Udara di ruangan Arka terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan Rhea karena tangannya yang membeku. Ia berdiri di depan meja kerja jati yang luas itu, matanya terpaku pada layar ponsel yang ia letakkan dengan kasar di atas tumpukan dokumen revisi. Di layar itu, sebuah percakapan singkat di forum Nir-Tidur terpampang jelas—kalimat terakhir dari 'X' yang baru saja ia baca sepuluh menit lalu, bertepatan dengan notifikasi yang muncul di iPad Arka yang terbuka saat pria itu pergi mengambil kopi.
Arka ma**k kembali ke ruangannya, membawa aroma kopi hitam yang pekat. Langkahnya terhenti saat melihat Rhea tidak lagi berdiri di depan papan presentasi, melainkan di balik mejanya, menatapnya dengan pandangan yang sanggup melubangi dinding beton.
"Rhea? Ada masalah dengan revisi logonya?" Arka bertanya, suaranya tenang, masih dengan nada otoriter yang biasa ia gunakan.
Rhea tidak menjawab. Ia hanya menggeser ponselnya perlahan ke arah Arka. Jari-jarinya gemetar, meremas pinggiran meja kayu itu hingga buku-bukunya memutih.
Arka melirik ke bawah. Ekspresi tenangnya pecah dalam hitungan detik. Garis rahangnya mengeras, dan sorot matanya yang tajam seketika meredup, digantikan oleh kilat kepanikan yang jarang ia tunjukkan. Keheningan di antara mereka menjadi begitu pekat, seolah-olah oksigen di ruangan itu baru saja disedot habis.
"02:17," bisik Rhea. Suaranya serak, nyaris tak terdengar namun penuh dengan racun. "Angka yang aku kira adalah tempat perlindungan. Angka yang aku pikir adalah satu-satunya saat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa takut dihakimi."
Arka meletakkan cangkir kopinya ke meja dengan bunyi denting yang m****akkan telinga. "Rhea, biarkan aku menjelaskan—"
"Menjelaskan apa?" potong Rhea cepat. Ia melangkah maju, menepis jarak profesional yang selama ini mereka jaga. "Menjelaskan bagaimana lucunya melihatku menangis lewat pesan teks tentang betapa kejamnya bosku, sementara bos yang dimaksud sedang duduk di seberang layar sambil tersenyum? Menjelaskan betapa menyenangkannya melakukan eksperimen sosial pada karyawannya sendiri?"
"Ini bukan eksperimen!" suara Arka naik satu oktav, ada nada frustrasi yang tertahan di sana. "Aku baru menyadarinya beberapa minggu lalu. Aku ingin memberitahumu, tapi situasinya—"
"Situasinya menguntungkanmu, kan?" Rhea tertawa sumbang, sebuah tawa yang lebih terdengar seperti isakan. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, panas dan menyakitkan. "Kamu membiarkanku menelanjangi jiwaku padamu. Aku menceritakan ketakutanku, kegagalanku, bahkan rahasia tentang ibuku yang tidak pernah kukatakan pada siapapun. Dan sepanjang waktu itu, di jam kerja, kamu memperlakukanku seperti sampah. Kamu memberiku revisi yang tidak ma**k akal, membuatku lembur sampai pagi, hanya untuk kemudian menanyaiku di forum itu, 'Bagaimana harimu hari ini, Rhea?'"
Arka mencoba meraih lengan Rhea, namun perempuan itu menyentak mundur seolah baru saja menyentuh bara api.
"Rhea, dengar. X adalah sisi diriku yang tidak bisa kutunjukkan di kantor ini. Saat aku berbicara denganmu di Nir-Tidur, aku bukan CEO-mu. Aku hanya pria yang merasa... terhubung denganmu."
"Terhubung?" Rhea mengulang kata itu dengan jijik. "Kamu tidak terhubung denganku, Arka. Kamu memanipulasiku. Kamu memegang semua kartu. Kamu tahu segalanya tentangku, sementara aku hanya mengenal bayangan yang kamu ciptakan. Kamu membiarkan aku merasa memiliki 'rumah' di dunia maya, padahal sebenarnya aku sedang menyerahkan leherku pada orang yang paling ingin kuhindari di dunia nyata."
Wajah Arka memucat. Ia berdiri mematung, melihat Rhea yang kini terengah-engah karena emosi yang meluap. Di mata Rhea, ia tidak lagi melihat desainer grafis yang patuh atau rekan bicara yang hangat di malam hari. Ia melihat seseorang yang baru saja kehilangan rasa amannya.
"Apakah ini caramu merasa berkuasa?" tanya Rhea lagi, suaranya kini merendah, dingin dan tajam. "Melihatku hancur di siang hari, lalu berpura-pura mengobati lukaku di malam hari? Kamu jahat, Arka. Kamu lebih buruk dari sekadar bos yang perfeksionis. Kamu pencuri privasi."
"Aku tidak pernah berniat menyakitimu," Arka berbisik, matanya menyiratkan luka yang dalam, namun Rhea terlalu terluka untuk peduli. "Setiap kata yang kukatakan sebagai X... itu nyata. Aku mengagumimu, Rhea. Lebih dari yang kau tahu."
Rhea menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Ia mengambil ponselnya, mematikan layarnya dengan gerakan final. Ia menatap Arka untuk terakhir kalinya dalam babak ini—bukan sebagai bawahan kepada atasan, tapi sebagai manusia yang telah dikhianati secara total.
"Kekagumanmu itu menjijikkan," ucap Rhea datar. "Mulai detik ini, jangan pernah menyapaku sebagai X. Dan jangan harap aku akan tetap tinggal di sini hanya untuk menjadi bahan tontonanmu lagi."
Rhea berbalik, melangkah menuju pintu dengan punggung tegak meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Namun, tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara Arka menghentikannya.
"Kalau kau pergi sekarang, kau membuktikan bahwa semua yang kau katakan tentang keberanian di forum itu hanya omong kosong, Rhea. Kau bilang kau tidak akan lari lagi dari masalahmu."
Rhea berhenti. Bahunya gemetar. Ia tidak menoleh saat menjawab, "Masalahku adalah kamu, Arka. Dan lari dari racun bukanlah kepengecutan. Itu adalah cara untuk bertahan hidup."
Ia membuka pintu dan keluar, meninggalkan Arka dalam keheningan ruangannya yang mewah namun terasa seperti penjara. Rhea terus berjalan melewati meja rekan-rekannya yang menatap heran, menuju lift. Saat pintu lift tertutup, ponsel di saku celananya bergetar.
Satu notifikasi muncul. Bukan dari forum Nir-Tidur, tapi sebuah email resmi perusahaan dari akun pribadi Arka dengan subjek yang membuat jantungnya berhenti berdetak: *“Tentang proyek b**nding terakhir dan alasan mengapa aku tidak bisa membiarkanmu pergi.”*
Rhea menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap, menyadari bahwa konfrontasi ini bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah jeratan yang jauh lebih rumit.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!