Cahaya biru dari layar ponsel memantul di kornea mata Arka, menciptakan bayangan tajam di tulang pipinya yang tirus. Jarum jam di dinding apartemennya yang minimalis bergerak malas, namun angka digital di sudut kanan atas ponselnya menunjukkan angka yang sakral: 02:17.
Biasanya, pada detik ini, detak jantung Arka akan sedikit melambat. Ada ketenangan yang aneh setiap kali ia mengetikkan sapaan untuk 'R' di forum Nir-Tidur. Namun malam ini, jempolnya kaku di atas papan ketik virtual. Ia mengetik satu kata, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, lalu menutup paksa aplikasi itu.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja yang empuk, menatap langit-langit langit apartemennya yang tinggi. Bayangan Rhea di kantor tadi siang terus menghantuinya. Gadis itu terlihat pucat, lingkaran hitam di bawah matanya semakin kontras dengan kulitnya yang putih. Rhea sempat menjatuhkan tumpukan kertas saat berpapasan dengannya di lorong, dan bukannya marah, Arka justru merasakan sesak yang asing di dadanya saat melihat tangan Rhea bergetar ketika memunguti kertas-kertas itu.
"Aku yang melakukan itu padanya," gumam Arka pada keheningan ruangan.
Di dunia nyata, ia adalah monster yang merampas waktu istirahat Rhea dengan revisi-revisi yang sebenarnya bisa menunggu besok. Namun di dunia ini, di balik inisial 'X', ia adalah satu-satunya orang yang mendengarkan keluh kesahnya. Ia memberikan obat pada luka yang ia buat sendiri. Kemunafikan itu mulai terasa seperti racun yang menggerogoti nuraninya.
Ponselnya bergetar di atas meja kayu. Sebuah notifikasi muncul.
*R: X? Kamu sudah bangun?*
Arka menarik napas panjang, paru-parunya terasa sempit. Ia tidak membalas. Ia hanya menatap layar itu, membiarkan statusnya tetap terlihat *offline*, meski ia tahu Rhea mungkin sedang menunggu dengan penuh harap di seberang sana.
*R: Aku hari ini lelah sekali. CEO-ku itu... dia sepertinya punya hobi baru: melihatku menderita. Dia menolak desain katalog hanya karena gradasi warnanya dianggap 'kurang berjiwa'. Apa dia bahkan punya jiwa?*
Arka memejamkan mata. Kata-kata itu menghujamnya tepat di ulu hati. Ia ingin membalas, ingin membela diri dengan mengatakan bahwa ia melakukannya agar Rhea mencapai standar terbaiknya. Namun, ia sadar itu hanya pembelaan egois. Ia ingin membalas sebagai 'X', memberikan kata-kata penenang, namun ia merasa tak lagi pantas. Setiap kata manis yang ia berikan sebagai 'X' terasa seperti pengkhianatan yang lebih besar.
Sepuluh menit berlalu tanpa jawaban darinya. Notifikasi baru muncul lagi.
*R: X? Apa aku melakukan kesalahan? Maaf kalau aku terlalu banyak mengeluh malam ini.*
Arka mencengkeram pinggiran meja. Ia bisa membayangkan ekspresi Rhea saat iniβmungkin dia sedang duduk meringkuk di kursi kerjanya yang kecil, menggigit bibir bawahnya, merasa cemas jika satu-satunya teman bicaranya mulai bosan.
*R: Aku butuh kamu malam ini, X. Hanya lima menit saja. Tolong.*
Keheningan malam itu terasa semakin menindih. Arka merasa seperti sedang menonton seseorang tenggelam, dan meskipun ia memegang pelampung, ia memilih untuk menyembunyikannya di balik punggung. Ia harus menjauh. Jika ia terus menjadi 'X', ia hanya akan memperumit segalanya. Ia harus membiarkan Rhea membencinya sepenuhnya di kantor, tanpa memberi ruang bagi kenyamanan palsu di forum ini. Dengan begitu, suatu saat ketika kebenaran ini terungkap, lukanya tidak akan terlalu dalam. Atau begitulah pikirnya.
Ia memutuskan untuk melempar ponselnya ke atas ranjang, menjauh sejauh mungkin dari jangkauan tangannya. Ia berjalan menuju jendela besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu Jakarta. Kota ini tidak pernah tidur, sama seperti rasa bersalahnya yang kini terjaga sepenuhnya.
Namun, rasa penasaranβatau mungkin bentuk lain dari obsesiβmembuatnya kembali melangkah ke ranjang. Ia meraih ponselnya lagi, hanya untuk melihat rentetan pesan yang membuat jantungnya mencelos.
*R: Apa kamu juga mau pergi?*
*R: Seperti orang-orang lain?*
*R: Maaf. Aku tahu aku membosankan. Aku hanya... aku merasa sangat sendirian kalau kamu tidak ada.*
Tangan Arka gemetar. Ia belum pernah melihat Rhea se-vulnerable ini. Di kantor, Rhea selalu berusaha tegak, meskipun bahunya layu. Di forum ini, Rhea adalah versi dirinya yang paling murni, dan Arka sedang menghancurkannya perlahan-lahan dengan kebisuannya.
Ia hampir saja mengetikkan balasan, jempolnya sudah menyentuh layar, saat sebuah pangg***n ma**k memutus koneksi internetnya. Itu dari asisten pribadinya, mengabarkan bahwa ada masalah produksi untuk kampanye besar besok pagiβkampanye yang desainnya dikerjakan oleh Rhea.
Arka tidak mengangkat telepon itu. Ia kembali menatap kolom percakapan dengan 'R'. Ia harus berhenti sekarang, atau ia tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari labirin yang ia buat sendiri. Dengan berat hati, Arka menekan tombol log out. Ia menghapus aplikasi Nir-Tidur dari layar utamanya, meski ia tahu ia tidak akan bisa menghapus bayangan Rhea dari pikirannya.
Pagi harinya di kantor, suasana terasa lebih dingin dari biasanya. Arka berjalan melewati kubikel tim kreatif dengan langkah tegas, namun matanya secara naluriah mencari sosok Rhea.
Gadis itu ada di sana, duduk mematung di depan monitornya yang gelap. Ia tidak sedang bekerja. Kedua tangannya menggenggam mug kopi yang sudah dingin, dan matanya merah, bengkak seperti seseorang yang baru saja menghabiskan sisa malam dengan tangisan yang tak kunjung usai.
Rhea mendongak saat merasakan kehadiran Arka. Biasanya, ada kilat perlawanan atau setidaknya rasa kesal di mata itu. Namun pagi ini, mata Rhea kosong. Ia menatap Arka seolah-olah pria itu adalah orang asing yang paling jauh, atau mungkin, sumber dari segala kehampaan yang ia rasakan.
"Pak Arka," suaranya serak, nyaris berbisik.
Arka berhenti tepat di samping meja Rhea. Ia ingin bertanya apakah dia baik-baik saja. Ia ingin meminta maaf. Namun yang keluar dari mulutnya justru, "Desain revisi itu, kenapa belum ada di meja saya?"
Rhea tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Arka dengan tatapan yang membuat Arka ingin lari dari sana. "Saya akan menyelesaikannya, Pak. Saya hanya... kehilangan sesuatu yang penting semalam."
Arka menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti disumbat duri. Ia tahu persis apa yang hilang dari Rhea. Ia adalah pencuri itu.
"Pastikan selesai sebelum makan siang," ujar Arka dingin, lalu melangkah pergi menuju ruangannya sendiri.
Saat pintu kaca ruangannya tertutup, Arka menyandarkan dahi ke pintu. Ia mendengar suara isak tangis tertahan dari arah luar, sangat tipis, namun di telinga Arka, suara itu terdengar seperti ledakan yang meruntuhkan benteng pertahanannya.
Ia baru saja menyadari satu hal: dengan mencoba menyelamatkan Rhea dari kebohongan, ia justru memberikan luka yang jauh lebih mematikan. Dan yang lebih menakutkan adalah, ia tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya tanpa menghancurkan dirinya sendiri.
Tiba-tiba, ponsel di saku jasnya bergetar. Bukan notifikasi forum, melainkan sebuah email ma**k dari alamat pribadi Rhea Anindya. Subjeknya singkat: *Surat Resign.*
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!