Cahaya biru dari layar laptop memantul di bola mata Rhea, menciptakan pendar yang kontras dengan kegelapan pekat di sudut kamarnya. Jam dinding digital di atas meja rias menunjukkan angka 02:15. Rhea menghela napas panjang, membiarkan punggungnya tenggelam ke sandaran kursi yang keras. Bahunya terasa kaku, sisa-sisa ketegangan setelah bergelut dengan revisi ke-dua belas dari Arka yang baru saja ia kirim sepuluh menit lalu.
Dua menit menuju ritualnya.
Rhea meraih cangkir kopinya yang sudah dingin, menyesap sisa kafein pahit yang tertinggal di dasar keramik. Jemarinya yang gemetar kecil mulai mengetikkan alamat situs *Nir-Tidur*. Baginya, situs anonim ini bukan sekadar forum; ini adalah bunker perlindungan, tempat di mana ia tidak perlu menjadi desainer yang patuh atau karyawan yang selalu berkata "siap, Pak".
Tepat saat angka di sudut kanan bawah layar berganti menjadi 02:17, sebuah jendela obrolan kecil muncul. Lampu indikator hijau menyala di samping inisial 'X'. Jantung Rhea berdegup sedikit lebih cepatβsebuah reaksi otonom yang mulai ia sadari muncul setiap malam di jam ini.
**X:** *Kau masih bangun. Apakah naga itu memintamu membakar seluruh desa lagi hari ini?*
Rhea terkekeh kecil, sebuah suara serak yang memecah kesunyian kamar. Ia tahu 'naga' yang dimaksud adalah bosnya, sosok yang selalu ia keluhkan pada X tanpa pernah menyebutkan nama aslinya.
**Rhea:** *Bukan sekadar membakar desa. Dia memintaku membangun kembali desa itu dengan material yang tidak ma**k akal, lalu membakarnya lagi karena dia merasa apinya kurang 'estetik'. Aku lelah, X. Benar-benar lelah.*
Rhea menopang dagu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap berada di atas kibor. Ia menunggu. Menunggu balasan dari seseorang yang tidak ia ketahui rupanya, suaranya, atau bahkan namanya, namun terasa lebih nyata daripada rekan kerjanya di kantor.
**X:** *Terkadang, orang-orang seperti dia hanya tahu cara menuntut karena mereka sendiri tidak tahu apa yang mereka cari. Mereka menutupi ketidaktahuan itu dengan kesempurnaan yang dipaksakan.*
Rhea terdiam membaca kalimat itu. Ia merasa ada sesuatu yang bergetar di dalam dadanya. Bagaimana mungkin seseorang yang jauh di sana bisa memahami dinamika batinnya begitu dalam?
**Rhea:** *Kenapa kau selalu punya jawaban untuk segalanya? Apa kau juga sedang memakai topeng sekarang, X? Di dunia nyata, apakah kau juga seseorang yang kaku dan menyebalkan?*
Ada jeda yang c**up lama sebelum X membalas. Rhea menggigit bibir bawahnya, merasa mungkin ia sudah melampaui batas. Aturan tak tertulis mereka adalah menjaga jarak personal. Namun, rasa penasaran itu mulai tumbuh seperti tanaman merambat yang sulit dikendalikan.
**X:** *Mungkin. Di dunia nyata, aku adalah seseorang yang diharapkan untuk tidak pernah melakukan kesalahan. Aku harus selalu punya jawaban, Rhea. Dan itu melelahkan dengan caranya sendiri. Di sini, bersamamu pukul 02:17, aku hanya... seseorang yang ingin didengar.*
Rhea merasakan gelombang empati yang menyesakkan. Ia membayangkan sosok di balik layar itu sebagai seorang pria dengan beban berat di pundaknya, seseorang yang mungkin sama kesepiannya dengan dirinya. Ia menyandarkan dahi ke layar laptop yang hangat, merasakan getaran mesinnya.
**Rhea:** *Aku mendengarmu. Bahkan jika seluruh dunia tertidur, aku akan bangun di jam ini untuk mendengarmu. Kau adalah satu-satunya bagian dari hariku yang tidak terasa seperti tuntutan.*
Kalimat itu terketik begitu saja. Begitu jujur hingga Rhea merasa te*******. Ia menyadari betapa berbahayanya pengakuan itu. Ia mulai bergantung pada balasan-balasan singkat ini untuk tetap waras melewati siang yang penuh tekanan. X telah menjadi jangkar bagi kewarasannya yang mulai retak.
**X:** *Terima kasih, Rhea. Itu adalah hal termanis yang pernah dikatakan seseorang kepadaku dalam waktu yang lama. Apakah kau merasa... aman dengan ketidaktahuan ini? Maksudku, apakah kau tidak ingin tahu siapa aku sebenarnya?*
Rhea menelan ludah. Pertanyaan itu adalah sebuah jebakan emosional. Bagian dari dirinya ingin sekali mencari tahu, ingin bertemu, ingin melihat mata yang memberikan kata-kata penenang itu. Namun, bagian lain dari dirinya ketakutan. Ketakutan bahwa kenyataan akan merusak keajaiban pukul 02:17.
**Rhea:** *Aku takut jika aku tahu siapa kau, suaramu di kepalaku akan berubah. Aku menyukai 'X' yang ini. Seseorang yang mengenalku tanpa perlu melihat portofolioku. Kenapa? Apa kau mulai bosan menjadi anonim?*
**X:** *Tidak pernah. Aku hanya... aku hanya merasa bersalah karena menyembunyikan terlalu banyak hal darimu. Ada resonansi di antara kita yang terkadang membuatku ingin egois.*
Rhea merasakan semburat panas di pipinya. "Resonansi," bisiknya pelan, mencoba merasakan kata itu di lidahnya. Ia mengetikkan balasan panjang tentang bagaimana ia merasa mereka seperti dua frekuensi yang akhirnya bertemu di tengah gangguan sinyal yang bising. Mereka berbicara tentang mimpi yang terkubur, tentang ketakutan akan kegagalan, dan tentang betapa asingnya dunia luar bagi jiwa-jiwa yang terlalu perasa.
Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 03:45. Mata Rhea mulai memberat, namun ia enggan memutuskan koneksi itu.
**X:** *Tidurlah. Kau punya hari yang berat besok. Naga itu pasti akan datang dengan revisi baru pukul sembilan pagi.*
**Rhea:** *Aku benci kalau kau benar. Selamat malam, X. Sampai bertemu di jam yang sama.*
**X:** *Selamat malam, Rhea. Mimpi indah.*
Rhea menutup laptopnya perlahan. Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang gelap. Kata-kata X masih terngiang di benaknya, memberinya kenyamanan yang tak terbeli. Ia tidak tahu bahwa di sebuah apartemen mewah di sisi lain kota, seorang pria bernama Arka sedang menatap layar yang sama dengan perasaan berkecamuk.
Arka menyandarkan kepalanya, menutup mata sambil membayangkan wajah Rhea yang kelelahan di kantor tadi siangβwajah yang sama yang baru saja mencurahkan isi hati kepadanya melalui teks anonim. Ia tahu ia harus berhenti. Ia tahu ia harus menjauh sebelum segalanya menjadi lebih rumit. Namun, saat ia melihat jadwal kalender di ponselnya untuk besok pagiβpertemuan desain pukul 09:00βsebuah senyum pahit muncul di wajahnya.
Ia tahu persis revisi apa yang akan ia berikan besok, dan ia membenci dirinya sendiri karena tahu bahwa besok malam, Rhea akan kembali mencarinya di forum itu untuk mengutuk perbuatannya sendiri. Ia telah menciptakan sebuah lingkaran s**** di mana ia adalah sang penjahat sekaligus sang penyelamat, dan garis antara keduanya mulai mengabur dengan cara yang berbahaya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!