Cangkir kopi di atas meja kerja Rhea sudah mendingin, menyisakan lingkaran cokelat tipis di dasarnya. Matanya terasa perih, seperti ada butiran pasir yang terselip di bawah kelopak, sisa dari percakapan mendalam dengan 'X' hingga pukul tiga pagi tadi. Di layar monitor, desain *reb**nding* untuk PT Mahardika masih terpampang, menanti eksekusi mati dari sang CEO.
Rhea menarik napas panjang, merapikan duduknya saat mendengar langkah sepatu pantofel yang berirama tegas di koridor. Ia hafal bunyi itu. Itu adalah bunyi lonceng kematian bagi kreativitasnya. Arka Pradipta biasanya akan melangkah ma**k, berhenti tepat di belakang kursi Rhea tanpa salam, lalu menunjuk layar dengan pulpen mahalnya seolah-olah sedang menunjukkan noda di kain putih bersih.
"Rhea."
Suara itu datang lebih rendah dari biasanya. Rhea memutar kursinya, sudah menyiapkan mental untuk rentetan revisi "kurang bernyawa" atau "kurang premium" yang biasa ia terima. Ia memaksakan senyum profesional yang tipis.
"Iya, Pak Arka? Untuk revisi Mahardika, saya sudah siapkan tiga opsi alternatif—"
"Tidak perlu," potong Arka.
Rhea tertegun. Kalimatnya menggantung di udara. Arka tidak melihat ke arah monitor. Alih-alih, tatapannya justru tertuju pada sebuah bungkusan kecil di tangannya—sebuah roti lapis dari toko roti organik di seberang kantor yang antreannya selalu mengular setiap pagi.
"Kamu melewatkan jam makan siang kemarin karena menyelesaikan *layout* majalah internal. Jangan sampai pingsan di meja kerja saya. Itu akan merepotkan administrasi HRD," ujar Arka datar, seraya meletakkan bungkusan itu di samping tetikus Rhea.
Rhea mengerjap-erjap. Tangannya yang tadinya siap memegang buku catatan kini gemetar kecil. "Maaf, Pak? Ini... untuk saya?"
Arka berdeham, sedikit menyesuaikan letak kacamata *rimless*-nya yang sebenarnya sudah sempurna. "Anggap saja itu kompensasi karena saya menyuruhmu lembur dua hari berturut-turut. Dan soal desain Mahardika..." Arka menjeda, matanya beralih sebentar ke layar. Rhea menahan napas. "Gunakan opsi pertama. Saya rasa pemilihan palet warna biru *midnight* itu punya... resonansi yang bagus. Tidak perlu diubah lagi."
Setelah mengatakan itu, Arka berbalik dan melangkah pergi menuju ruangannya tanpa menunggu reaksi Rhea.
Rhea terpaku. Dunianya seolah miring beberapa derajat. Selama dua tahun bekerja di bawah Arka, kata "tidak perlu diubah lagi" adalah mitos yang lebih langka daripada komet Halley. Biasanya, Arka akan mempermasalahkan jarak antar huruf hingga hitungan piksel. Tapi hari ini?
"Rhea, lo pakai dukun mana?" bisik Maya, rekan di meja sebelah, sambil melongok dengan mata membelalak. "Si I**** Berjas itu barusan ngasih lo makanan? Dan nerima desain tanpa revisi? Dunia mau kiamat?"
"Gue... gue nggak tahu, May," jawab Rhea jujur. Ia menyentuh bungkusan roti itu. Masih hangat. "Mungkin dia salah makan."
Ketidakwajaran itu berlanjut sepanjang siang. Saat rapat koordinasi sore hari, Arka biasanya akan memotong presentasi siapa pun yang bertele-tele dengan komentar pedas. Namun, ketika Rhea memaparkan konsep visual terbaru, Arka hanya menyimak dengan tangan menopang dagu. Sesekali, Rhea menangkap sorot mata Arka yang tidak sedingin biasanya. Ada sesuatu yang asing di sana—semacam rasa ingin tahu yang tertahan, atau mungkin... pengamatan yang terlalu intens.
"Ada pertanyaan, Pak Arka?" tanya Rhea saat menyadari bosnya itu terus menatapnya meski slide presentasi sudah berakhir.
Arka tersentak kecil, seolah baru saja ditarik kembali dari lamunan yang jauh. "Tidak. Kerja bagus, Rhea. Semuanya, rapat selesai. Pulanglah tepat waktu hari ini. Tidak ada lembur."
Ruang rapat seketika hening. Rekan-rekan Rhea saling pandang, mencari kamera tersembunyi karena menduga ini adalah bagian dari acara *prank*. Arka keluar lebih dulu, namun ia sempat berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh ke arah Rhea.
"Rhea, jangan lupa diminum tehnya. Saya dengar teh kamomil bagus untuk orang yang sulit tidur."
Lalu dia pergi, meninggalkan Rhea dalam kondisi membeku. Jantung Rhea berdegup kencang, bukan karena romansa, melainkan karena rasa takut yang merayap. Bagaimana Arka tahu dia sedang mengalami insomnia parah belakangan ini? Dan teh kamomil? Itu adalah hal spesifik yang ia ceritakan kepada 'X' di forum Nir-Tidur dua malam yang lalu.
*Hanya kebetulan,* batin Rhea mencoba menenangkan diri. *Banyak orang susah tidur di kantor ini. Semua orang tahu teh kamomil itu obat tidur alami. Itu cuma kebetulan.*
Rhea kembali ke mejanya dengan pikiran yang kalut. Ia mencoba fokus merapikan file, namun sebuah notifikasi di ponselnya muncul. Itu bukan dari grup kantor, melainkan dari aplikasi anonim 'Nir-Tidur'.
**X: Bagaimana harimu di dunia nyata? Apakah 'monster' itu masih mengganggumu?**
Rhea menelan ludah. Ia melirik ke arah pintu ruangan Arka yang tertutup rapat, hanya menyisakan bayangan siluet pria itu di balik kaca buram. Jemari Rhea bergetar saat mengetik balasan.
**Rhea: Sesuatu yang aneh terjadi hari ini, X. Monster itu... dia tiba-tiba berubah jadi manusia. Dia memberiku makanan. Dia memujiku. Dan dia mengatakan sesuatu yang membuatku merasa dia bisa membaca pikiranku. Ini menakutkan.**
Hanya butuh beberapa detik hingga balasan X muncul.
**X: Mungkin dia tidak seburuk yang kamu pikirkan. Mungkin dia hanya tidak tahu cara menunjukkan kalau dia peduli tanpa terlihat seperti monster.**
Rhea menatap layar ponselnya, lalu beralih menatap bungkusan roti yang masih tersisa separuh di mejanya. Ada sebuah firasat buruk yang mulai tumbuh di benaknya. Mengapa cara bicara X barusan terasa begitu mirip dengan nada bicara Arka saat di ruang rapat tadi?
Rhea menggeleng kuat-kuat. Tidak mungkin. Arka adalah pria yang mengutamakan logika dan efisiensi, sementara X adalah jiwa yang puitis dan rapuh yang ia temui di kegelapan pukul 02:17 pagi. Mereka adalah dua kutub yang berbeda.
Namun, saat Rhea hendak mengemasi tasnya, matanya tertuju pada secarik kertas kecil yang terselip di bawah kotak teh kamomil yang entah sejak kapan sudah ada di mejanya. Di sana tertulis sebuah catatan pendek dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas.
*Istirahatlah. Layar monitor bukan tempat terbaik untuk mencari ketenangan.*
Rhea menarik napas pendek. Kalimat itu. Itu adalah kalimat yang digunakan X untuk menutup percakapan mereka tadi subuh.
Rhea menoleh ke arah ruangan Arka. Lampu di dalam sana masih menyala. Melalui celah tirai yang sedikit terbuka, ia melihat Arka sedang menyesap kopi sambil menatap layar ponselnya—persis di saat ponsel Rhea bergetar sekali lagi menerima pesan baru dari X.
**X: Tidurlah lebih awal malam ini, Rhea. Jangan menunggu sampai pukul 02:17.**
Rhea merasa udara di sekitarnya mendadak menipis. Oksigen seolah lenyap dari paru-parunya saat sebuah kemungkinan yang mustahil mulai terasa begitu nyata. Ia berdiri dengan kaki lemas, meraih tasnya, dan melangkah keluar kantor secepat yang ia bisa, tanpa berani menoleh lagi ke arah ruangan CEO-nya.
Di balik pintu kaca itu, Arka mengamati punggung Rhea yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah campuran antara rasa bersalah, kerinduan, dan ketakutan bahwa topeng yang ia kenakan mulai retak di tempat yang salah.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!