Layar ponsel itu terasa panas di genggamanku, tapi hawa dingin yang menjalar dari ujung jemari hingga ke sumsum tulangku jauh lebih menyiksa. Aku menatap pantulan diriku di balik lensa aplikasi *True Face*. Di sana, di tempat yang seharusnya menjadi wajahku—mata cokelat yang selalu kupulas dengan *eyeliner* sempurna, hidung yang sering kupuji karena proporsinya, dan bibir yang selalu tersenyum demi *engagement*—hanya ada kekosongan. Sebuah lubang hitam yang hampa, seolah-olah seseorang telah menghapus eksistensiku dengan kuas digital.
Aku menurunkan ponsel, meraba wajahku dengan panik. Kulitku ada di sana. Aku bisa merasakan tekstur pori-poriku, kehangatan aliran darah di pipi, dan air mata yang mulai membasahi telapak tanganku. Tapi saat aku mengangkat ponsel itu kembali, kekosongan itu tetap menatap balik. Tidak ada parasit hitam yang menggeliat seperti pada orang-orang di luar sana. Tidak ada tentakel yang menjulur dari tenggorokan. Hanya... ketiadaan.
"Rian, lihat ini," suaraku bergetar, nyaris berupa bisikan yang pecah.
Rian, yang sejak tadi sibuk mengutak-atik laptopnya di sudut apartemen yang remang-remang, mendongak. Ia mengambil ponselku dengan ragu. Aku memperhatikan matanya yang melebar, memantulkan cahaya biru dari layar. Ia beralih menatap wajah asliku, lalu kembali ke layar, berkali-kali.
"Ini tidak ma**k akal," gumam Rian. Ia meletakkan ponselku di meja kayu yang penuh dengan remah makanan dan kabel yang berantakan. "Filter ini mendeteksi 'inang'. Makhluk itu ma**k ke dalam tubuh manusia, memakan kesadaran mereka, dan menyisakan cangkang. Tapi kau... filter ini bahkan tidak menganggapmu ada."
"Apa maksudmu?" aku menuntut, suaraku meninggi satu oktav. "Aku di sini! Aku bernapas, Rian! Aku bicara padamu!"
Aku berdiri, mondar-mandir di ruangan sempit itu. Jantungku berdegup kencang, seolah-olah ia sedang berusaha meyakinkanku bahwa ia masih melakukan tugasnya. Aku mendekat ke arah cermin besar di dinding ruang tamu. Di cermin biasa, aku melihat diriku yang malang—rambut berantakan, maskara yang luntur, wajah seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun yang sedang ketakutan setengah mati. Tapi setiap kali sudut mataku melirik ke arah layar ponsel yang masih menyala di meja, lubang hitam itu seolah menyedot seluruh keberanianku.
Rian menghela napas panjang, ia melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya. "Alana, kau tahu bagaimana parasit ini bekerja, kan? Mereka mencari substansi. Mereka mencari 'kemanusiaan' untuk dikonsumsi. Sesuatu yang otentik, sesuatu yang nyata."
Ia terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa kasihan di sana, tapi juga ada semacam kesimpulan pahit yang sudah ia capai.
"Aku punya teori. Dan mungkin kau tidak akan menyukainya," lanjut Rian pelan.
"Katakan saja," desakku.
"Sudah berapa lama kau hidup demi angka di layar itu, Alana? Berapa banyak momen dalam hidupmu yang benar-benar kau rasakan tanpa memikirkan sudut kamera atau *caption* apa yang paling banyak mengundang klik?"
Aku terpaku. "Apa hubungannya dengan parasit-parasit si**** itu?"
"Hubungannya adalah... kau sudah melakukan pekerjaan mereka sebelum mereka sempat menyentuhmu," suara Rian kini lebih tegas, meski tetap rendah. "Kau menghabiskan bertahun-tahun mengikis jiwamu sendiri. Kau membangun persona digital yang begitu sempurna, begitu terpoles, hingga Alana yang asli perlahan-lahan menghilang. Kau mengubah dirimu menjadi komoditas. Menjadi piksel. Menjadi... kosong."
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada kenyataan tentang invasi monster mana pun. Aku teringat pada malam-malam di mana aku menangis sendirian, namun lima menit kemudian mengunggah foto tersenyum dengan *caption* tentang rasa syukur. Aku teringat pada makanan yang kubiarkan dingin hanya karena aku harus mendapatkan pencahayaan yang tepat untuk memotretnya. Aku teringat pada hubungan-hubungan yang kutinggalkan karena mereka tidak memberikan 'citra' yang c**up baik untuk profilku.
"Kau bilang aku bukan manusia?" bisikku pedih.
"Aku bilang kau tidak menyisakan apa pun untuk mereka makan," koreksi Rian. "Parasit itu melewati dirimu karena bagi mereka, kau sudah 'mati' secara esensi. Kau adalah cangkang yang sudah kosong sejak awal. Itulah sebabnya filter itu tidak memperlihatkan monster di dalam dirimu. Tidak ada ruang bagi monster untuk tumbuh di dalam sebuah kekosongan."
Aku jatuh terduduk di sofa kulit yang dingin. Kata-kata Rian berputar-putar di kepalaku seperti pusaran air. Jadi, inikah harga dari validasi yang selama ini kukejar? Menjadi sesuatu yang begitu tidak berarti hingga monster pemangsa jiwa pun tidak tertarik padaku?
Aku mengambil kembali ponselku. Aku melihat angka pengikutku di profil TikTok—dua juta orang. Dua juta orang yang mencint** sosok yang, menurut filter ini, bahkan tidak memiliki wajah. Aku merasa seperti hantu yang terjebak dalam dunia yang sedang kiamat.
"Tapi ini berarti aku aman, kan?" tanyaku, mencari secercah harapan. "Jika mereka tidak bisa 'melihatku' sebagai inang, aku bisa berjalan di antara mereka. Aku bisa memperingatkan yang lain."
Rian tidak menjawab dengan cepat. Ia kembali menatap layar laptopnya yang menampilkan grafik data dari server aplikasi *True Face*. "Mungkin. Tapi ada satu masalah, Alana."
"Apa?"
Rian memutar laptopnya ke arahku. Di sana, terdapat kode-kode yang terus berjalan, namun ada satu jendela kecil yang menunjukkan peta panas pergerakan para 'inang' di sekitar gedung apartemen kami. Titik-titik merah itu bergerak tidak beraturan, tapi ada satu pola yang mulai terbentuk.
"Mereka memang tidak memakanmu," kata Rian dengan nada cemas. "Tapi sistem ini—entitas di balik filter ini—menyadari adanya 'anomali'. Kau adalah titik buta dalam sistem mereka. Dan sesuatu yang tidak bisa dikontrol oleh sistem..."
Tiba-tiba, lampu di apartemen berkedip-kedip sebelum akhirnya padam total, menyisakan kami dalam kegelapan yang pekat. Hanya layar ponsel dan laptop yang menyala.
Di luar pintu apartemen, aku mendengar suara langkah kaki yang berat dan terseret. Bukan satu, tapi banyak. Dan yang lebih mengerikan adalah suara desisan yang keluar dari tenggorokan-tenggorokan yang tidak lagi manusiawi itu. Mereka tidak datang untuk memakanku.
"Mereka datang untuk menghapus kesalahan dalam sistem," bisik Rian, wajahnya pucat pasi terkena cahaya layar.
Ponsel di tanganku tiba-tiba bergetar hebat. Sebuah notifikasi muncul di layar, bukan dari pengikutku, bukan dari agensi iklan. Pesan itu hanya berisi satu baris kalimat dari aplikasi *True Face* yang terbuka dengan sendirinya:
*OBJECT NOT RECOGNIZED. INITIATING CLEANUP.*
Pintu apartemen berderit keras, engselnya seolah dipaksa menyerah oleh kekuatan besar dari luar. Aku menatap layar ponselku sekali lagi, dan untuk pertama kalinya, lubang hitam yang menggantikan wajahku di layar itu mulai mengeluarkan sesuatu—cairan kental berwarna gelap yang mulai merembes keluar dari balik kaca ponsel, membasahi tanganku.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!