Lampu meja di ruang kerja apartemen Arka berpijar redup, menyisakan kerucut cahaya kuning yang hanya menerangi laptop dan segelas espresso dingin yang sudah tak tersentuh selama dua jam. Jarum jam dinding berdetak malas, merayap menuju angka dua. Di luar jendela besar yang menghadap pusat Jakarta, lampu-lampu kota tampak seperti sisa-sisa bara api yang mulai padam.
Arka menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang dingin. Pijatan di pangkal hidungnya tidak berhasil meredakan sakit kepala yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Di layar laptop, dua jendela peramban terbuka berdampingan—sebuah perbandingan yang sejak sejam lalu membuat napasnya terasa sesak.
Di sebelah kiri, dasbor admin forum 'Nir-Tidur' menampilkan profil pengguna berinisial 'Rhea-nindya'. Di sebelah kanan, sistem manajemen internal perusahaan miliknya menampilkan data karyawan atas nama Rhea Anindya, Senior Graphic Designer.
"Tidak mungkin," bisiknya pelan, suaranya parau tertelan kesunyian ruangan.
Arka menggerakkan kursor, menelusuri riwayat aktivitas 'Rhea-nindya' di forum. Tanggal 14 Maret, pukul 02:45 pagi.
*Postingan: "Baru saja menyelesaikan revisi kelima untuk logo yang sebenarnya sudah sempurna di revisi kedua. Si Robot itu sepertinya tidak punya selera, atau mungkin dia hanya benci melihat orang lain tidur nyenyak. Aku ingin melempar tablet grafisku ke wajahnya."*
Arka memejamkan mata sejenak. Ia ingat betul malam itu. Ia mengirimkan email revisi pada pukul 01:15 karena ia merasa komposisi warna pada proyek *reb**nding* "Ametis" kurang memiliki kedalaman. Ia tidak memikirkan kelelahan Rhea; ia hanya memikirkan kesempurnaan hasil akhir.
Ia kembali membuka tab pekerjaan Rhea di sistem kantor. *Log* aktivitas menunjukkan bahwa Rhea mengunggah file revisi terakhir pada pukul 02:30 pagi. Jeda lima belas menit sebelum dia menumpahkan amarahnya di forum anonim itu.
Jari-jari Arka gemetar saat ia membuka log alamat IP. Sebagai seseorang dengan latar belakang teknis yang kuat, ia tahu cara memverifikasi apa yang ia curigai. Ia melakukan perbandingan silang antara alamat IP yang digunakan saat Rhea mengakses server kantor dari rumah dengan alamat IP yang digunakan saat akun 'Rhea-nindya' ma**k ke forum.
Hasilnya identik.
Arka tertegun. Dunia seolah berputar lebih lambat. Selama enam bulan terakhir, ia telah menjalin hubungan emosional yang paling jujur dalam hidupnya dengan seseorang bernama 'X'. Di forum itu, ia bukan Arka sang CEO yang dingin dan tak tersentuh. Di sana, ia adalah pria kesepian yang mencari pelarian dari ekspektasi dunia. Dan 'Rhea-nindya'—atau Rhea—adalah satu-satunya orang yang memahaminya.
Rhea adalah orang yang menertawakan lelucon garingnya di pukul tiga pagi. Rhea adalah orang yang memberinya semangat saat ia bercerita tentang tekanan dari dewan komisaris, meski tanpa menyebutkan jabatan aslinya. Rhea adalah 'rumah' virtual yang ia tuju saat kenyataan terasa terlalu mencekik.
Namun, Rhea juga adalah wanita yang setiap pagi ia temui di kantor dengan wajah pucat dan lingkaran hitam di bawah mata. Wanita yang ia berikan tumpukan pekerjaan tambahan tanpa kata tolong. Wanita yang selalu menunduk setiap kali ia lewat, seolah-olah kehadirannya adalah awan mendung yang membawa badai.
"Aku... aku adalah 'Si Robot' itu," gumam Arka.
Ia teringat percakapan mereka semalam di forum. Rhea bercerita betapa ia merasa tidak berharga karena atasannya tidak pernah memberikan apresiasi, hanya kritik tajam yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Arka—sebagai 'X'—telah menghiburnya, mengatakan bahwa atasannya hanyalah pria malang yang tidak tahu cara menghargai keindahan.
Rasa mual tiba-tiba naik ke kerongkongannya. Ia telah menjadi pahlawan di malam hari bagi wanita yang ia siksa di siang hari. Ia telah menjadi obat bagi luka yang ia ciptakan sendiri.
Arka berdiri, berjalan menuju jendela kaca yang dingin. Pantulan wajahnya di kaca tampak asing. Wajah seorang pria yang sukses secara profesional namun bangkrut secara moral. Ia memikirkan semua revisi tidak ma**k akal yang ia berikan hanya karena ia merasa standar Rhea bisa lebih tinggi lagi, tanpa pernah peduli bahwa di balik layar monitor itu, ada seorang manusia yang sedang hancur perlahan-lahan.
Dilema besar kini menghantamnya. Jika ia berterus terang, Rhea mungkin akan membencinya lebih dari apapun. Dia akan merasa dikhianati; merasa bahwa ruang aman yang ia miliki di 'Nir-Tidur' telah dicemari oleh kehadiran bos yang ia benci. Namun, jika Arka diam, ia terus melanjutkan kebohongan ini. Ia akan terus berperan sebagai dua orang yang berbeda, mencint** dan menyakiti wanita yang sama dalam satu putaran waktu yang g***.
Ia kembali ke meja kerjanya, melihat ponselnya yang bergetar.
*02:17.*
Sebuah notifikasi muncul dari aplikasi 'Nir-Tidur'.
**Rhea-nindya:** *"X, kau di sana? Hari ini sangat berat. Si Robot itu baru saja menambah beban kerja untuk akhir pekan. Aku merasa ingin menangis, tapi aku tidak punya energi bahkan untuk itu. Bisakah kita bicara?"*
Arka menatap pesan itu dengan mata panas. Jemarinya melayang di atas keyboard, ragu. Ia ingin membalas, ingin meminta maaf, ingin mengatakan bahwa ia akan membatalkan semua pekerjaan itu besok pagi. Namun, setiap kata yang ingin ia ketik terasa seperti duri.
Bagaimana bisa ia memberikan penghiburan, sementara ia tahu bahwa esok pagi, ia tetap harus menjadi 'Si Robot' agar rahasia ini tidak terbongkar?
Tangannya gemetar saat ia mulai mengetik balasan, namun sebuah pikiran gelap tiba-tiba melintas. Bagaimana jika ini bukan sekadar kebetulan? Bagaimana jika Rhea sebenarnya sudah tahu dan sedang mempermainkannya? Tidak, sorot mata Rhea di kantor terlalu tulus dalam ketakutannya. Dia benar-benar tidak tahu.
Arka menarik napas panjang, lalu mengetik dengan ragu.
**X:** *"Aku di sini, Rhea. Ceritakan padaku semuanya. Apa yang dilakukan 'Si Robot' itu kali ini?"*
Saat menekan tombol kirim, Arka merasa seolah-olah ia baru saja menandatangani kontrak dengan i****. Ia sedang menggali lubang yang lebih dalam, dan ia tahu, suatu saat nanti, lubang itu akan menelannya hidup-hidup.
Namun, untuk saat ini, yang ia pedulikan hanyalah membuat Rhea merasa sedikit lebih baik, meski itu berarti ia harus terus menjadi penjahat di balik layar. Tanpa ia sadari, di sudut sistem pencatatan kantor yang masih terbuka, sebuah notifikasi email ma**k muncul. Itu dari departemen HR, mengenai surat pengunduran diri yang baru saja dikirimkan oleh seseorang beberapa menit yang lalu.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!