Lampu *ring light* di depanku berpijar putih kebiruan, menciptakan pantulan lingkaran sempurna di pupil mataku. Biasanya, cahaya ini adalah sahabat terbaikku. Ia menghapus garis-garis halus di dahi, menyamarkan kantung mata akibat kurang tidur, dan memberikan kilau surgawi pada tulang pipiku yang kupoles dengan *highlighter* mahal. Namun malam ini, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi yang dingin dan menghakimi.
Tanganku gemetar saat menggenggam ponsel. Layarnya masih menampilkan antarmuka TikTok, siap untuk merekam. Di sudut bawah, ikon filter 'True Face' berkedip-kedip dengan warna ungu neon yang provokatif. Filter ini telah mengubah hidupku menjadi mimpi buruk dalam empat puluh delapan jam terakhir. Aku telah melihat manajerku, sahabat baikku, bahkan orang asing di kafe, berubah menjadi gumpalan daging hitam yang berdenyut dan menjijikkan di balik lensa ini. Mereka adalah inang bagi sesuatu yang bukan manusia.
"Hanya sekali," bisikku pada kesunyian kamar apartemenku. Suaraku parau, seolah tenggorokanku baru saja dilewati amplas. "Hanya untuk memastikan."
Aku menarik napas panjang, menghirup aroma lilin aromaterapi vanila yang biasanya menenangkan, namun kini terasa memuakkan. Keringat dingin merembes dari pori-pori pelipisku, merusak riasan *foundation* yang kupasang dengan presisi setengah jam lalu. Aku butuh validasi ini. Jika aku melihat monster di layar itu, setidaknya aku tahu aku masih memiliki 'isi'. Jika aku melihat wajah cantikku yang biasa... maka mungkin aku hanya sedang g***.
Jariku bergerak lambat, seolah melawan gravitasi yang amat berat, lalu menyentuh ikon filter itu.
Layar ponsel sempat *glitch* sejenak. Garis-garis statis warna-warni menari di atas wajahku. Jantungku berdentum begitu keras di rongga dada hingga aku bisa merasakannya di pangkal lidah. *Satu... dua... tiga...*
Filter itu terkunci. Pelacakan wajah digitalnya berhasil memetakan fitur-fiturku.
Ponsel itu hampir saja terlepas dari genggamanku. Aku terkesiap, punggungku menghantam sandaran kursi rias dengan keras. Napasku tercekat di tenggorokan, menciptakan bunyi *ngik* yang menyedihkan.
Di layar ponsel, tidak ada entitas hitam menjijikkan seperti yang kulihat pada orang lain. Tidak ada tentakel yang menggeliat atau cairan empedu yang merembes dari pori-pori. Namun, apa yang kulihat jauh lebih mengerikan.
Di balik lingkaran cahaya *ring light* yang terpantul di layar, wajahku tidak ada.
Tepat di bawah garis rambut dan di atas dagu, hanya ada lubang hitam yang pekat. Sebuah kekosongan yang absolut, seolah seseorang telah menggunakan alat penghapus digital dan melubangi realitasku. Tidak ada mata yang membalas tatapanku. Tidak ada hidung. Tidak ada bibir yang bergetar. Hanya sebuah jurang tak berdasar yang berbentuk oval sempurna seukuran wajah manusia.
"Enggak... enggak mungkin," gumamku. Aku menurunkan ponsel itu sedikit, melihat pantulan diriku di cermin besar di depanku.
Di cermin, aku masih Alana. Si cantik Alana dengan mata cokelat besar dan senyum yang bisa menjual jutaan produk kecantikan. Aku menyentuh pipiku dengan jari gemetar. Aku bisa merasakan kulitku yang halus, suhu tubuhku yang hangat, dan tulang rahangku yang tegas. Aku ada. Aku nyata.
Namun, saat aku mengangkat kembali layar ponsel itu ke arah wajahku, kekosongan itu kembali menyambutku.
Aku mencoba tersenyum di depan cermin, lalu melihat ke layar. Di layar, lubang hitam itu tidak berubah. Ia tidak memiliki ekspresi. Ia tidak memiliki emosi. Ia hanyalah sebuah ketiadaan yang lapar. Seolah-olah 'True Face' memberitahuku bahwa di balik semua lapisan *makeup*, filter kecantikan, dan persona digital yang kubangun selama bertahun-tahun, memang tidak ada siapa-siapa di sana. Aku telah memberikan seluruh jiwaku pada algoritma sampai tidak ada yang tersisa untuk diriku sendiri.
Aku mulai menangis, tapi di layar ponsel, tidak ada air mata yang jatuh ke dalam lubang hitam itu. Mereka menghilang begitu saja saat menyentuh tepi kegelapan itu.
"Apa aku sudah mati?" tanyaku pada kekosongan itu. "Atau aku memang tidak pernah ada?"
Tiba-tiba, sesuatu yang baru muncul di layar. Di dalam lubang hitam yang merupakan wajahku, sebuah titik cahaya kecil mulai berkedip. Itu bukan cahaya putih, melainkan warna merah darah yang tajam. Titik itu membesar, berdenyut mengikuti irama jantungku yang kacau.
Lalu, sebuah teks muncul di bagian bawah layar, jenis huruf yang sama dengan yang digunakan TikTok untuk memberikan notifikasi, namun berwarna merah pekat:
**[SUBJEK PRIMER TERDETEKSI: PROSES ASIMILASI 99%]**
Rasa dingin yang luar biasa menjalar dari ujung jari-jariku yang memegang ponsel, merambat naik ke lengan, lalu menghujam langsung ke ulu hati. Aku mencoba melempar ponsel itu ke atas tempat tidur, tetapi tanganku kaku. Jari-jariku seolah telah menyatu dengan casing polikarbonat ponsel tersebut.
Di layar, lubang hitam itu mulai meluap. Kegelapan itu merembes keluar dari batas wajahku di layar, mulai menutupi leherku, bahuku, dan latar belakang kamarku. Dan yang paling membuatku ingin menjerit adalah suara yang tiba-tiba keluar dari speaker ponselku.
Itu adalah suaraku sendiri. Suara yang kukenal dari ribuan konten *review* dan *vlog* yang pernah kuunggah. Tapi nadanya datar, mekanis, dan dingin.
"Terima kasih sudah memberikan wajahmu, Alana," bisik suara itu dari ponsel. "Sekarang, biarkan kami memberikanmu wajah yang baru."
Tepat saat itu, lampu *ring light* di depanku meledak. Kamar seketika jatuh ke dalam kegelapan total, menyisakan hanya cahaya redup dari layar ponsel yang masih menampilkan lubang hitam ituβyang kini mulai bergerak mendekat, seolah ingin menarik seluruh keberadaanku ke dalam layarnya.
Di tengah kegelapan, aku mendengar suara pintu apartemenku yang terkunci rapat tiba-tiba berderit terbuka. Sesuatu yang berat menyeret langkahnya di atas lant** kayu ruang tamuku, menuju langsung ke arah kamar tidur.
"Alana..." sebuah suara parau memanggil namaku dari balik pintu. Itu suara ibuku, tapi ada nada lapar yang mengerikan di balik setiap suku katanya. "Tunjukkan wajahmu, Sayang. Ibu ingin melihat kecantikanmu."
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!