02:17: Resonansi di Balik Layar

Bab 3: Bab 3 - Menunjukkan sisi lain Arka yang menderita insom...

Pengaturan Membaca

Lampu gantung minimalis di ruang tengah apartemennya berpijar redup, membiarkan sudut-sudut ruangan tenggelam dalam bayang-bayang yang pekat. Arka menyandarkan kepalanya pada sofa kulit yang dingin, menatap langit-langit setinggi empat meter seolah-olah ada jawaban yang tertulis di sana. Jarum jam di dinding merayap lambat, suaranya yang ritmis terasa seperti dentuman palu yang menghantam gendang telinganya.

01:45. Matanya terasa panas, seperti ada butiran pasir yang terselip di balik kelopak, namun otaknya menolak untuk mati.

Ia bangkit dengan gerakan kaku, berjalan menuju dapur untuk menuangkan segelas air dingin. Pantulan dirinya di pintu kulkas yang terbuat dari *st**nless steel* memperlihatkan sesosok pria dengan rahang tegas yang tampak lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan oleh status sosial atau saldo rekeningnya yang berjumlah sembilan digit.

Sebuah notifikasi berdenting dari ponsel yang ia letakkan di meja makan. Arka berharap itu adalah sesuatu yang manusiawi, mungkin sekadar ucapan "jangan lupa istirahat" yang tulus. Namun, layar itu justru menampilkan pesan singkat dari salah satu pemegang saham utama.

*“Arka, pastikan presentasi untuk merger minggu depan sempurna. Jangan sampai ada celah sekecil apa pun. Reputasi keluarga kita taruhannya.”*

Arka meletakkan gelasnya dengan denting yang sedikit terlalu keras. Senyum sinis tersungging di bibirnya. Sempurna. Kata itu telah menjadi penjara baginya sejak ia bisa mengeja namanya sendiri. Bagai mesin yang terus dipaksa beroperasi tanpa pelumas, ia merasa setiap sendinya mulai berkarat. Bagi ayahnya, bagi dewan direksi, bahkan bagi dunia di luar sana, ia bukan Arka. Ia adalah aset. Ia adalah grafik pertumbuhan yang harus selalu menanjak. Jika ia berhenti, ia dianggap rusak, bukan lelah.

Ia berjalan menuju balkon, membiarkan angin malam Jakarta yang lembap menerpa wajahnya. Dari lant** tiga puluh, mobil-mobil di bawah sana tampak seperti semut yang tak pernah berhenti bergerak. Kesepian itu merayap naik dari ujung kakinya, mencekik dengan cara yang halus namun mematikan.

Ia kembali ma**k, meraih tabletnya, dan membuka sebuah aplikasi dengan ikon awan berwarna abu-abu gelap. 'Nir-Tidur'. Sebuah oase bagi jiwa-jiwa yang terbuang oleh kantuk. Di sini, ia bukan Arka sang CEO yang dingin dan tak tersentuh. Di sini, ia hanya 'X'.

Pukul 02:15. Arka merasakan debar jantungnya sedikit melisik. Ada satu akun yang selalu muncul di jam yang sama. Seseorang yang ia rasakan memiliki resonansi yang sama dengannya, meski mereka hanya berkomunikasi lewat barisan kata di layar.

Tepat pukul 02:17, sebuah unggahan baru muncul di linimasa pribadinya.

*“Hari ini aku ingin menangis karena sebuah font, tapi sebenarnya aku hanya ingin seseorang bertanya apakah aku sudah makan malam dengan benar. Dunia ini terlalu bising untuk mereka yang hanya ingin didengar suaranya, bukan produktivitasnya.”*

Arka tertegun. Kalimat itu menghantam telak di ulu hatinya. Ia tahu siapa pemilik akun itu. Selama beberapa minggu terakhir, potongan-potongan cerita yang dibagikan akun ini mulai membentuk sebuah pola yang sangat familiar. Keluhan tentang revisi yang tidak ma**k akal, det**l tentang suasana kantor di lant** dua belas, dan hari ini... penyebutan tentang *font*.

Ia teringat siang tadi di kantor. Ia telah mengembalikan desain Rhea untuk kelima kalinya hanya karena jarak antar huruf yang menurutnya kurang "berwibawa". Ia melihat tangan Rhea gemetar saat menerima kembali dokumen itu, wajahnya pucat namun matanya memancarkan api perlawanan yang segera ia padamkan sendiri.

Arka mengusap wajahnya kasar. Jemarinya ragu-ragu di atas papan ketik virtual.

*“Kadang, orang yang memberikan revisi itu juga tidak tahu bagaimana cara meminta tolong agar dunianya tidak runtuh,”* ketik Arka, lalu menghapusnya kembali. Terlalu personal. Terlalu lemah.

Ia menarik napas panjang dan mengetik pesan lain yang lebih netral, namun tetap menyimpan kehangatan yang tak pernah ia tunjukkan di bawah lampu neon kantor.

*“Istirahatlah. Font itu tidak akan lari ke mana-mana besok pagi. Kamu sudah melakukan lebih dari c**up untuk hari ini.”*

Pesan itu terkirim. Arka menatap layar dengan intensitas yang aneh. Ia merasa seperti seorang pengint**, seorang munafik yang siang harinya bertindak sebagai algojo dan malam harinya mencoba menjadi penyembuh bagi korban yang sama.

Tak lama, sebuah balasan ma**k.

*“Terima kasih, X. Kamu selalu tahu apa yang harus dikatakan. Kadang aku merasa kamu satu-satunya orang yang memahamiku, meski kita tidak pernah bertemu. Bosku... dia sepertinya tidak punya jantung. Dia hanya punya kalkulator di dadanya.”*

Arka tertawa kecil, tawa yang getir dan kering. Kalkulator di dadanya. Jika saja Rhea tahu bahwa pria yang ia maki itu saat ini sedang duduk di sofa mahal yang terasa kosong, merindukan percakapan manusiawi yang tulus, apakah Rhea akan tetap membencinya?

Ia meletakkan tabletnya di samping bantal. Rasa kantuk tetap tidak kunjung datang, namun rasa sesak di dadanya sedikit berkurang. Namun, ketenangan itu terusik saat matanya menangkap sebuah det**l kecil pada foto profil terbaru yang diunggah Rhea di forum itu beberapa menit kemudian—sebuah foto sudut meja kerja yang estetik dengan cangkir kopi yang retak.

Arka memicingkan mata, memperbesar foto itu. Di sudut meja yang berantakan, terdapat sebuah memo kecil berwarna kuning dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali. Tulisan tangannya sendiri. Itu adalah memo revisi yang ia berikan tadi sore.

Jantung Arka berdegup kencang. Ia tahu itu Rhea. Ia sudah lama curiga, tapi melihat bukti fisik itu di platform anonim ini membuatnya merasa te*******. Rahasia ini bukan lagi sekadar permainan pelarian malam hari. Ini adalah bom waktu.

Bagaimana jika Rhea tahu bahwa orang yang ia anggap sebagai "satu-satunya yang memahami" adalah pria yang paling ia benci di dunia nyata?

Arka mematikan layar tabletnya, namun bayangan memo kuning itu tetap menghantui kegelapan kamarnya. Besok pagi, ia harus kembali menjadi mesin. Ia harus kembali menatap mata Rhea dengan dingin, sementara di dalam kepalanya, suara 'X' terus berteriak ingin meminta maaf.

Satu pertanyaan baru muncul dan mulai merampas sisa malamnya: Sampai kapan ia bisa mempertahankan topeng ini sebelum resonansi di balik layar ini menghancurkan mereka berdua?

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca