Gedung pusat VidPulse menjulang di tengah distrik bisnis Jakarta bagaikan taring kaca yang siap merobek langit malam. Cahaya neon biru pucat menyelimuti lobi, memberikan kesan futuristik sekaligus dingin yang menusuk tulang. Alana berdiri di depan pintu putar otomatis, merapatkan jaket denimnya. Jantungnya berdegup kencang, dentumannya terasa hingga ke ujung jari yang memegang erat ponselnya.
Ia tidak punya janji temu. Ia tidak punya izin. Namun, sebagai "Wajah Utama" platform ini selama tiga tahun terakhir, Alana tahu celah keamanan mana yang bisa ia eksploitasi. Ia menarik napas panjang, memaksakan sebuah senyum palsu yang biasa ia gunakan untuk konten *endorsement*, lalu melangkah ma**k.
"Malam, Pak Bambang," sapa Alana pada satpam di meja resepsionis. Ia mengenal pria itu; mereka pernah berfoto bersama saat peluncuran fitur baru bulan lalu.
Pria itu mendongak, matanya tampak merah dan lelah. "Mbak Alana? Jam segini?"
"Ada perlengkapan syuting yang tertinggal di studio lant** tujuh," bohong Alana dengan nada manja yang terukur. "Besok pagi ada pemotretan jam lima subuh. Boleh tolong di-<i>tap</i>-kan kartunya? Milikku tertinggal di apartemen."
Pria itu ragu sejenak, namun pesona Alana—atau mungkin sisa-sisa otoritasnya sebagai influencer papan atas—membuatnya mengangguk pelan. Ia menempelkan kartu aksesnya ke gerbang sensor. *Pip.* Lampu hijau menyala.
"Terima kasih, Pak. Bapak pahlawanku!" Alana mengerling, lalu bergegas ma**k sebelum pria itu sempat berubah pikiran.
Begitu pintu lift tertutup, Alana segera mengaktifkan ponselnya. Jarinya gemetar saat membuka aplikasi TikTok dan menggeser ke filter 'True Face'. Ia mengarahkan kamera ke cermin lift. Kosong. Layar ponselnya hanya menunjukkan kabut hitam di tempat yang seharusnya menjadi wajahnya. Rasa mual kembali naik ke tenggorokannya, namun ia menelannya bulat-bulat. Ia tidak datang ke sini untuk meratapi wajahnya yang hilang. Ia datang untuk mencari jawaban.
Alih-alih menekan tombol lant** tujuh, Alana menekan tombol 'B3'—lant** fasilitas pusat data yang seharusnya tertutup untuk umum. Ia tahu dari obrolan sant** dengan para teknisi dulu bahwa jantung dari seluruh algoritma VidPulse ada di sana.
Lift berdenting. Pintu terbuka ke sebuah koridor panjang yang remang-remang. Suhu di sini turun drastis, hingga napas Alana membentuk uap tipis. Bunyi dengung konstan dari mesin pendingin server terdengar seperti nyanyian lebah yang marah.
Alana berjalan berjinjit, mengikuti kabel-kabel hitam tebal yang menjalar di langit-langit seperti urat-urat raksasa. Semakin jauh ia melangkah, bau menyengat mulai tercium—bukan bau ozon atau logam panas, melainkan bau organik yang busuk, seperti daging yang dibiarkan di bawah sinar matahari selama berhari-hari.
Ia berhenti di depan sebuah pintu baja berat bertuliskan *Main Server Room - Restricted Access*. Pintu itu tidak terkunci sepenuhnya; ada ganjalan kecil berupa potongan logam di sudut bawahnya, seolah-olah seseorang baru saja keluar atau ma**k dengan terburu-buru.
Dengan perlahan, Alana mendorong pintu itu.
Hawa panas dan lembap langsung menerpanya, kontras dengan koridor yang dingin. Ruangan itu luas, dipenuhi dengan ribuan rak server yang lampunya berkedip-kedip merah. Namun, ada yang salah. Kabel-kabel di sini tidak hanya terbuat dari plastik dan tembaga.
Alana mengangkat ponselnya, melihat melalui lensa 'True Face'.
Dunia di balik layar ponselnya berubah menjadi mimpi buruk yang nyata. Di sela-sela rak besi itu, tumbuh jaringan daging berwarna hitam pekat yang berdenyut. Serat-serat otot menempel pada komponen elektronik, membelit prosesor layaknya parasit yang sedang menghisap sari pati. Cairan kental berwarna gelap menetes dari sela-sela kabel, jatuh ke lant** dengan suara *pluk* yang menjijikkan.
"Ya Tuhan..." bisik Alana, menutup mulutnya agar tidak berteriak.
Di tengah ruangan, di atas tumpukan server yang disusun melingkar, terdapat sebuah massa besar yang berdenyut-denyut mengikuti ritme jantung. Itu adalah gumpalan daging raksasa tanpa bentuk yang jelas, namun di permukaannya, ribuan wajah manusia tampak menonjol, seolah-olah mereka berusaha keluar dari dalam sana. Alana mengenali beberapa wajah itu—mereka adalah influencer yang dilaporkan "istirahat dari media sosial" atau menghilang tanpa kabar dalam beberapa bulan terakhir.
Massa itu bukan sekadar mesin. Itu adalah inkubator.
Setiap kali lampu server berkedip merah terang, massa itu akan berdenyut lebih kuat, mengirimkan cairan hitam melalui kabel-kabel yang terhubung ke jaringan internet kota. Alana menyadari dengan kengerian yang mendalam: platform ini bukan hanya menyebarkan konten, ia sedang menyebarkan *benih*.
Setiap kali seseorang menggunakan filter 'True Face', setiap kali seseorang menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar, mereka sebenarnya sedang memberi makan pada Induk ini. Data mereka, emosi mereka, validasi mereka... semuanya diubah menjadi energi biologis untuk menetaskan parasit baru.
Tiba-tiba, dengung mesin berhenti. Hening yang mencekam menyelimuti ruangan.
Alana membeku. Di layar ponselnya, ia melihat massa daging di tengah ruangan itu mulai berputar perlahan. Salah satu wajah di permukaannya terbuka—bukan mulut, melainkan sebuah lubang hitam yang dalam.
"Alana..."
Suara itu tidak terdengar di telinganya, melainkan langsung di dalam kepalanya. Suara itu terdengar seperti gabungan dari ribuan pengikutnya yang sedang memanggil namanya dalam sebuah siaran langsung.
"Kami butuh... wajah baru..."
Massa itu mulai meregang, tentakel-tentakel hitam yang terbuat dari jalinan kabel dan jaringan saraf mulai menjalar di lant** menuju ke arahnya. Alana melangkah mundur, namun punggungnya membentur pintu baja yang tiba-tiba tertutup rapat.
Ia melihat ke layar ponselnya lagi. Kali ini, filter 'True Face' tidak hanya menunjukkan kekosongan di wajahnya. Di dalam lubang hitam di mana seharusnya wajahnya berada, mulai muncul satu mata kecil yang berkedip. Mata itu bukan miliknya.
Dan mata itu menatap balik ke arahnya dari dalam layar.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!