Uap tipis mengepul dari cangkir Americano panas yang baru saja diletakkan barista di atas meja kayu yang permukaannya sudah agak mengelupas. Aku melirik arloji di pergelangan tangan kiriku. Angkanya berkedip pelan, menunjukkan pukul 02:12 pagi. Kedai kopi ini, "Senyap di Seberang", hanya menyisakan kami berdua sebagai pengunjung, ditemani dengung rendah mesin pendingin ruangan dan lagu jaz instrumen yang nyaris tidak terdengar.
Tanganku gemetar saat merogoh ponsel dari saku jaket. Di sana, di layar yang cahayanya sengaja kuredupkan, notifikasi dari forum 'Nir-Tidur' masih menyala. Sebuah pesan singkat dari 'X' ma**k tiga menit yang lalu.
*“Aku sudah di depan.”*
Jantungku berdegup kencang, menghantam rusuk dengan ritme yang tidak beraturan. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menghalau rasa dingin yang menyusup lewat pori-pori kulit. Pintu kaca kedai berdentang pelan. Seseorang ma**k. Langkah kakinya berat namun pasti, suara pantofel yang beradu dengan lant** semen ekspos menciptakan gema yang memenuhi ruangan sunyi itu.
Aku tidak perlu mendongak untuk tahu siapa dia. Aroma parfum *sandalwood* yang tajam namun menenangkan itu sudah sangat akrab di indra penciumanku—aroma yang biasanya membuatku siaga di kantor, namun kini justru membuat dadaku sesak oleh emosi yang sulit didefinisikan.
Arka menarik kursi di hadapanku. Dia tidak memakai setelan jas mahalnya. Hanya sweter *navy* dengan kerah kemeja yang sedikit mencuat, tampak sedikit kusut seolah dia juga baru saja melewati malam yang panjang. Tanpa kacamata frame tipisnya, matanya terlihat lebih lelah, namun sorotnya jauh lebih lembut daripada saat dia menolak desainku di jam empat sore.
"Kamu datang," suaranya rendah, serak karena kantuk yang tertahan.
Aku akhirnya berani menatapnya. "Aku harus datang, Arka. Kita tidak bisa terus bersembunyi di balik layar pukul dua pagi sementara di siang hari kita saling melempar duri."
Arka terdiam, jemarinya yang panjang melingkari gelas kopi miliknya yang masih kosong. Dia menatapku lama, seolah sedang memetakan setiap inci ekspresiku. Tidak ada lagi sosok CEO perfeksionis yang hobi memberikan revisi di menit-menit terakhir. Di depanku kini hanyalah 'X', pria kesepian yang sering mendengarkan keluh kesahku tentang betapa menyebalkannya bosnya sendiri.
"Lucu, ya?" Arka terkekeh pahit, senyumnya tidak sampai ke mata. "Aku menghabiskan waktu berbulan-bulan mencoba menjadi sosok yang sempurna di depan semua orang, tapi hanya di depan 'R'—di depanmu—aku merasa bisa bernapas tanpa perlu menjaga imej."
Aku menggigit bibir bawahku, merasakan perih yang familiar. "Tapi 'R' itu tidak nyata, Arka. Dia hanya potongan-potongan frustrasi yang aku tumpahkan di forum anonim. Dan 'X'... 'X' adalah pelarianku dari kamu."
Kalimat itu menggantung di udara seperti kabut dingin. Arka menunduk, melihat ponselnya yang tergeletak di meja. Layarnya menyala, menampilkan antarmuka forum 'Nir-Tidur' yang gelap. Di sana, profil 'X' dan 'R' tampak bersisian dalam riwayat percakapan yang panjang—ribuan baris teks yang berisi rahasia, air mata, dan dukungan yang tidak pernah kami dapatkan di dunia nyata.
"Tepat pukul 02:17," gumam Arka sambil melirik jam dinding besar di sudut kedai. "Waktu kita dimulai, dan mungkin... waktu kita harus berakhir di sini."
Aku mengangguk pelan. Aku mengeluarkan ponselku, meletakkannya tepat di samping ponsel Arka. Dua layar yang bersinar itu seolah merepresentasikan dua dunia paralel yang selama ini kami huni. Dunia di mana kami saling mencint** secara emosional tanpa tahu rupa, dan dunia nyata di mana kami saling menyakiti dengan profesionalisme yang kaku.
"Kita hapus bersama?" tanyaku dengan suara yang nyaris hilang.
Arka menyentuh layar ponselnya, ma**k ke pengaturan akun. Jarinya ragu sejenak di atas tombol 'Hapus Akun Permanen'. Aku melakukan hal yang sama. Rasanya seperti akan mematikan mesin pendukung hidup. Forum itu adalah satu-satunya tempat di mana aku merasa benar-benar didengar, benar-benar dipahami tanpa penghakiman.
"Rhea," panggilnya lembut. Aku mendongak. Arka mengulurkan tangannya di atas meja, telapak tangannya terbuka, menungguku. "Setelah ini, tidak akan ada lagi 'X'. Tidak akan ada lagi tempat untuk mengeluh tentang revisi jam dua pagi. Yang tersisa hanya aku, Arka, yang mungkin masih akan membuatmu kesal di kantor, tapi juga Arka yang ingin mengenalmu lebih dari sekadar desainer grafis berbakat."
Aku menyambut tangannya. Kulitnya hangat, kontras dengan udara dingin yang merayap. "Dan aku ingin kamu mengenal Rhea yang asli. Bukan Rhea yang selalu takut gagal, tapi Rhea yang punya batas dan ingin dihargai."
Kami saling menatap. Dalam hitungan mundur yang sunyi, di angka 02:17 yang keramat, ibu jari kami bergerak serentak. *Klik.*
Layar ponsel kami menggelap bersamaan. Pesan konfirmasi penghapusan akun muncul sesaat sebelum akhirnya kembali ke layar kunci yang hampa. Ribuan percakapan, rahasia-rahasia paling kelam, dan resonansi emosional yang kami bangun berbulan-bulan, lenyap dalam satu detik.
Keheningan yang mengikuti terasa begitu berat, seolah oksigen di ruangan itu mendadak menipis. Kami duduk di sana, tangan masih bertautan, di tengah kedai kopi yang sepi. Dunia digital kami telah runtuh, meninggalkan kami te******* tanpa topeng anonimitas.
"Jadi..." Arka memecah keheningan, suaranya kini terdengar lebih mantap namun ada nada kecemasan di sana. "Besok pagi di kantor, apakah aku harus pura-pura tidak tahu kalau kamu benci caraku memegang pulpen saat sedang marah?"
Aku tertawa kecil, tawa pertama yang terasa tulus setelah sekian lama. "Aku akan tetap membencinya, Pak Arka. Tapi mungkin sekarang aku berani mengatakannya langsung di depan wajahmu, bukan di forum."
Arka tersenyum, kali ini senyumnya mencapai matanya, menciptakan kerutan kecil di sudutnya yang tampak manis. Namun, saat dia hendak berbicara lagi, ponselnya yang kini "bersih" bergetar hebat di atas meja. Sebuah pangg***n ma**k.
Aku melihat nama yang tertera di layar: *'Dewan Komisaris - Darurat'*.
Raut wajah Arka berubah seketika. Keramahan itu menguap, digantikan oleh ketegangan yang amat sangat. Dia melepaskan genggaman tangannya dariku.
"Rhea, aku harus mengangkat ini," katanya cepat, suaranya kembali dingin dan penuh otoritas.
Aku melihatnya menjauh, berdiri di sudut kedai sambil berbicara dengan nada rendah yang mendesak. Sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang besar. Saat dia kembali ke meja, wajahnya pucat pasi.
"Ada kebocoran data di server internal kantor," bisiknya, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Seseorang meretas arsip lama... terma**k draf desain yang belum rilis dan percakapan pribadi yang terhubung ke email kantor."
Jantungku serasa berhenti berdetak. Email kantorku terhubung dengan akun forum 'Nir-Tidur' yang baru saja kuhapus. Jika data itu bocor sebelum sistem benar-benar melenyapkannya...
"Arka," suaraku bergetar. "Apa artinya ini?"
Arka tidak menjawab. Dia hanya menatap layar ponselnya yang terus berkedip, sementara di luar sana, fajar mulai menyingsing, mengancam akan menelanjangi semua rahasia yang baru saja kami coba kubur dalam-dalam.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!