Cahaya biru dari monitor adalah satu-satunya teman Rhea di lant** lima belas malam ini. Jam di sudut kanan bawah layar menunjukkan pukul 21:30, dan ia baru saja menyelesaikan revisi ke-14 untuk kampanye visual peluncuran properti terbaru. Ujung jemarinya terasa kebas setelah berjam-jam menggenggam *stylus pen*.
"Rhea."
Suara itu datar, namun c**up untuk membuat bahu Rhea menegang seketika. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di ambang pintu kubikelnya. Aroma parfum *woody* yang tajam dan dingin mendahului sosoknya. Arka Pradipta.
Arka melangkah mendekat, matanya memindai layar monitor Rhea tanpa ekspresi. "Warna biru di bagian *background* itu. Terlalu dominan. Kamu mengubur fokus utamanya."
Rhea menarik napas panjang, mencoba menelan kekesalannya. "Tapi Pak, Anda minta kesan 'mendalam' di revisi sebelumnya. Biru dongker ini memberikan kedalaman itu."
Arka sedikit membungkuk, tangannya bertumpu di pinggiran meja Rhea, membuatnya merasa terkurung. "Kedalaman tidak harus bising, Rhea. Kadang, keindahan justru ditemukan dalam apa yang tidak kita katakan atau tunjukkan secara gamblang. *Kurangi kebisingannya, cari esensinya.*"
Pria itu berbalik dan melenggang pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Rhea yang terpaku. *Kurangi kebisingannya, cari esensinya.* Kalimat itu terasa familier, berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Rhea menggerutu pelan, mematikan komputernya dengan kasar. Bosnya itu memang ahli dalam memberikan instruksi filosofis yang abstrak sekaligus menyebalkan.
***
Pukul 02:17.
Rhea meringkuk di sofa apartemennya yang remang-remang, dibalut selimut rajut yang mulai menipis. Ponselnya bergetar di atas dada. Sebuah notifikasi dari forum 'Nir-Tidur' muncul.
**X: Kamu masih terjaga?**
Rhea tersenyum kecil. Ketegangan yang tadi membelenggu lehernya perlahan mengendur. Hanya dengan X, ia merasa tidak perlu menjadi desainer yang sempurna.
**Rhea: Baru saja ingin menyerah pada kantuk. Hari ini melelahkan sekali. Bosku kembali beraksi dengan teka-teki visualnya yang mustahil.**
**X: Si Tiran itu lagi? Apa yang dia katakan kali ini?**
Rhea mengetik dengan cepat, meluapkan seluruh emosi yang ia pendam di kantor.
**Rhea: Dia bilang desainku 'terlalu bising'. Katanya aku harus mencari esensi dengan cara membuang hal-hal yang tidak perlu. Dia bicara seolah-olah dia seorang filsuf, padahal dia hanya pria kaku yang tidak punya kehidupan sosial.**
Ada jeda beberapa menit sebelum X membalas. Rhea menatap layar, menunggu gelembung sapaan itu muncul.
**X: Mungkin dia tidak bermaksud buruk. Kadang, orang menggunakan kata-kata yang rumit untuk menyembunyikan ketidakmampuan mereka mengekspresikan kekaguman. Keindahan memang seringkali ditemukan dalam apa yang tidak kita katakan, bukan?**
Darah Rhea seolah berhenti mengalir. Ia membaca kalimat terakhir itu berulang kali. *Keindahan seringkali ditemukan dalam apa yang tidak kita katakan.*
Jantungnya mulai berdegup kencang, sebuah ritme yang tidak menyenangkan. Kalimat itu bukan sekadar mirip; itu adalah resonansi yang hampir identik dengan apa yang diucapkan Arka beberapa jam lalu. Ia teringat bagaimana Arka menekankan kata 'esensi' dan 'kebisingan'.
*Tidak, itu tidak mungkin,* batinnya menolak keras. Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran g*** yang mulai merayap. Arka adalah pria yang menuntut efisiensi di atas segalanya, sementara X adalah sosok yang sabar mendengarkan keluh kesahnya tentang kegagalan-kegagalannya yang paling memalukan. Arka adalah es kutub, sementara X adalah perapian di musim dingin.
**Rhea: Itu kalimat yang sangat spesifik, X. Kamu terdengar seperti seseorang yang baru saja menceramahiku di kantor tadi.**
**X: Benarkah? Mungkin itu hanya pemikiran universal para perfeksionis. Aku hanya mencoba melihat dari sudut pandang lain.**
Rhea menyipitkan mata. Ia mulai memperhatikan pola penulisan X. Penggunaan tanda baca yang rapi, tidak ada singkatan yang tidak perlu, dan cara pria itu membangun struktur argumennya. Ada ketenangan yang otoriter di balik setiap kalimatnya. Sesuatu yang selama ini Rhea anggap sebagai 'kedewasaan' di forum anonim ini, tiba-tiba terasa seperti 'instruksi' jika ia membacanya dengan suara Arka di kepalanya.
Rhea melempar ponselnya ke ujung sofa. Ia merasa mual. Bayangan Arka yang duduk di balik meja mahagoninya, mengetik kata-kata manis kepadanya sambil tersenyum sinis, mulai menghantuinya. Namun, sisi lain dari dirinya memberontak. X pernah menceritakan tentang ketakutannya akan kesepian. X pernah mengirimkannya puisi pendek saat Rhea menangis karena kehilangan kucing peliharaannya tahun lalu.
Arka Pradipta tidak mungkin punya hati untuk melakukan itu semua. Arka tidak mungkin tahu cara menghibur orang lain ketika ia sendiri adalah sumber utama kesedihan Rhea setiap hari Senin sampai Jumat.
Rhea memungut kembali ponselnya. Jarinya gemetar saat ia mengetik pertanyaan yang selama ini menjadi aturan yang tidak tertulis di antara mereka.
**Rhea: X, boleh aku bertanya satu hal? Ini di luar kesepakatan kita untuk tetap anonim, tapi aku butuh kepastian.**
**X: Apa itu?**
**Rhea: Apakah kamu bekerja di bidang kreatif? Atau mungkin... apakah kamu mengenal seseorang bernama Arka?**
Hening. Satu menit berlalu. Lima menit. Status 'Online' di bawah inisial X menghilang. Rhea menahan napas, menatap layar yang kini hanya memantulkan wajahnya yang pucat dan penuh kecemasan.
Biasanya, X akan langsung membalas, atau setidaknya memberikan tanda bahwa ia masih di sana. Keheningan ini terasa seperti pengakuan yang tidak terucap. Ketakutan Rhea mulai berubah menjadi keyakinan yang mengerikan. Jika benar X adalah Arka, maka setiap rahasia, setiap kelemahan, dan setiap makian yang Rhea tujukan untuk bosnya selama ini telah dibaca langsung oleh orang yang bersangkutan.
Ponselnya bergetar kembali. Bukan pesan dari Nir-Tidur, melainkan sebuah email ma**k ke akun kantornya.
Dari: Arka Pradipta
Subjek: File Referensi Tambahan
*Rhea, saya lupa mengirimkan ini tadi. Lihat bagian komposisi di halaman 4. Seperti yang saya katakan, cari esensinya. Sampai bertemu besok jam 8 tepat.*
Rhea membuka lampiran itu dengan tangan dingin. Di halaman 4, terdapat sebuah kutipan dari seorang arsitek terkenal yang pernah dibahas X di forum Nir-Tidur tiga bulan lalu. Kutipan yang sama persis, dengan catatan kaki yang ditulis manual: *"Keindahan adalah keheningan yang terorganisir."*
Rhea melepaskan ponselnya hingga jatuh ke lant** kayu. Rasa dingin merambat dari telapak kakinya hingga ke dada. Dunia yang ia bangun sebagai pelarian di pukul 02:17 kini terasa seperti jebakan yang dirancang dengan sangat rapi. Ia ingin percaya ini hanya kebetulan, namun instingnya berteriak sebaliknya.
"Siapa kamu sebenarnya?" bisiknya pada kegelapan kamar, sementara di layar ponsel yang tergeletak di lant**, sebuah pesan baru dari X ma**k, namun Rhea terlalu takut untuk membacanya.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!