Udara di lant** dua puluh empat malam ini terasa jauh lebih dingin dari biasanya, seolah-olah mesin pendingin ruangan sengaja dikerahkan untuk membekukan sisa-sisa semangat yang kumiliki. Jam dinding di atas meja resepsionis menunjukkan pukul 19:45. Sebagian besar lampu sudah dipadamkan, menyisakan pendar putih dari kubikelku dan cahaya remang dari ruang kerja CEO yang pintunya sedikit terbuka.
Tanganku masih lincah menggerakkan tetikus, menggeser kurva pada logo yang sudah kukerjakan selama enam jam terakhir. Revisi keenam belas. Arka ingin "sedikit lebih berani tapi tetap elegan," sebuah instruksi abstrak yang membuatku ingin melemparkan layar monitor ke arahnya.
"Rhea, file mentah untuk kampanye *reb**nding* itu ada di laptop saya," suara berat Arka memecah keheningan. Ia muncul dari balik pintunya, mengenakan jas yang sudah ia tanggalkan, menyisakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku. Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya tetap tajam, tanpa ampun. "Saya harus ke lobi sebentar untuk menerima dokumen dari kurir legal. Ma**k saja, cari di folder 'Final Assets'. Jangan sentuh yang lain."
Aku mengangguk kaku tanpa menoleh. "Baik, Pak."
Begitu langkah kakinya menjauh dan suara denting lift terdengar, aku menghela napas panjang. Aku bangkit, merapikan rok span hitamku yang terasa menyesakkan, lalu melangkah ragu menuju ruangannya. Ini pertama kalinya aku diizinkan ma**k ke wilayah pribadinya tanpa pengawasan.
Ruangan Arka berbau seperti campuran kopi hitam dan aroma kayu cendana yang mahal. Sangat rapi, hampir terlihat seperti museum yang tidak boleh disentuh. Laptop peraknya tergeletak terbuka di atas meja jati yang luas. Aku segera duduk di kursinyaβyang anehnya terasa terlalu besar untuk tubuhkuβdan mulai mencari folder yang ia maksud.
Namun, saat aku menggerakkan *trackpad*, layar itu tidak menampilkan folder kerja. Alih-alih dokumen desain, sebuah jendela peramban terbuka di sana. Jantungku berdetak satu kali lebih lambat saat melihat desain antarmuka yang sangat kukenali.
Latar belakang hitam legam, tipografi putih minimalis, dan logo bulan sabit kecil di sudut kiri atas.
'Nir-Tidur'.
Napas tercekik di tenggorokanku. Itu adalah forum anonim tempatku melarikan diri setiap malam. Tempat di mana aku menemukan 'X'. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa mungkin Arka hanya sedang memantau tren media sosial, atau mungkin ia sedang melakukan riset pasar. Tapi tanganku seolah memiliki nyawanya sendiri. Aku menggulir layar itu ke bawah.
Di sudut kanan atas, tertera nama pengguna yang sedang aktif. Sebuah inisial tunggal yang selama ini menjadi satu-satunya alasanku untuk tetap waras di bawah tekanan kantor ini.
**X**.
Duniaku mendadak hening. Suara detak jam di dinding seolah menghilang, digantikan oleh suara dentum jantung yang bertalu-talu di telingaku. Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran g*** yang mulai merayap. Tidak mungkin. Arka yang kaku, Arka yang dingin, Arka yang menyebut desainku "sampah emosional" pagi tadi, tidak mungkin adalah X yang lembut dan penuh empati.
Aku mengklik ikon pesan ma**k. Jariku gemetar hebat.
Di sana, di baris teratas, ada percakapan dengan pengguna bernama 'R'. Itu aku.
Aku membaca baris demi baris pesan yang kami kirimkan tadi pagi, tepat pukul 02:17.
*R: "Bosku hari ini benar-benar keterlaluan. Dia membuatku merasa tidak berharga hanya karena pemilihan palet warna yang menurutnya 'terlalu melankolis'."*
*X: "Jangan biarkan standarnya yang sempit menentukan nilaimu, R. Kamu punya mata yang bisa melihat keindahan di tempat yang tidak bisa dijangkau orang lain. Besok akan lebih baik, aku janji."*
Air mata yang entah sejak kapan menggenang, kini jatuh membasahi punggung tanganku. Kalimat itu. Kalimat yang membuatku mampu bangun pagi ini dan menghadapi wajah Arka dengan senyum palsu. Ternyata, pria yang menghancurkanku di siang hari adalah pria yang menjahit luka-lukaku di malam hari.
Rasa mual mulai naik ke dadaku. Ini bukan sekadar kejutan; ini adalah pengkhianatan dalam bentuk yang paling murni. Arka tahu. Selama ini dia tahu bahwa 'R' adalah aku. Dia melihatku menangis di kantor, lalu dia pulang dan mengetik kata-kata manis untuk menghiburku secara anonim. Apakah ini sebuah eksperimen? Apakah dia sedang menertawakanku dari balik layar?
Aku terus menggulir ke atas, ke percakapan-percakapan lama kami. Di sana, aku menceritakan ketakutan terbesarku, rahasia tentang kegagalanku di masa lalu, bahkan tentang betapa aku membenci "CEO-ku yang g*** kerja."
Dia membaca semuanya. Dia mengonsumsi kerentananku seolah itu adalah hiburan larut malam.
"Rhea?"
Suara itu membuatku terlonjak hingga kursi yang kududuki bergeser ke belakang dengan bunyi mencicit yang memilukan. Aku berdiri dengan tergesa, menab**k pinggiran meja. Arka berdiri di ambang pintu. Ekspresi wajahnya yang biasanya datar kini berubah. Matanya melirik ke arah layar laptop, lalu kembali ke wajahku yang sembap dan pucat.
Keheningan yang mengikuti terasa mencekik. Arka tidak bergerak. Ia tidak mencoba menjelaskan, tidak juga mencoba menutup laptopnya. Ia hanya berdiri di sana, melihatku seolah-olah aku adalah sebuah karya seni yang baru saja hancur berantakan.
"Sudah berapa lama, Pak?" suaraku keluar seperti bisikan parau. Aku bahkan tidak mengenali suaraku sendiri.
Arka menarik napas panjang, bahunya yang tegap tampak sedikit merosot. "Rhea, saya bisa jelaskanβ"
"Sudah berapa lama Anda menertawakan saya?" potongku, kali ini lebih keras. "Setiap kali saya berdiri di depan meja ini untuk dipuji atau dimaki, apakah Anda sedang membayangkan pesan-pesan cengeng yang saya kirimkan pada pukul dua pagi? Apakah Anda merasa menang karena tahu segalanya tentang saya, sementara saya tidak tahu apa-apa tentang Anda?"
Arka melangkah maju, tapi aku segera mundur, menjauh darinya seolah ia adalah api yang siap menghanguskanku. "Bukan begitu," katanya pelan, suaranya kini terdengar seperti 'X', dan itu membuatku semakin muak. "Awalnya saya tidak tahu. Tapi saat Anda menceritakan insiden kopi di pantry minggu lalu, saya sadar. Saya ingin memberitahu Anda, tapi..."
"Tapi apa? Anda menikmati pertunjukannya?" Aku menyambar tas kerjaku dengan kasar. "Anda adalah monster, Pak Arka. Anda mencuri satu-satunya tempat di mana saya merasa aman."
"Rhea, tunggu!"
Aku tidak menoleh. Aku berlari keluar dari ruangannya, melewati kubikel-kubikel kosong yang kini terasa seperti penjara. Di dalam lift, aku menekan tombol lobi berulang kali, seolah-olah kecepatan lift bisa membantuku lari dari kenyataan pahit yang baru saja menghantamku.
Saat pintu lift tertutup, aku melihat bayangan diriku di dinding besi yang mengkilap. Aku terlihat hancur. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua ini bukanlah kenyataan bahwa Arka adalah X.
Yang paling menyakitkan adalah, bahkan di saat aku sangat membencinya seperti ini, sebagian kecil dari hatiku masih merindukan kata-kata penenang yang biasanya ia kirimkan tepat pada pukul 02:17. Dan mulai detik ini, tempat perlindungan itu telah musnah.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!