjadi Rhea yang penurut, Rhea yang rapuh, atau Rhea yang selalu gagal menetapkan batasan. Ia mengetikkan sesuatu di kolom pencarian, mencari sebuah utas yang selalu ia kunjungi saat dunianya terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri.
Ia melirik jam digital di pojok kanan bawah layarnya. 02:15.
Dua menit lagi.
Rhea menarik napas dalam-dalam, merasakan resonansi kesepian yang sama mulai merayap di dadanya. Ia tahu, sebentar lagi, di balik anonimitas layar yang dingin ini, seseorang dengan inisial 'X' akan muncul. Seseorang yang tidak tahu rupanya, tidak tahu namanya, namun entah bagaimana, terasa lebih nyata daripada atasannya yang baru saja menghancurkan malamnya.
Jari Rhea bersiap di atas papan tik ponselnya, menunggu angka itu berganti. Saat menit menunjukkan 02:17, sebuah pesan ma**k di layar pribadinya.
**X:** *Kamu masih terjebak di sana, kan? Di antara garis-garis yang tidak pernah selesai?*
Rhea memejamkan mata sejenak, merasakan setetes air mata jatuh di pipinya. "Hanya kamu yang tahu," bisiknya pelan, sementara di ruangan CEO yang gelap tak jauh dari kubikelnya, sebuah cahaya ponsel berpijar, menyinari wajah seorang pria yang sedang menatap layar dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!