Dengkring pendingin udara di lant** tiga puluh lima ini biasanya terdengar seperti latar belakang yang menenangkan, tetapi malam ini, suaranya terdengar seperti ejekan yang konstan. Jam di sudut monitor menunjukkan pukul 01:45. Cahaya biru dari layar menyinari wajahku, menonjolkan lingkaran hitam di bawah mata yang sudah tidak bisa lagi disembunyikan oleh *concealer* termahal sekalipun.
Di ujung meja panjang itu, Arka Syailendra masih berkutat dengan laptopnya. Kemeja putihnya yang tadi pagi tampak kaku dan perfeksionis, kini lengannya digulung hingga siku, dan kancing teratasnya terbuka. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan karena ia terus-menerus menyisirnya dengan jemari di tengah kepanikan revisi.
"Rhea, geser palet warnanya ke arah *muted earth tones*. Biru ini terlalu... agresif," suaranya serak, memecah keheningan yang sudah bertahan selama dua jam terakhir.
Aku menghela napas panjang, sengaja membiarkan pundakku merosot agar dia tahu betapa lelahnya aku. "Pak Arka, ini sudah revisi kedelapan belas untuk logo *re-b**nding* ini. Biru itu melambangkan stabilitas sesuai permintaan klien awal."
Arka mengangkat kepalanya. Matanya yang tajam menatapku, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana. Tidak ada kilat amarah atau arogansi yang biasanya terpancar saat dia mengkritik pekerjaanku. Ada keletihan yang serupa dengan yang kurasakan. "Stabilitas itu membosankan, Rhea. Kita butuh sesuatu yang terasa seperti... rumah. Sesuatu yang jujur."
Kalimat itu membuat jemariku membeku di atas *mouse*. *Jujur.* Kata itu sering muncul dalam percakapanku dengan 'X' di forum Nir-Tidur. Aku menggelengkan kepala pelan, mencoba mengusir sinkronisitas aneh itu.
"Saya akan coba sesuaikan," jawabku pendek, kembali menatap layar.
Suasana kantor yang kosong terasa mencekam sekaligus intim. Hanya ada kami berdua di bawah sorotan lampu meja yang redup. Bau kopi instan yang sudah mendingin bercampur dengan aroma parfum maskulin Arka yang mulai memudar. Aku bisa mendengar helaan napasnya yang berat setiap kali dia membaca dokumen di depannya.
Tiba-tiba, Arka berdiri dan berjalan mendekat. Aku refleks menegang, mengira dia akan menunjuk-nunjuk kesalahan pada desainku seperti biasanya. Namun, dia berhenti di samping kursiku, tidak terlalu dekat untuk melanggar batas, tapi c**up dekat sehingga aku bisa merasakan panas tubuhnya.
"Maaf," gumamnya pelan.
Aku menoleh, terpaku. "Maaf?"
"Untuk jam-jam tidak ma**k akal ini. Untuk revisi yang membuatmu harus mengorbankan waktu tidurmu." Dia menatap layar monitor, tapi fokusnya seolah jauh melampaui piksel-piksel di sana. "Aku tahu aku sulit diajak bekerja sama."
Ini adalah sisi Arka yang belum pernah kulihat. Biasanya, dia adalah mesin efisiensi yang tidak punya ruang untuk empati. Tapi malam ini, di bawah bayang-bayang kantor yang sepi, dia tampak... manusiawi.
"Kenapa Bapak melakukannya?" tanyaku tanpa sadar. Keberanian yang biasanya kupendam muncul karena kelelahan yang luar biasa. "Kenapa harus sesempurna ini sampai menyiksa diri sendiriβdan saya?"
Arka terdiam c**up lama. Dia menyandarkan pinggulnya di tepi meja, menatap kegelapan di luar jendela kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu Jakarta. "Karena di luar sana, orang-orang hanya melihat hasil akhir. Mereka tidak peduli pada prosesnya. Jika aku gagal sekali saja, semua yang kubangun akan runtuh. Aku tidak punya kemewahan untuk menjadi rata-rata."
Kata-katanya bergetar dengan nada yang sangat familier. Nadanya persis seperti cara 'X' mengetik pesannya di pukul dua pagi. *'Dunia tidak menerima kegagalan, itulah sebabnya kita bersembunyi di balik anonimitas,'* begitu kata X tempo hari.
Aku menatap profil samping wajah Arka. Garis rahangnya yang tegas tampak melunak dalam remang cahaya. "Terkadang, menjadi rata-rata itu tidak apa-apa, Pak. Kita bukan robot."
Arka menoleh padaku, sebuah senyum tipisβhampir tak terlihatβmuncul di sudut bibirnya. "Kau terdengar seperti seseorang yang kukenal."
Jantungku berdegup kencang secara tiba-tiba. "Siapa?"
"Hanya seseorang di internet," jawabnya sant**, namun matanya mengunci pandanganku dengan intensitas yang membuatku sulit bernapas. "Seseorang yang percaya bahwa kejujuran lebih penting daripada estetika."
Aku segera memalingkan wajah, pura-pura sibuk dengan kursor di layar. Perasaan ini konyol. Tidak mungkin Arka adalah 'X'. Arka adalah pria yang paling kubenci di jam sembilan sampai lima, sementara 'X' adalah tempatku pulang di jam dua pagi. Mereka adalah dua kutub yang berbeda.
Aku melirik jam di pojok layar. 02:16.
Satu menit lagi. Kebiasaanku adalah membuka aplikasi Nir-Tidur tepat di pukul 02:17 untuk melihat apakah 'X' sudah ada di sana. Tapi sekarang, Arka berada tepat di sebelahku. Aku tidak bisa membuka ponselku.
Tepat saat angka di jam digital itu berubah menjadi 02:17, sebuah notifikasi muncul di layar ponsel Arka yang tergeletak di atas meja, persis di samping tanganku. Ponsel itu dalam keadaan *silent*, tapi layarnya menyala terang karena ada pesan ma**k.
Mataku secara tidak sengaja menangkap ikon aplikasi yang sangat kukenali. Sebuah notifikasi dari Nir-Tidur.
*X: "Kau masih terjaga?"*
Darahku seolah berhenti mengalir. Pesan itu berasal dari akunku. Aku baru saja mengirimkan pesan otomatis yang kujadwalkan lewat aplikasi pihak ketiga jika aku sedang sibuk, sebuah fitur yang kupasang agar 'X' tahu aku sedang tidak bisa mengobrol lama tapi tetap memikirkannya.
Aku menatap ponsel itu, lalu menatap Arka yang baru saja merogoh saku kemejanya, menyadari ada sesuatu yang bergetar di sana. Dia mengambil ponselnya, membacanya, dan aku bisa melihat jempolnya bergerak cepat di atas layar.
Sedetik kemudian, ponselku yang berada di bawah tumpukan kertas sketsa bergetar.
Aku tidak berani mengambilnya. Napasku tercekat di tenggorokan. Arka melirik ke arah tumpukan kertasku, lalu kembali menatapku. Ruangan itu mendadak terasa sangat sempit, seolah oksigen dihisap keluar.
"Rhea," panggilnya, suaranya kini lebih rendah, lebih berat, dan ada semacam pengakuan yang tertahan di sana.
Aku menelan ludah, tanganku gemetar saat meraih ponsel di bawah kertas. Di layarnya, sebuah pesan baru dari 'X' muncul.
*X: "Aku sedang bersamamu sekarang. Dan aku baru sadar, Biru itu memang terlalu agresif untukmu."*
Aku mengangkat kepala, menatap Arka dengan mata membelalak. Dia tidak lagi berpura-pura melihat jendela. Dia menatapku sepenuhnya, dengan ponsel yang masih digenggamnya, menanti resonansi yang selama ini hanya terjadi di balik layar, kini meledak di dunia nyata.
"Pak... Arka?" suaraku nyaris hilang.
Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mematikan layar ponselnya, meletakkannya kembali ke meja, dan melangkah satu tindak lebih dekat. "02:17," bisiknya. "Kau terlambat membalas, Rhea."
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!