02:17: Resonansi di Balik Layar

Bab 2: Bab 2 - Menjelaskan awal mula pertemuan di forum 'Nir-T...

Pengaturan Membaca

Cahaya biru dari layar monitor adalah satu-satunya hal yang menerangi kamar apartemen mungil itu. Di luar, Jakarta belum benar-benar tidur, tapi deru kendaraannya terdengar seperti dengung lebah yang jauh dan diredam oleh dinding beton. Rhea menyandarkan punggungnya yang kaku pada kursi kerja, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Di atas meja, sisa kopi instan yang sudah dingin meninggalkan jejak lingkaran cokelat yang lengket.

Matanya perih. Layar di depannya masih menampilkan perangkat lunak desain dengan kursor yang berkedip-kedip di atas kanvas kosong. Tadi siang, Arka—si perfeksionis tanpa nurani itu—baru saja membuang draf keenamnya ke tempat sampah digital hanya karena "kurang memiliki jiwa".

"Jiwa," gumam Rhea sinis. Suaranya serak, hampir hilang ditelan sunyi. "Memangnya dia punya?"

Ia menutup paksa laptopnya, namun rasa sesak di dadanya tidak ikut tertutup. Ada kekosongan yang merayap, jenis kesepian yang biasanya datang saat dunia berhenti menuntut produktivitasmu dan membiarkanmu sendirian dengan pikiranmu sendiri. Rhea tidak ingin tidur. Tidur berarti mempercepat datangnya esok pagi, dan esok pagi berarti menghadapi Arka lagi.

Dengan jemari yang sedikit gemetar karena kelebihan kafein, ia meraih ponselnya. Ia membuka peramban dan mengetikkan alamat yang baru ditemukannya di sebuah utas media sosial beberapa malam lalu: *Nir-Tidur*.

Situs itu sangat sederhana. Latar belakang hitam pekat dengan tipografi putih yang minimalis. Tidak ada foto profil, tidak ada sistem pengikut, tidak ada validasi berupa jumlah 'suka'. Hanya ada barisan pemikiran dari jiwa-jiwa yang terjaga.

Rhea menggeser layar, membaca beberapa kiriman anonim.

*“Aku benci bagaimana suara jam dinding terdengar seperti langkah kaki yang mengejarku.”*

*“Kenapa rindu selalu datang saat aku tidak punya energi untuk menanggungnya?”*

Rhea menarik napas panjang. Ia merasa seolah-olah menemukan sebuah bunker rahasia di tengah medan perang. Ia mengetuk kolom "Bicara", lalu ragu sejenak. Apa yang ingin ia katakan? Bahwa ia benci pekerjaannya? Bahwa ia merasa seperti robot yang dipaksa memiliki perasaan?

Ia mulai mengetik: *Aku lelah menjadi apa yang diinginkan orang lain. Aku ingin menghilang ke dalam warna yang tidak memiliki nama.*

Ia tidak berharap ada yang membaca, apalagi membalas. Ia hanya ingin melemparkan botol pesan ke samudra digital ini. Namun, saat ia melirik jam di sudut kanan atas ponselnya, angka itu berubah tepat saat ia menekan tombol kirim.

02:17.

Hanya butuh sepuluh detik sampai sebuah notifikasi muncul di bawah kirimannya. Sebuah balon percakapan kecil dengan inisial 'X'.

*X: Warna tanpa nama biasanya adalah warna yang paling jujur. Sayangnya, dunia lebih suka label primer yang membosankan.*

Rhea tertegun. Kalimat itu bukan sekadar basa-basi penghibur. Ia merasa seperti seseorang baru saja menyentuh bagian dari dirinya yang selama ini ia sembunyikan di balik lapisan revisi dan senyum sopan di kantor.

*Rhea: Kadang aku merasa label-label itu sedang mencekikku. 'Desainer yang kompeten', 'Karyawan yang penurut', 'Anak yang baik'. Aku tidak tahu siapa aku kalau semua label itu dicopot.*

*X: Kamu adalah hening di antara dua nada musik. Tanpa hening itu, musiknya hanya akan jadi kebisingan.*

Rhea tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar asing di telinganya sendiri di jam sepagi ini. Ia mengubah posisinya, meringkuk di atas tempat tidur dengan ponsel yang kini menjadi satu-satunya sumber kehangatan.

*Rhea: Kamu kedengarannya seperti seorang penyair. Atau mungkin seseorang yang terlalu banyak minum kopi?*

*X: Lebih tepatnya, seseorang yang terjebak dalam ekspektasi yang ia ciptakan sendiri. Di sini, di jam ini, aku bisa melepaskan jubah itu. Pukul 02:17... ini adalah waktu di mana kejujuran tidak lagi terasa menakutkan.*

Rhea menatap angka 02:17 itu. Ada sesuatu yang magis tentang angka itu, seolah-olah semesta memberikan celah kecil baginya untuk bernapas. Ia merasa nyaman berbincang dengan X, sosok tanpa wajah yang tidak tahu bagaimana rupanya, di mana ia bekerja, atau seberapa sering ia dimarahi bosnya. Di sini, ia bukan Rhea si desainer grafis yang gagal memenuhi standar Arka. Ia hanya... seseorang.

*Rhea: Kenapa kamu membalas kirimanku? Banyak kiriman lain yang lebih dramatis di luar sana.*

*X: Karena warnamu terasa familier. Seperti seseorang yang sedang mencoba berteriak di bawah air.*

Jantung Rhea berdegup sedikit lebih kencang. Ia merasa te*******, namun anehnya, ia tidak merasa terancam. Ia merasa dimengerti dengan cara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

*Rhea: Terima kasih, X. Aku tidak tahu siapa kamu, tapi kurasa aku butuh ini.*

*X: Jangan cari tahu siapa aku. Mari kita biarkan ini tetap murni. Hanya dua suara di jam dua lewat tujuh belas menit. Kesepakatan?*

Rhea tersenyum, jari jempolnya mengetik dengan mantap.

*Rhea: Kesepakatan.*

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Rhea tertidur tanpa harus memikirkan revisi apa yang akan menantinya besok. Ia tertidur dengan bayangan tentang sebuah warna tanpa nama yang dibicarakan X.

Namun, di belahan kota yang lain, di dalam sebuah apartemen mewah yang dingin, seorang pria masih menatap layar ponselnya. Cahaya biru memantul di kacamata tipisnya, menyinari rahangnya yang tegas dan mata yang biasanya menatap penuh intimidasi.

Arka menghela napas, meletakkan ponselnya di atas nakas kayu m***ni. Ia baru saja melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan: merasa terhubung dengan seseorang melalui kata-kata, bukan angka atau hasil kerja. Ia tidak tahu siapa pemilik akun anonim itu, tapi kalimat tentang "warna tanpa nama" itu terus terngiang di kepalanya.

Esok paginya di kantor, Rhea datang dengan lingkaran hitam di bawah mata, namun dengan binar yang sedikit berbeda. Saat ia melewati ruangan kaca Arka, ia melihat pria itu sedang berdiri membelakanginya, menatap jendela besar yang menghadap ke gedung-gedung pencakar langit.

Arka berbalik tepat saat Rhea melintas. Tatapan mereka bertemu. Dingin, tajam, dan penuh tuntutan seperti biasa.

"Rhea, ke ruangan saya sekarang," suara Arka menggelegar, memecah ketenangan pagi di divisi kreatif. "Revisi semalam... kita harus bicara serius."

Rhea menelan ludah. Kehangatan dari pukul 02:17 tadi malam menguap seketika, digantikan oleh rasa mual yang familier. Ia tidak tahu bahwa di balik saku kemeja mahal yang dikenakan Arka, sebuah ponsel menyimpan rahasia yang sama dengan miliknya. Sebuah rahasia yang baru saja dimulai di balik layar pukul 02:17.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca