Kertas putih di atas meja m***ni itu terasa lebih berat daripada tumpukan laporan keuangan kuartal terakhir. Di sana, tertulis nama Rhea Anindya dengan tanda tangan yang tarikannya terlihat tegas, seolah tidak ada keraguan sedikit pun saat pulpennya menggores kertas. Surat pengunduran diri. Singkat, padat, dan mematikan.
Aku meremas pinggiran meja hingga buku-buku jariku memutih. Rasa sesak yang aneh menghimpit dadaku, jauh lebih menyakitkan daripada saat aku kehilangan tender bernilai miliaran rupiah. Aku bukan hanya kehilangan desainer terbaikku; aku kehilangan satu-satunya orang yang mengenalku tanpa topeng.
"Rhea, tunggu!"
Aku setengah berlari keluar dari ruangan, mengabaikan tatapan bingung sekretarisku. Aku menemukannya di depan lift, sedang memeluk sebuah kardus kecil berisi barang-barang pribadinya—beberapa penggaris, tanaman kaktus kecil yang layu, dan tablet grafis yang permukaannya sudah lecet. Wajahnya pucat, matanya sembap, tapi sorot matanya yang biasanya hangat kini sedingin es di kutub.
"Rhea, tolong beri aku waktu lima menit. Kita perlu bicara," ucapku, napas kuseret satu-satu.
Ia tidak menoleh. Fokusnya tertuju pada angka digital di atas pintu lift yang bergerak turun perlahan. "Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Pak Arka. Semuanya sudah jelas di surat itu. Saya berhenti hari ini juga. Sesuai kontrak, saya bersedia membayar denda penalti karena tidak memberikan *one month notice*."
Suaranya datar. Tidak ada lagi nada kesal yang biasanya ia tunjukkan saat aku memberikan revisi jam satu pagi. Yang ada hanyalah kekosongan yang mengerikan.
"Ini bukan soal kontrak, Rhea! Ini soal... X," bisikku, merendahkan suara agar tidak menjadi tontonan staf lain yang mulai berbisik-bisik di kejauhan.
Mendengar inisial itu, bahu Rhea sedikit gemetar. Ia akhirnya menoleh, menatapku dengan tatapan yang membuat jantungku seolah diremas. "Jangan sebut nama itu. Kamu tidak berhak."
"Aku tetap menjadi X karena aku takut," kataku cepat, mencoba menahan pintu lift yang terbuka agar ia tidak ma**k. "Aku pengecut, Rhea. Di kantor ini, aku harus menjadi Arka yang sempurna, yang perfeksionis, yang ditakuti semua orang agar perusahaan ini tetap berdiri. Tapi di pukul 02:17 pagi, di forum itu, aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku menemukanmu, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa tidak sendirian."
Rhea tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar lebih seperti rintihan. "Jadi itu alasannya? Kamu menggunakanku sebagai tempat sampah emosionalmu di malam hari, lalu menyiksaku dengan revisi tidak ma**k akal di siang hari? Kamu tahu betapa aku memercayai X? Dia adalah satu-satunya pelarianku, Arka! Saat aku ingin menyerah menghadapi bos yang kejam sepertimu, aku bicara pada X. Dan ternyata... X adalah i**** yang sama."
"Aku tidak bermaksud mempermainkanmu," sanggahku, tanganku terulur ingin menyentuh lengannya, tapi ia menarik diri dengan jijik. "Awalnya aku tidak tahu itu kamu. Tapi saat aku menyadarinya, aku justru semakin tidak sanggup melepaskan komunikasi itu. Aku melihat sisi dirimu yang tidak pernah kau tunjukkan di kantor—kerapuhanmu, mimpimu. Aku jatuh cinta pada kejujuranmu, Rhea. Sesuatu yang tidak pernah kutemukan di dunia nyataku."
"Cinta tidak dibangun di atas kebohongan, Arka," ucapnya tajam. "Kamu punya seribu kesempatan untuk jujur. Saat kita membahas desain di ruanganmu, saat kita makan malam lembur... tapi kamu memilih untuk terus memakai topeng. Kamu menikmati melihatku menderita, kan? Mengetahui bahwa desainer bodoh ini sedang curhat pada bosnya sendiri tanpa dia sadari?"
"Tidak, demi Tuhan, bukan begitu!"
Ting. Pintu lift terbuka lebar. Rhea melangkah ma**k dengan mantap. Aku ikut ma**k, menghalangi sensor pintu agar tidak tertutup.
"Rhea, aku mohon. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki ini. Aku akan berubah. Aku tidak akan memaksamu bekerja seperti dulu lagi. Aku hanya ingin kita tetap..."
"Tetap apa?" Rhea memotong, matanya kini berkaca-kaca. "Tetap menjadi teman anonim di pukul 02:17? Maaf, Arka. Resonansi itu sudah mati. Detik saat aku tahu siapa kamu, 'X' berhenti ada. Bagiku, dia sudah mati."
Rhea menekan tombol lobi dengan kasar. Ia menatapku langsung ke mata, dan untuk pertama kalinya, aku melihat batas yang ia bangun begitu kokoh—sesuatu yang selama ini gagal ia lakukan sebagai karyawan, kini ia lakukan sebagai wanita yang terluka.
"Jangan hubungi saya lagi. Jangan cari saya. Saya sudah menghapus akun Nir-Tidur saya. Saya juga sudah memblokir nomormu," katanya pelan namun penuh penekanan.
"Rhea..."
"Keluar dari lift ini, Pak Arka. Atau saya akan berteriak."
Aku terpaku. Keangkuhanku sebagai CEO luruh seketika di hadapan kerapuhan yang menjelma menjadi kekuatan itu. Dengan berat hati, aku melangkah mundur keluar dari lift. Pintu perak itu perlahan tertutup, memisahkan kami. Hal terakhir yang kulihat adalah air mata yang akhirnya jatuh di pipinya sebelum sosoknya hilang ditelan pintu yang rapat.
Aku berdiri mematung di koridor yang dingin. Suasana kantor mendadak terasa begitu sunyi, meski mesin fotokopi masih menderu dan orang-orang masih berlalu-lalang. Aku merogoh ponsel di saku celanaku, membuka aplikasi forum Nir-Tidur secara refleks.
Kosong.
Profil dengan inisial 'R' yang biasa menghiasi beranda pesanku kini bertuliskan *'User Not Found'*. Aku mencoba mengirimkan satu pesan terakhir, sebuah pengakuan yang mungkin tidak akan pernah sampai.
*Aku masih di sini, Rhea. Masih menunggu pukul 02:17.*
Pesan itu gagal terkirim. Tanda seru merah muncul di samping teks tersebut, seolah mengejek usahaku yang sia-sia. Aku mendongak, menatap jam dinding besar di lobi. Masih siang hari, namun aku merasa kegelapan sudah mengepungku.
Saat itulah, ponselku bergetar. Bukan pesan dari Rhea, melainkan sebuah notifikasi dari tim legal perusahaan.
*“Pak Arka, ada masalah. Rhea Anindya tidak hanya mengundurkan diri. Dia membawa seluruh data cadangan proyek 'Resonansi' dan menghapus file utamanya di server kantor. Kita dalam masalah besar untuk presentasi besok pagi.”*
Aku tertegun. Rhea yang kukenal—Rhea yang penuh empati—tidak mungkin melakukan sabotase. Namun, saat aku menatap kursi kosong di meja divisinya dari kejauhan, aku sadar satu hal: aku telah mendorong seorang malaikat hingga ia tidak punya pilihan selain membakar jembatan yang ia lalui. Dan sekarang, aku terperangkap di sisi yang salah, sendirian dalam api yang kubuat sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!