Cahaya dingin dari *ring light* berdiameter empat puluh sentimeter itu memba**h wajah Alana, menghapus setiap pori-pori dan ketidaksempurnaan yang mungkin tersisa setelah tiga lapis *foundation*. Di balik lensa iPhone 15 Pro Max miliknya, Alana tidak melihat dirinya sendiri; ia melihat sebuah produk yang dipoles sempurna. Dengan gerakan lincah yang sudah mendarah daging, ia menggeser unt**an rambut cokelatnya ke bahu kiri, memastikan sudut rahangnya terlihat setajam silet.
"Hanya butuh satu *hook* yang pas," gumamnya, suaranya serak karena kurang minum.
Alana melirik angka di pojok kanan atas layar tabletnya. Grafik keterlibatan pengikutnya menurun 0,5 persen dalam dua jam terakhir. Angka merah itu terasa seperti luka sayat di kulitnya. Bagi orang lain, itu mungkin hal sepele, tapi bagi Alana, itu adalah sinyal bahaya. Di dunia digital yang bergerak secepat detak jantung, diam berarti mati. Menjadi tidak relevan adalah ketakutan yang lebih nyata daripada hantu mana pun yang pernah ia dengar di cerita masa kecilnya.
Ia meletakkan kopi oat milk-nya yang sudah dingin ke atas meja marmer, lalu kembali menggulir layar TikTok. Jempolnya bergerak mekanis, melewati video tarian yang membosankan dan tutorial masak yang tidak ia butuhkan. Tiba-tiba, sebuah tagar merayap ma**k ke puncak *trending*: #TrueFace.
Alana mengerutkan kening. Satu per satu, *influencer* papan atas yang ia kenal—orang-orang yang biasanya memamerkan filter kecantikan yang membuat mereka tampak seperti dewa-dewi Yunani—kini mengunggah video dengan filter baru ini. Namun, ada yang aneh. Reaksi mereka bukan tawa atau pujian. Wajah-wajah di layar itu tampak pucat, sebagian tertawa gugup, sebagian lagi hanya menatap kamera dengan mata yang tidak berkedip.
"Filter apa lagi ini? *True Face*?" Alana bergumam, jempolnya mengetuk ikon filter tersebut.
Deskripsinya singkat, hampir terlalu sederhana: *Lihat apa yang sebenarnya ada di sana.*
Alana mendengus remeh. Pasti ini strategi pemasaran jenius dari pengembang aplikasi untuk menarik perhatian dengan narasi 'kejujuran' atau semacamnya. Namun, rasa penasaran yang bercampur dengan ambisi mulai membakar dadanya. Jika ia menjadi salah satu orang pertama yang melakukan *review* mendalam terhadap filter ini dengan estetika kelas atas miliknya, grafiknya pasti akan melonjak kembali ke zona hijau.
Ia meraih ponselnya, memasangnya pada tripod, dan menyesuaikan pencahayaan agar suasana kamarnya yang minimalis tampak sedikit lebih 'bernuansa'. Ia ingin video ini terlihat jujur, tapi tetap mahal.
"Hai, *Guys*," ucap Alana ke arah kamera, suaranya berubah menjadi nada ceria dan akrab yang biasa ia gunakan untuk jutaan pengikutnya. "Kalian pasti sudah lihat tren #TrueFace yang lagi viral banget sekarang, kan? Banyak yang bilang filter ini bisa menunjukkan... *well*, 'wajah asli' kita. *Let's see if my skincare routine actually works or if this filter is just another glitchy mess*."
Ia tertawa kecil, tawa yang sudah ia latih di depan cermin selama bertahun-tahun. Jarinya melayang di atas tombol rekam. Detik itu juga, ada firasat halus yang menggelitik tengkuknya. Hawa dingin yang tidak berasal dari AC mulai merayap di ruangan itu. Namun, Alana mengabaikannya. Keinginan untuk divalidasi jauh lebih kuat daripada insting bertahan hidupnya.
Klik. Rekaman dimulai.
Alana menggeser kursor filter ke arah wajahnya sendiri. Di layar, sebuah lingkaran pemindai berwarna putih tipis mulai bergerak naik-turun, memetakan struktur tulang dan kontur kulitnya. Alana tersenyum tipis, siap untuk melontarkan komentar sarkastik tentang betapa halusnya kulitnya bahkan di bawah filter 'kejujuran' sekalipun.
Namun, lingkaran pemindai itu tiba-tiba berubah warna menjadi merah pekat.
Layar ponselnya berkedip sekali. Dua kali. Garis-garis distorsi digital mulai mengganggu gambar. Alana mengerutkan kening, mendekatkan wajahnya ke lensa. "Aneh, kok *glitch* begini, ya?"
Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka. Siska, asisten pribadinya, ma**k membawa tumpukan baju hasil *endorsement* terbaru. Siska adalah wanita pendiam yang sudah bekerja dengannya selama dua tahun.
"Mbak Alana, baju untuk pemotretan besok sudah—"
Kalimat Siska terputus. Alana tidak menoleh ke arah pintu. Matanya terpaku pada layar ponsel yang masih mengarah ke depan, menangkap sosok Siska yang ma**k ke dalam bingkai video di belakang bahu Alana.
Napas Alana tercekat di tenggorokan.
Di layar ponselnya, Siska tidak tampak seperti Siska. Di balik filter 'True Face' itu, di dalam raga asistennya yang kurus, sesuatu yang lain sedang menghuni. Di balik kulit leher Siska, ada sesuatu yang berdenyut-denyut—sesuatu yang hitam, panjang, dan menyerupai tentakel halus yang menjalar ke arah pangkal tengkorak. Mata Siska di layar ponsel tidak memiliki pupil; hanya ada lubang gelap yang mengeluarkan cairan pekat seperti oli.
Makhluk itu, parasit yang menyerupai gumpalan urat hitam menjijikkan, terlihat sedang menyedot sesuatu dari dalam tenggorokan Siska. Setiap kali Siska bernapas, makhluk itu ikut mengembang, seolah-olah kulit manusia Siska hanyalah plastik pembungkus tipis yang siap pecah kapan saja.
Alana membeku. Jantungnya berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya dengan keras. Ia perlahan menolehkan kepalanya, melihat Siska dengan mata kepalanya sendiri.
Secara fisik, Siska berdiri di sana dengan wajah biasanya—datar, sedikit lelah, tapi sepenuhnya manusia. Tidak ada tentakel, tidak ada cairan hitam. Ia tampak normal. Benar-benar normal.
Alana kembali menatap layar ponselnya. Di sana, makhluk di dalam tubuh Siska mendongak. Meski Siska yang asli tetap menatap tumpukan baju, 'sesuatu' yang ada di layar ponsel itu kini menatap langsung ke arah kamera. Mulut Siska di layar terbuka lebar, jauh lebih lebar dari yang bisa dilakukan rahang manusia, memperlihatkan barisan gigi-gigi kecil yang tumbuh tidak beraturan di dalam daging yang membusuk.
"Mbak Alana? Mbak nggak apa-apa?" tanya Siska yang asli, suaranya terdengar biasa saja, namun kini terdengar seperti suara dari balik kaleng tua di telinga Alana.
Alana menjatuhkan ponselnya ke atas meja. Tangannya gemetar hebat. Ia berusaha menghirup oksigen, tapi paru-parunya seolah menolak. Ia ingin berteriak, tapi ia teringat satu hal yang paling mengerikan.
Ia belum sempat mematikan tombol rekam. Dan filter itu masih aktif, kini tergeletak miring di meja, mengarah ke arahnya sendiri.
Dengan keberanian yang dipaksakan, Alana melirik layar ponselnya yang tergeletak. Ia ingin memastikan bahwa apa yang ia lihat hanyalah kesalahan sistem. Namun, saat kamera menangkap pantulan wajah Alana dari sudut bawah, jeritan yang sedari tadi tertahan akhirnya pecah.
Di layar itu, Alana tidak melihat wajah cantiknya. Ia tidak melihat parasit hitam seperti yang ada pada Siska.
Di balik filter itu, Alana tidak memiliki wajah sama sekali. Hanya ada hamparan daging rata yang halus dan kosong, seolah-olah seseorang telah menghapus keberadaannya dengan satu sapuan kuas digital, menyisakan kekosongan yang mengerikan di tempat di mana identitasnya seharusnya berada.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!