Layar monitor membiaskan cahaya biru pucat ke wajah Arka, mempertegas gurat lelah di bawah matanya yang biasanya tajam dan tak kenal ampun. Jarum jam di dinding ruang kerjanya yang sunyi merayap pasti menuju angka yang kini terasa seperti kutukan sekaligus pelarian: 02:17.
Arka menyandarkan punggung ke kursi kulitnya yang dingin. Di depannya, terbuka dua jendela peramban. Satu adalah profil LinkedIn Rhea Anindya yang dipenuhi dengan portofolio desain visual yang berani namun tertata, dan satu lagi adalah dasbor forum 'Nir-Tidur' tempat akun 'X' miliknya berada.
Ia menghela napas panjang, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu jati itu dengan ritme yang gelisah. Selama berbulan-bulan, ia adalah badai dalam hidup Rhea di siang hari, pemberi revisi tanpa henti yang menghancurkan kepercayaan diri gadis itu. Namun di malam hari, ia adalah 'X', pelabuhan tempat Rhea mencurahkan segala lara. Pengkhianatan ini terasa seperti belati yang ia asah sendiri, dan sekarang ujungnya sudah menempel di tenggorokannya.
"Kau keterlaluan, Arka," bisiknya pada keheningan ruangan.
Tangannya bergerak meraih ponsel. Ia menghubungi sebuah nomor yang seharusnya tidak ia hubungi di jam seperti ini jika ia masih menjadi CEO yang rasional.
"B**m?" suara Arka rendah saat pangg***nnya diangkat. "Maaf mengganggu."
"Arka? Ada apa? Ini hampir jam setengah tiga pagi," suara B**m, seorang kurator seni ternama sekaligus pemilik agensi kreatif global, terdengar serak karena kantuk.
"Proyek re-b**nding *Neo-Tech* untuk pameran internasional di Singapura bulan depan. Aku ingin kau melihat satu nama untuk posisi *lead visual designer*."
B**m tertawa kecil, sedikit sarkastik. "Bukannya kau biasanya menggunakan tim internalmu sendiri? Kau bahkan bilang timmu belum ada yang c**up matang untuk proyek sebesar itu."
Arka terdiam sejenak. Matanya tertuju pada salah satu karya Rhea di layarβsebuah ilustrasi berjudul *'Resonansi'* yang tidak pernah Rhea tunjukkan di kantor, namun pernah ia bagikan di forum sebagai luapan emosi. Karya itu jujur, mentah, dan luar biasa indah.
"Aku melakukan kesalahan penilaian," kata Arka, suaranya berat oleh pengakuan tersembunyi. "Namanya Rhea Anindya. Dia punya insting yang tidak dimiliki orang lain. Aku ingin kau mengundangnya secara formal sebagai kurator independen. Jangan sebut namaku. Jangan sebut ini atas rekomendasiku. Biarkan ini datang seolah-olah kau menemukan portofolionya di Behance atau platform lain."
Ada jeda panjang di seberang telepon. "Kau memberikan kesempatan emas ini tanpa mau mengambil kreditnya? Ini bukan seperti Arka yang kukenal."
"Hanya... lakukan saja, B**m. Kirimkan emailnya pagi ini. Dia butuh kemenangan ini."
Setelah menutup telepon, Arka merasa dadanya sedikit lebih ringan, meski rasa sesak itu belum sepenuhnya hilang. Ini adalah upaya penebusan dosanya yang pertama. Ia tahu, uang atau bonus tidak akan bisa membayar harga diri Rhea yang ia injak-injak di ruang rapat. Rhea butuh sayapnya kembali, dan Arka sadar bahwa sayap itu tidak akan pernah tumbuh jika ia terus berada di bawah bayang-bayang otoritasnya sebagai bos.
Ia beralih ke forum 'Nir-Tidur'. Notifikasi muncul. Sebuah pesan dari Rhea.
*Rhea: 'X', aku tidak tahu harus merasa apa. Besok aku harus menghadapi bosku lagi. Rasanya setiap kali aku ma**k ke kantor itu, sebagian dari diriku mati. Aku merasa tidak berguna. Kenapa dunia terasa begitu sempit bagi orang yang hanya ingin berkarya dengan jujur?*
Arka mematung. Setiap kata yang diketik Rhea terasa seperti tamparan. Ia mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik lagi.
*X: Dunia tidak sempit, Rhea. Terkadang, kita hanya sedang berada di ruangan yang salah dengan orang yang tidak tahu cara menghargai cahaya. Jangan menyerah malam ini. Mungkin besok, atau lusa, pintu yang tidak pernah kau duga akan terbuka.*
Arka menekan *send*. Ia merasa seperti seorang pengecut. Ia ingin berteriak bahwa ia minta maaf, bahwa dialah pria br****** yang membuat Rhea ingin menyerah, dan dialah 'X' yang memuja setiap pemikirannya. Namun, ia tahu risikonya. Jika ia jujur sekarang, Rhea tidak hanya akan kehilangan pekerjaannya, tapi juga kehilangan satu-satunya tempat persembunyian yang ia miliki di forum ini.
Ia harus merelakan diri menjadi penjahat di dunia nyata, asalkan Rhea bisa terbang di dunia yang ia bangunkan secara anonim.
Keesokan paginya, Arka berdiri di balik dinding kaca kantornya, memerhatikan Rhea yang baru saja tiba. Gadis itu tampak pucat, lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan oleh riasan tipis. Rhea duduk di mejanya, menyalakan komputer dengan gerakan robotik.
Arka menahan napas saat melihat Rhea membuka kotak ma**k emailnya. Dari kejauhan, ia melihat bahu gadis itu tiba-tiba menegang. Rhea condong ke depan, matanya membelalak menatap layar. Ia menutup mulut dengan telapak tangan, tubuhnya sedikit gemetar.
Arka memutar kursi, membelakangi pemandangan itu. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingin berlari keluar, memeluknya, dan mengatakan betapa ia bangga pada gadis itu. Namun ia tetap diam, memandangi langit Jakarta yang mendung.
*Biarkan dia bahagia tanpa namamu, Arka,* batinnya pahit. *Itu adalah hukumanmu.*
Namun, keheningan itu terpecah saat pintu ruangannya diketuk dengan keras. Bukan ketukan sopan sekretarisnya, melainkan ketukan yang penuh desakan. Arka menoleh dan mendapati Rhea berdiri di ambang pintu. Wajahnya merah padam, namun bukan karena marah. Ada air mata yang menggenang di sudut matanya, dan di tangannya, ia menggenggam ponsel yang menunjukkan sebuah pesan singkat.
Arka mengerutkan kening. Apakah B**m melakukan kesalahan?
"Pak Arka," suara Rhea bergetar, "Saya baru saja mendapat tawaran dari B**mantyo untuk proyek Singapura. Tapi... saya menemukan sesuatu yang aneh."
Arka berusaha menjaga wajahnya tetap datar, topeng perfeksionisnya kembali terpasang. "Bagus kalau begitu. Bukankah itu yang kau inginkan?"
Rhea melangkah maju, meletakkan ponselnya di atas meja Arka. "Email itu dikirim pukul 02:20 pagi. Dan di bagian bawah draf lampirannya, ada catatan teknis yang tidak sengaja terlampir... catatan tentang resolusi layar yang hanya digunakan di komputer kantor ini. Hanya ada satu orang yang tahu spesifikasi teknis sejelas itu, Pak."
Rhea menatap Arka dengan pandangan yang membuat pria itu merasa te*******. "Kenapa Bapak melakukan ini? Dan kenapa Bapak mengirim pesan yang hampir sama persis di forum 'Nir-Tidur' tadi malam?"
Udara di ruangan itu seolah tersedot habis. Arka membeku. Satu kesalahan kecilβsebuah catatan teknis yang lupa dihapusβtelah meruntuhkan seluruh dinding penyamarannya. Rahasia itu tidak lagi bersembunyi di balik angka 02:17. Kini, resonansi itu pecah, meninggalkan mereka dalam sunyi yang mencekam.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!