Cangkir kopi di atas mejaku sudah mendingin, meninggalkan lingkaran cokelat kering di permukaan meja kayu yang mulai kusam. Aku menatap layar monitor dengan mata perih. Jemariku masih sedikit gemetar, sisa dari debaran hangat yang kualami tadi malamβatau lebih tepatnya, dini hari tadiβsaat berbincang dengan X. Di balik layar ponsel, dunia terasa begitu luas dan penuh penerimaan. Namun di sini, di bawah pendar lampu neon kantor yang pucat, dunia menyempit menjadi kotak kaca berukuran empat kali empat meter milik Arka Danuarta.
"Rhea, ma**k ke ruangan saya. Sekarang."
Suara itu datar, dingin, dan tidak menerima bantahan. Lewat interkom yang terpasang di sudut meja, perintah itu terdengar seperti vonis. Aku menghela napas panjang, mencoba merapikan tumpukan kertas revisi yang sudah kububuhi catatan penuh coretan tinta merah.
Aku melangkah menuju ruangan di ujung lorong. Ruangan itu selalu terasa lebih dingin beberapa derajat dibanding area staf lainnya. Melalui dinding kaca yang transparan, aku bisa melihat Arka sedang duduk di balik meja m***ninya yang luas. Ia tidak menatap ke arah pintu saat aku ma**k. Fokusnya tertuju pada tablet grafis, namun rahangnya yang mengeras menunjukkan bahwa suasana hatinya sedang tidak baik.
"Duduk," perintahnya tanpa menoleh.
Aku menarik kursi ergonomis di hadapannya dengan suara decit halus yang terasa m****akkan telinga dalam keheningan itu. Aku meletakkan hasil cetak desain logo terbaru untuk proyek *reb**nding* "Astraea Hotel" di atas mejanya.
"Ini revisi ke-14 yang Bapak minta. Saya sudah menyesuaikan palet warnanya menjadi lebihβ"
"Berhenti," potong Arka tiba-tiba. Ia meletakkan *stylus pen*-nya dan akhirnya mengangkat wajah.
Tatapan matanya biasanya tajam, tetapi hari ini ada sesuatu yang berbeda. Ada semacam tembok es yang lebih tebal dari biasanya. Ia seolah sengaja tidak ingin melihatku sebagai manusia, melainkan hanya sebagai mesin penghasil piksel yang gagal. Ia meraih kertas desainku dengan ujung telunjuk, lalu melemparkannya kembali ke arahku hingga kertas itu merosot ke lant**.
"Apa ini, Rhea? Saya minta elegan, bukan kekanak-kanakan," suaranya rendah, namun setiap katanya terasa seperti silet yang mengiris harga diriku. "Warna *gold* ini terlihat seperti karat. Dan tipografinya? Kamu pikir kita sedang membuat undangan ulang tahun balita?"
Aku meremas ujung kemejaku di bawah meja. "Tapi Pak, di revisi ke-12, Bapak sendiri yang bilang ingin pendekatan yang lebih organik dan hangat. Saya hanya mencoba mengikuti instruksiβ"
"Instruksi saya adalah membuat sesuatu yang berkelas, bukan sesuatu yang biasa-biasa saja!" Arka tiba-tiba berdiri, kedua tangannya bertumpu pada meja, condong ke arahku. "Kalau kamu tidak bisa menerjemahkan visi saya, mungkin masalahnya bukan pada instruksinya, tapi pada kemampuan kamu yang memang sudah mencapai batasnya."
Kalimat itu menghantam ulu hatiku. Aku merasakan panas menjalar di balik kelopak mataku. Sebagai desainer, aku sudah biasa dikritik, tapi Arka hari ini terasa sangat personal. Ia biasanya perfeksionis yang menyebalkan, tapi kali ini ia bersikap seolah-olah kehadiranku di sini adalah sebuah beban besar baginya. Ia tidak menatap mataku lebih dari dua detik, seolah ada rasa jijik atau kecanggungan yang luar biasa yang berusaha ia tutupi dengan amarah.
"Saya sudah bekerja lembur tiga malam berturut-turut untuk proyek ini, Pak," suaraku bergetar, pertahanan terakhirku mulai runtuh. "Jika ada bagian spesifik yang tidak sesuai, tolong beri tahu saya dengan jelas, jangan hanya bilang ini 'sampah'."
Arka tertawa sinis, suara yang tidak mencapai matanya. "Lembur bukan jaminan kualitas, Rhea. Saya tidak membayar kamu untuk mengantuk di meja kerja. Saya membayar untuk hasil. Sekarang bawa sampah ini keluar, ganti semua konsepnya. Saya mau lihat sesuatu yang baru di meja saya besok jam delapan pagi. Tanpa alasan."
Ia kembali duduk dan langsung menyibukkan diri dengan ponselnya, mengabaikanku seolah-olah aku hanyalah perabot tambahan yang tidak berfungsi.
Aku memungut kertas-kertas di lant** dengan tangan yang gemetar hebat. Dadaku sesak. Aku ingin berteriak, ingin membanting pintu, atau setidaknya bertanya apa salahku hingga ia memperlakukanku seburuk ini. Namun, aku hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahku yang mulai basah oleh air mata yang tak terbendung lagi.
Saat aku berjalan menuju pintu, aku sempat melirik ke arahnya. Arka tampak mematung, matanya menatap kosong ke arah layar ponsel, namun tangannya terkepal erat di atas meja. Ada kegelisahan yang aneh di balik topeng dinginnya, tapi aku terlalu hancur untuk peduli.
Aku kembali ke mejaku saat jam kantor sudah hampir berakhir. Rekan-rekan kerja yang lain sudah mulai bersiap pulang, memberikan tatapan simpati yang justru membuatku merasa semakin kecil. Aku terduduk lemas, menatap kursor yang berkedip-kedip di layar monitor yang kosong. Putih. Bersih. Seolah-olah semua kerja kerasku selama seminggu ini tidak pernah ada harganya.
Duniaku di kantor adalah neraka yang diciptakan oleh Arka. Aku benci pria itu. Aku benci bagaimana dia bisa menghancurkan rasa percaya diriku hanya dengan satu kalimat. Aku benci bagaimana dia tidak pernah melihat usaha di balik setiap garis yang kubuat.
Secara refleks, tanganku meraih ponsel. Aku membuka aplikasi 'Nir-Tidur'. Hanya ada satu tempat di mana aku tidak merasa seperti sampah. Hanya ada satu orang yang mendengarkan tanpa menghakimi, yang menghargai setiap emosiku tanpa menuntut revisi.
Aku melirik jam di sudut kanan bawah komputer. Masih sore. Masih terlalu lama menuju pukul 02:17.
Namun, rasa sesak ini sudah tidak tertahankan. Dengan jemari yang masih gemetar, aku mengetikkan pesan di kolom obrolan pribadi dengan X, meski tahu dia mungkin tidak akan membalas sampai dini hari nanti.
*X, hari ini sangat berat. Aku merasa tidak berguna. Aku merasa ingin menyerah pada semuanya. Kenapa dunia nyata harus sekejam ini?*
Aku mengirim pesan itu, lalu menelungkupkan wajah di atas meja, membiarkan tangis yang tertahan sejak tadi tumpah di antara tumpukan revisi yang ditolak. Aku tidak tahu bahwa di ruangan kaca yang gelap di ujung lorong, sebuah ponsel di atas meja m***ni bergetar, menampilkan notifikasi yang membuat pria di dalamnya terkesiap dan memejamkan mata dengan penuh penyesalan.
Satu layar menyala dengan kebencian, layar lainnya menyala dengan rasa bersalah yang tak terucap. Dan waktu seolah melambat, merangkak menuju angka dua lewat tujuh belas yang kini terasa seperti satu-satunya penyelamat sekaligus ancaman terbesar.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!