Cahaya biru dari layar monitor adalah satu-satunya sumber kehidupan di kamar apartemen yang luas dan minimalis itu. Arka menyandarkan punggungnya ke kursi kerja ergonomis, membiarkan kepalanya terkulai ke belakang sejenak. Matanya terasa panas, seolah ada pasir halus yang terselip di bawah kelopak. Di atas meja kayu ek yang bersih, secangkir espresso yang sudah mendingin menyisakan ampas hitam di dasarnya.
Jam digital di sudut layar menunjukkan pukul 02:14. Tiga menit menuju waktu yang ia nantikan, sekaligus waktu yang ia takuti.
Arka menghela napas panjang, jemarinya bergerak ragu di atas *trackpad*. Ia teringat raut wajah Rhea sore tadi di kantor. Gadis itu berdiri di depan mejanya dengan bahu yang merosot, menggenggam tablet grafisnya seolah itu adalah satu-satunya pelampung di tengah badai. Arka telah menolak desain revisi kelimanya hanya karena saturasi warna biru yang menurutnya "kurang memiliki jiwa". Ia melihat mata Rhea yang memerah, menahan air mata yang hampir tumpah, namun ia tetap memilih untuk bersikap dingin. Profesionalitas, pikirnya saat itu, tidak boleh berkompromi dengan rasa iba.
Namun sekarang, di keheningan kamar yang mencekam ini, tembok profesionalitas itu terasa mulai retak.
Tepat pukul 02:17, ia menyegarkan laman forum 'Nir-Tidur'. Sebuah notifikasi muncul. Satu unggahan baru dari akun dengan avatar siluet burung yang tampak rapuh.
*“Hari ini aku merasa seperti sebuah garis yang tidak sengaja terhapus. Ada, tapi tidak dianggap benar. Aku ingin menghilang saja ke dalam kanvas putih agar tidak perlu lagi mendengar suara tajam yang merobek kepercayaan diriku.”*
Jantung Arka berdenyut nyeri. Ia tahu persis siapa "suara tajam" yang dimaksud. Ia adalah pedang yang melukai gadis itu, dan sekarang, ia harus berpura-pura menjadi perban yang membalut lukanya.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Arka mengetik balasan. Ia bukan lagi Arka Pradipta, CEO yang ditakuti. Di sini, ia hanyalah ‘X’.
*“Garis yang terhapus sering kali meninggalkan jejak samar, sebuah memori tentang bentuk yang pernah ada. Jangan menghilang. Kanvas putih itu butuh warna-warnamu, meskipun orang yang memegangnya saat ini terlalu buta untuk melihat keindahannya.”*
Arka menekan *Enter*. Ia menunggu. Detik-detik terasa lambat, hanya diiringi detak jam dinding yang monoton.
Balasan muncul kurang dari satu menit kemudian.
*“X, kau selalu tahu apa yang harus dikatakan. Tapi bagaimana jika orang itu bukan buta, melainkan memang sengaja ingin menghancurkanku? Rasanya aku ingin menyerah. Besok pagi aku harus menghadapinya lagi, dan aku takut suaraku akan hilang sepenuhnya saat dia mulai bicara.”*
Arka memejamkan mata erat-erat. Ia bisa membayangkan Rhea sedang meringkuk di atas tempat tidurnya, memeluk lutut dengan ponsel di tangan, merasa sangat kesepian di dunia yang begitu bising. Rasa bersalah membuncah di dadanya, menyesakkan napas. Ingin rasanya ia mengetik: *Maafkan aku, Rhea. Besok aku tidak akan membentakmu. Besok aku akan menerima desainmu.*
Namun, akal sehatnya mencegah. Jika ia tiba-tiba berubah drastis di kantor, Rhea akan curiga. Rahasia 'X' adalah satu-satunya jembatan jujur yang mereka miliki. Jika ia menghancurkannya sekarang, ia akan kehilangan akses ke sisi manusiawi Rhea yang paling murni.
*“Jangan biarkan dia mengambil suaramu,”* tulis Arka, kali ini dengan tempo yang lebih lambat. *“Anggaplah dia sebagai ujian teknis. Dia mungkin keras, tapi dia hanya sebuah hambatan, bukan akhir dari kariermu. Kau jauh lebih berbakat daripada yang kau bayangkan. Aku sudah melihat karyamu yang kau ceritakan dulu. Kau punya 'jiwa' di setiap goresanmu.”*
*“Kau sungguh berpikir begitu?”* balas Rhea cepat. *“Terkadang aku merasa kau lebih mengenalku daripada orang-orang yang kutemui setiap hari. Terima kasih, X. Setidaknya malam ini aku bisa memejamkan mata tanpa merasa sepenuhnya gagal.”*
Arka menatap layar itu lama. Kalimat "kau lebih mengenalku daripada orang-orang yang kutemui setiap hari" terasa seperti tamparan keras. Ia mengenal Rhea sebagai 'X', tapi sebagai Arka, ia adalah orang asing yang paling dibenci gadis itu.
Ia ingin sekali memberikan kenyamanan lebih. Ia ingin membelikan gadis itu cokelat panas atau sekadar menepuk bahunya dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, di dunia nyata, ia terperangkap dalam perannya sendiri. Seorang perfeksionis yang tidak boleh terlihat lemah.
Pukul 02:45. Percakapan mereka berakhir saat Rhea berpamitan untuk tidur. Arka tetap duduk di posisinya, menatap kursor yang berkedip-kedip di layar kosong.
Besok adalah hari Selasa. Hari di mana Rhea harus mempresentasikan revisi keenamnya. Arka melirik tumpukan dokumen di sisi mejanya. Ada laporan proyek yang menunjukkan betapa pentingnya desain Rhea untuk memenangkan klien besar. Ia tahu ia menuntut banyak karena ia ingin Rhea bersinar, karena ia tahu potensi gadis itu jauh melampaui batas yang ia buat sendiri. Tapi caranya salah. Ia terlalu kaku, terlalu dingin.
Arka meraih ponsel pribadinya, membuka aplikasi memo, dan menuliskan sesuatu untuk dirinya sendiri sebagai pengingat untuk pertemuan besok.
*“Berikan dia ruang untuk bicara. Jangan langsung memotong.”*
Ia menghapus kalimat itu. Terlalu lembek. Ia mengubahnya lagi.
*“Evaluasi dengan objektif. Kurangi nada bicara yang mengintimidasi.”*
Ia mendesah frustrasi, lalu melemparkan ponselnya ke atas ka**r. Dilema itu merayap seperti kabut; antara keinginannya untuk melindungi perasaan Rhea sebagai 'X' dan tanggung jawabnya untuk membentuk Rhea menjadi desainer kelas dunia sebagai Arka.
Lampu apartemen dimatikan. Arka berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang gelap. Pikirannya melayang pada pertemuan esok pukul sembilan pagi. Ia tahu, saat matahari terbit, ia harus kembali memakai topeng CEO dinginnya. Namun, bayangan Rhea yang menangis di balik layar terus menghantuinya.
Satu pertanyaan mengusik nuraninya sebelum ia terlelap: Sampai kapan ia bisa bertahan menjadi pahlawan di dunia maya bagi orang yang ia siksa di dunia nyata?
Esok pagi akan menjadi ujian yang berat. Dan Arka tahu, satu kata salah darinya besok bisa menghancurkan segalanya—baik pekerjaan Rhea, maupun koneksi rapuh yang baru saja ia bangun sebagai 'X' pada pukul 02:17 tadi. Namun, saat ia mulai terlelap, sebuah ide g*** melintas. Bagaimana jika besok, ia memberikan sedikit celah? Sedikit saja sinyal bahwa Arka dan 'X' mungkin memiliki satu frekuensi yang sama.
Masalahnya, apakah Rhea siap untuk melihat sisi lain dari "monster" yang ia benci itu? Ataukah kejujuran justru akan menjadi akhir dari resonansi mereka? Arka tidak punya jawabannya, dan ketidakpastian itu terasa jauh lebih dingin daripada udara AC di kamarnya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!