Cangkir espresso di atas meja kerja kayu jati itu sudah mendingin, meninggalkan lingkaran kecokelatan yang membekas di permukaannya. Arka menyandarkan punggung ke kursi ergonomisnya, memijat pangkal hidung yang terasa berdenyut. Di hadapannya, tiga monitor besar masih menyala, menampilkan grafik pertumbuhan perusahaan dan tumpukan surel yang belum sempat dibalas. Namun, bukan itu yang menyita perhatiannya saat ini.
Arka melirik jam digital di sudut kanan bawah layar. 02:14. Tiga menit lagi menuju ritual yang belakangan ini menjadi satu-satunya hal yang membuatnya merasa... hidup.
Ia meraih ponselnya, membuka aplikasi dengan ikon bulan sabit yang samar. Forum 'Nir-Tidur'. Sebagai 'X', ia merasa tidak perlu mengenakan topeng CEO yang kaku, yang selalu dituntut sempurna dan tanpa cela. Di sini, ia hanyalah seorang pria kesepian yang mencari resonansi di tengah sunyinya malam Jakarta.
Tepat pukul 02:17, sebuah notifikasi muncul.
*Nocturnal_Flower: "Dia melakukannya lagi. Kurasa pria itu tidak punya jantung, hanya ada mesin algoritma yang terprogram untuk menyiksa orang."*
Arka tersenyum tipis. Ini adalah interaksi mereka yang kesekian kalinya. Nocturnal_Flower adalah sosok yang menarik—ekspresif, sarkastis, namun memiliki kerapuhan yang selalu berhasil menyentuh sisi empati Arka yang paling dalam.
*X: "Mesin algoritma? Itu perumpamaan yang c**up kasar, Flower. Apa yang dilakukan 'bos tiran'-mu kali ini?"*
Arka mengetik sambil menyesap sisa kopi dinginnya. Ia membayangkan sosok di balik akun itu—mungkin seorang pegawai kantoran biasa yang terjebak dalam tuntutan korporat, sama seperti dirinya, meski dari sisi yang berbeda.
*Nocturnal_Flower: "Bayangkan saja, X. Jam sepuluh malam, saat aku sudah bersiap untuk memejamkan mata, sebuah surel ma**k. Dia memintaku mengubah seluruh palet warna kampanye 'Spring Bloom' dari Midnight Blue ke Royal Indigo. Alasannya? Katanya, Midnight Blue terasa terlalu 'depresi' untuk musim semi. Depresi! Dia tidak tahu kalau yang sebenarnya depresi itu adalah aku yang harus mengerjakannya sampai subuh!"*
Gerakan tangan Arka yang hendak meletakkan cangkir mendadak terhenti. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
*Midnight Blue ke Royal Indigo?*
Ia segera mengalihkan pandangannya ke monitor kedua. Di sana, terbuka draf proyek 'Spring Bloom' yang baru saja ia tinjau tadi malam. Ia ingat betul telah mengirimkan surel revisi kepada desainer utamanya tepat pukul 22:00. Ia memang meminta perubahan warna tersebut karena merasa palet yang ada kurang memberikan kesan mewah yang ia inginkan.
Arka menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran konyol itu. Kebetulan. Ini pasti hanya kebetulan. Berapa banyak perusahaan di Jakarta yang sedang menyiapkan kampanye musim semi? Pasti ribuan.
Namun, jemarinya terus menari di atas layar, didorong oleh rasa penasaran yang mendesak.
*X: "Mungkin dia hanya ingin yang terbaik untuk proyek itu. Royal Indigo memang memberikan kesan yang lebih premium, bukan?"*
*Nocturnal_Flower: "Premium kepalamu! Maaf, aku emosi. Masalahnya bukan soal warnanya, X. Masalahnya adalah dia tidak pernah melihat manusia di balik layar monitor ini. Baginya, aku hanya alat. Tadi siang, dia mengembalikan desainku hanya karena jarak antar hurufnya kurang 0,5 milimeter. Dia bilang, 'Rhea, presisi adalah harga diri.' Siapa yang bicara seperti itu di dunia nyata?"*
Napas Arka tertahan. Nama itu. *Rhea*.
Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Arka menatap nama "Rhea" di layar ponselnya, lalu beralih ke folder di komputernya yang bertajuk: *DEVISI KREATIF - RHEA ANINDYA.*
Tangannya sedikit gemetar saat ia menelusuri riwayat percakapan mereka di forum 'Nir-Tidur' selama satu bulan terakhir. Ia mulai menyambungkan titik-titik yang selama ini ia abaikan.
Minggu lalu, Nocturnal_Flower bercerita tentang tumpahan kopi di kemeja putihnya saat terburu-buru mengejar lift. Arka ingat melihat Rhea ma**k ke ruang rapat dengan noda kecokelatan kecil di pinggangnya, wajahnya pucat pasi ketakutan.
Dua minggu lalu, Nocturnal_Flower mengeluh tentang kucingnya yang sakit sehingga ia kurang fokus bekerja. Arka teringat bagaimana ia menegur Rhea karena hasil *layout*-nya berantakan, tanpa tahu bahwa gadis itu sedang menahan tangis karena mencemaskan peliharaannya.
Setiap makian, setiap keluhan, dan setiap tetes air mata yang dituangkan Nocturnal_Flower di forum ini... semuanya ditujukan kepadanya. Kepada Arka.
"Jadi... ini kau?" bisik Arka pada kesunyian ruang kerjanya.
Ia menatap foto profil anonim Nocturnal_Flower—sebuah siluet bunga layu di bawah cahaya bulan. Di kantor, Rhea adalah gadis pendiam yang selalu menunduk setiap kali ia lewat, yang jemarinya selalu lincah di atas tablet grafis, dan yang sorot matanya selalu memancarkan ketakutan setiap kali ia mendekat.
Ternyata, di balik ketundukan itu, ada seorang wanita yang berani menyebutnya "monster tanpa jantung" dan "mesin algoritma."
Arka merasa dadanya sesak. Ada perpaduan aneh antara rasa bersalah yang tajam dan ketertarikan yang semakin dalam. Selama ini, ia merasa telah menemukan belahan jiwa di forum ini—seseorang yang memahami kesepiannya, seseorang yang mendengarkan tanpa menghakimi. Dan ternyata, orang itu adalah orang yang paling ia tekan di dunia nyata.
Ponselnya bergetar lagi.
*Nocturnal_Flower: "X? Kamu masih di sana? Maaf, aku terlalu banyak mengeluh ya? Hanya kamu satu-satunya tempatku bisa jujur tanpa takut dipecat."*
Arka menatap kolom percakapan itu c**up lama. Ia ingin sekali mengetik, *"Aku minta maaf, Rhea."* Ia ingin menjelaskan bahwa standarnya yang tinggi adalah caranya untuk bertahan di industri yang kejam ini. Namun, ia tahu jika ia melakukannya sekarang, semuanya akan hancur. Kejujuran itu akan membangun tembok yang lebih tinggi di antara mereka. Rhea akan membencinya lebih dari sekarang.
Ia meletakkan ponselnya di meja dengan posisi tertelungkup. Ia bangkit, berjalan menuju jendela kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta yang mulai meredup.
Arka menyadari satu hal yang mengerikan. Ia telah jatuh cinta pada jiwa yang ia hancurkan setiap hari di kantor.
Ia kembali ke meja kerja, mengambil ponselnya dengan tekad yang baru. Ia tidak bisa berhenti sekarang. Ia perlu tahu lebih banyak. Ia perlu memahami di mana letak batas antara Arka sang CEO dan 'X' sang pendengar setia.
*X: "Aku masih di sini, Flower. Jangan berhenti. Katakan padaku... apa lagi yang dilakukan bosmu itu hari ini?"*
Sambil menunggu balasan, Arka membuka draf surel baru di laptopnya. Ia mengetik nama Rhea Anindya sebagai penerima. Ia sempat ragu sejenak, jarinya melayang di atas tombol *backspace*, sebelum akhirnya ia menulis sebuah instruksi revisi baru yang sebenarnya bisa menunggu sampai besok pagi—hanya untuk melihat apakah beberapa menit kemudian, Nocturnal_Flower akan kembali memaki dirinya di forum tersebut.
Ia ingin memastikan sekali lagi, meski hatinya sudah tahu jawabannya. Ia sedang bermain api, dan ia tahu cepat atau lambat, ia akan terbakar oleh resonansi yang ia ciptakan sendiri.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!