Cangkir kopi di atas meja kerja Rhea sudah lama mendingin, meninggalkan lingkaran kecokelatan yang mengering di atas tatakan kayu. Biasanya, pada jam seperti ini, layar monitornya akan dipenuhi dengan deretan komentar revisi berwarna merah yang menyakitkan mata—jejak digital dari jari-jari dingin Arka yang tidak pernah mengenal kata istirahat. Namun, malam ini, kotak ma**k surelnya sunyi. Tidak ada instruksi untuk mengubah saturasi sebesar dua persen, tidak ada kritik tentang pemilihan tipografi yang dianggapnya 'kurang berwibawa'.
Kesunyian itu seharusnya menjadi berkah. Rhea telah memimpikan malam yang tenang tanpa gangguan selama berbulan-bulan. Namun, saat ia menatap kursor yang berkedip di layar kosong—seperti detak jantung yang monoton dan kesepian—ia justru merasakan kekosongan yang menyesakkan.
Rhea menyandarkan punggungnya ke kursi, membiarkan kepalanya mendongak menatap langit-langit kamar yang temaram. Tangannya secara refleks meraih ponsel. Ia menggeser layar, jarinya tertahan di atas ikon aplikasi forum 'Nir-Tidur'. Sudah tiga malam ia tidak ma**k ke sana. Sejak keraguan mulai menyusup tentang siapa sebenarnya 'X', Rhea memilih untuk menarik diri. Ia memutus jembatan emosional yang selama ini menjadi satu-satunya pelariannya.
Ia merindukan 'X'. Ia merindukan bagaimana pria itu selalu tahu kapan harus memberinya ruang untuk mengeluh dan kapan harus memberikan kata-kata penguat yang terasa seperti pelukan hangat di tengah badai. Namun, bayangan Arka—dengan setelan jasnya yang kaku dan tatapan matanya yang tajam seperti belati—terus menginterupsi pikirannya. Bagaimana mungkin dua kutub yang begitu berbeda bisa terasa seolah berasal dari sumber energi yang sama?
"Bodoh," gumam Rhea pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar asing di ruangan yang sunyi itu.
Ia mencoba bangkit dan berjalan menuju jendela. Di luar, Jakarta tampak seperti hamparan sirkuit elektronik dengan lampu-lampu kendaraan yang merayap lambat. Udara malam yang menyelinap dari celah jendela terasa dingin di kulit lengannya. Rhea memeluk dirinya sendiri, mencoba mencari kehangatan yang biasanya ia dapatkan dari percakapan-percakapan rahasia di pukul dua pagi.
Dahulu, Arka adalah antagonis dalam narasinya. Pria itu adalah monster yang melahap waktu luangnya, bos perfeksionis yang mereduksi bakatnya menjadi sekadar alat produksi. Tapi sekarang, tanpa revisi yang menguras emosi itu, Rhea merasa kehilangan arah. Ternyata, kemarahan terhadap Arka adalah bahan bakar yang membuatnya tetap terjaga, sementara percakapan dengan 'X' adalah pendingin yang menjaganya agar tidak meledak.
Tanpa keduanya, ia hanyalah seorang desainer grafis yang kesepian di sebuah apartemen kecil, tanpa tujuan yang jelas.
Rhea kembali ke meja kerjanya. Jarinya bergerak membuka folder arsip lama. Ia melihat draf-draf desain yang pernah ditolak Arka habis-habisan. Ia memperhatikan det**l-det**l kecil yang dikritik pria itu. *“Rhea, sudut ini terlalu tajam. Visual ini butuh resonansi, bukan sekadar keindahan,”* kata-kata Arka terngiang di kepalanya.
Dulu ia membencinya. Sekarang, ia menyadari bahwa setiap kritik itu sebenarnya adalah perhatian yang mendalam—meski dibungkus dengan cara yang sangat kasar.
Pandangannya beralih ke jam di sudut layar laptop. 02:10. Tujuh menit lagi menuju waktu sakral itu. Jantungnya mulai berdegup tidak beraturan. Ada pergolakan hebat di dalam dadanya. Bagian dari dirinya ingin tetap menutup diri, melindungi hatinya dari kemungkinan pengkhianatan yang lebih besar. Namun, bagian lain—bagian yang selama ini haus akan koneksi—meronta minta dibebaskan.
Ia merindukan getaran notifikasi itu. Ia merindukan perasaan 'dimengerti' tanpa perlu menjelaskan banyak hal.
Rhea menarik napas panjang, paru-parunya terasa sesak oleh udara yang berat. Ia menyadari sebuah kebenaran yang pahit: ia telah kecanduan pada dinamika ini. Ia merindukan Arka yang menyiksanya dengan pekerjaan, dan ia merindukan 'X' yang memulihkannya dengan kata-kata. Kehilangan keduanya secara bersamaan membuatnya merasa seolah-olah kehilangan separuh dari identitasnya yang terbangun selama setahun terakhir.
"Kenapa harus sesulit ini?" bisiknya, nyaris terisak.
Ia mengambil ponselnya kembali. Layarnya masih menunjukkan beranda 'Nir-Tidur'. Namanya masih terdaftar di sana, tapi statusnya *offline*. Ia melihat kolom pencarian, mengetik inisial 'X' dengan jari gemetar. Profil itu masih ada, membeku dalam diam yang sama dengannya.
Rhea bertanya-tanya, apakah di tempat lain, di sebuah apartemen mewah yang mungkin jauh lebih dingin dari miliknya, Arka juga sedang menatap layar yang sama? Apakah pria itu juga merasakan kekosongan yang merayap ini? Atau bagi Arka, ini hanyalah sebuah eksperimen sosial yang sudah selesai masa berlakunya?
Detik demi detik berlalu dengan lambat, seolah waktu sengaja ingin menyiksanya lebih lama.
02:15.
02:16.
Rhea meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke atas. Ia mengepalkan tangannya di pangkuan, mencoba menahan keinginan untuk tidak menyentuh benda itu. Ia ingin membuktikan bahwa ia kuat. Ia ingin membuktikan bahwa hidupnya tidak berputar di sekitar seorang pria yang mungkin telah membohonginya selama ini.
Tepat saat angka di jam digital berubah menjadi 02:17, sebuah cahaya biru terang memecah kegelapan kamar. Ponsel itu bergetar pendek di atas permukaan kayu meja, menimbulkan suara *dengung* yang bergema di seluruh ruangan.
Satu notifikasi muncul. Bukan dari forum 'Nir-Tidur'.
Bukan juga dari 'X'.
Itu adalah sebuah surel ma**k. Pengirimnya adalah Arka Ananta.
Rhea terpaku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya terpaku pada subjek surel yang hanya berisi satu kata, namun c**up untuk membuat seluruh pertahanannya runtuh dalam sekejap.
*Subjek: Resonansi.*
Dengan tangan yang gemetar hebat, Rhea menggerakkan kursor untuk membuka pesan tersebut, tidak menyadari bahwa di balik jendela, fajar masih jauh, dan rahasia yang lebih besar baru saja akan terkuak.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!