Cangkir espresso di atas meja kerjaku sudah mendingin, meninggalkan lingkaran kecokelatan di permukaan marmer yang mahal. Aku menyandarkan punggung ke kursi kulit, memijat pangkal hidung yang berdenyut. Di luar dinding kaca kantorku, kubikel-kubikel tampak seperti labirin abu-abu yang menjemukan, namun mataku hanya tertuju pada satu titik: meja di sudut ruangan di mana Rhea Anindya sedang menatap layar monitornya dengan bahu yang tampak kaku.
Aku tahu persis mengapa bahunya sekaku itu. Aku juga tahu mengapa ia berkali-kali menguap sembari menutupi mulut dengan telapak tangan mungilnya. Itu karena akuβatau lebih tepatnya, karena 'X'. Tadi malam, atau sekitar empat jam yang lalu, kami masih terjaga di forum Nir-Tidur. Pukul 02:17 pagi, ia bercerita padaku tentang kecemasannya terhadap proyek 'Lumina' yang sedang ia kerjakan. Ia bicara tentang ketakutannya jika desainnya dianggap 'terlalu personal' dan tidak c**up komersial oleh CEO-nya yang 'berhati batu'.
Aku, sang CEO berhati batu itu, sekarang hanya bisa memperhatikannya dari balik kaca. Ada dorongan aneh untuk keluar dari ruangan ini, membawakannya segelas kopi yang layak, dan mengatakan bahwa desain yang ia kirimkan pukul tiga pagi tadi sebenarnya sangat indah. Namun, aku tidak bisa melakukannya.
"Mas Arka? Jadwal pertemuan dengan tim kreatif lima menit lagi."
Suara sekretarisku memutus lamunan itu. Aku berdeham, memperbaiki letak dasi, dan kembali mengenakan topeng dinginku. "Panggil mereka ke ruang rapat sekarang."
Lima menit kemudian, Rhea duduk di seberangku. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, kontras dengan kulit wajahnya yang pucat. Ia menghindari tatapanku, lebih memilih untuk sibuk dengan tablet grafisnya. Setiap kali aku memberikan ma**kan pada anggota tim yang lain, aku bisa melihat jari-jari Rhea mengetuk meja dengan ritme gelisah.
"Rhea," panggilku. Suaraku terdengar lebih berat dari biasanya.
Ia tersentak sedikit, lalu mendongak. Matanya yang jernih namun lelah bertemu dengan mataku. "I-iya, Pak Arka?"
"Konsep palet warna untuk Lumina. Mengapa kamu memilih gradasi ungu yang terkesan... melankolis ini?" Aku bertanya sembari menunjuk layar proyektor. Sebenarnya aku tahu jawabannya. Ia pernah mengatakannya di forum; bahwa ungu itu baginya seperti langit sesaat sebelum badai redaβsebuah simbol harapan yang rapuh.
Rhea berdehem, mencoba mengumpulkan kepercayaan dirinya. "Saya rasa, Pak, target pasar kita adalah orang-orang yang mencari ketenangan di tengah hiruk-pikuk kota. Warna ini memberikan kesan... kedamaian yang sunyi."
Aku menatap desain itu lama. Tanpa sadar, aku teringat kalimat yang ia tulis di layar ponselku beberapa jam lalu: *'Aku selalu ingin menciptakan sesuatu yang terasa seperti pelukan di malam yang dingin.'*
"Kedamaian yang sunyi?" aku mengulanginya dengan nada datar, pura-pura menimbang. "Atau ini hanya manifestasi dari kegemaranmu pada bunga Lavender di kebun belakang rumah nenekmu?"
Keheningan mendadak menyergap ruangan itu. Beberapa anggota tim kreatif saling lirik. Rhea membeku. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka namun tak ada suara yang keluar.
Jantungku mendadak berpacu liar. Sial. Bodoh.
Rhea tidak pernah menyebutkan soal kebun neneknya dalam rapat mana pun. Ia tidak pernah mencantumkan hal itu di portofolio atau CV-nya. Ia hanya menceritakan det**l kecil itu kepadaku semalam, di forum Nir-Tidur, saat ia merasa sangat rapuh dan rindu pada masa kecilnya.
"Dari mana... dari mana Pak Arka tahu soal kebun nenek saya?" Suara Rhea bergetar, nyaris berupa bisikan. Ia menatapku seolah aku adalah orang asing yang baru saja meretas isi kepalanya.
Aku merasakan keringat dingin mulai merambat di tengkuk. Aku harus memperbaiki ini. Sekarang. "Maksud saya..." aku berdeham keras, mencoba mencari alasan logis secepat kilat. "Saya pernah melihat unggahan lama di media sosialmu. Beberapa bulan yang lalu, saat saya melakukan peninjauan latar belakang tim. Ada foto bunga lavender dengan takarir tentang nenekmu. Saya punya ingatan fotografis yang kuat, Rhea. Kamu seharusnya tahu itu."
Kebohongan itu meluncur begitu saja. Aku tidak tahu apakah Rhea pernah mengunggah foto itu di Instagram atau tidak. Aku hanya berharap ia pernah melakukannya, atau setidaknya ia terlalu lelah untuk mengingat apa yang pernah ia unggah.
Rhea masih menatapku dengan saksama. Ketegangan di wajahnya belum sepenuhnya luruh. "Benarkah? Saya rasa saya sudah mengarsipkan foto itu bertahun-tahun yang lalu."
"Mungkin kamu lupa," potongku cepat, nada suaraku kembali meninggi dan otoriter untuk menutupi kepanikan. "Fokus kembali ke presentasi. Saya tidak peduli dari mana inspirasimu berasal, yang saya pedulikan adalah apakah klien akan menyukainya atau tidak. Gradasi ini terlalu lembut. Tambahkan sedikit kontras. Jangan biarkan desainmu terlihat seperti... seseorang yang sedang menyerah pada keadaan."
Rhea menunduk, tangannya meremas pena stylus dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Baik, Pak. Saya mengerti."
Rapat berlanjut, namun aku tidak bisa lagi berkonsentrasi. Aku merasa seperti pencuri yang baru saja nyaris tertangkap basah. Rasa bersalah menghantam dadaku berkali-kali. Aku melihat Rhea mulai mencoret-coret desainnya dengan kasar, sebuah tanda bahwa ia sedang kesalβatau mungkin sedang terluka oleh komentarku yang sengaja kubuat tajam untuk mengalihkan perhatian.
Setiap kali aku bertindak sebagai Arka yang menyebalkan, aku merasa sedang menghancurkan jembatan yang dengan susah payah dibangun oleh 'X' setiap malam. Aku takut jika suatu saat nanti, ketika identitasku terungkap, Rhea tidak akan melihat 'X' sebagai pelariannya lagi. Ia akan melihatnya sebagai pengkhianatan terbesar.
Bagaimana jika ia berhenti bicara padaku di pukul 02:17 pagi? Bagaimana jika forum itu, satu-satunya tempat di mana aku bisa menjadi manusia biasa tanpa beban jabatan, tiba-tiba menjadi medan perang?
Rapat berakhir satu jam kemudian. Semua orang bergegas keluar, terma**k Rhea yang hampir berlari meninggalkan ruangan. Ia bahkan tidak menoleh padaku saat melewati pintu.
Aku duduk sendirian di ruang rapat yang dingin itu, menatap layar proyektor yang masih menampilkan desain Rhea. Tanpa sadar, jemariku bergerak menyentuh layar ponsel di saku. Aku ingin mengirimkan pesan padanya sekarang juga. Bukan sebagai bosnya, tapi sebagai 'X'. Aku ingin bertanya apakah dia baik-baik saja.
Namun, aku tahu itu berbahaya. Jarak antara dunia nyata dan dunia anonim kami kini hanya setipis benang. Satu kesalahan lagi, satu det**l kecil yang keluar dari mulut Arka, maka 'X' akan mati selamanya bagi Rhea.
Ponselku bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar. Itu adalah pesan pribadi di forum Nir-Tidur.
*X, tadi bosku mengatakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang membuatku merasa diperhatikan dengan cara yang mengerikan. Aku merasa tidak aman lagi di kantor ini.*
Napas seolah berhenti di tenggorokanku. Aku menatap layar itu dengan tangan gemetar. Aku baru saja menjadi monster dalam cerita yang aku sendiri nikmati setiap malam. Dan yang lebih buruk, aku tidak tahu bagaimana cara meminta maaf tanpa kehilangan dirinya sepenuhnya.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!