Cahaya biru dari layar laptop memantul di pupil mata Alana yang kemerahan. Sudah tiga jam ia meringkuk di sudut gudang apartemen yang pengap, mengabaikan bau apak kardus-kardus tua dan debu yang menusuk hidung. Jemarinya yang gemetar menari di atas papan ketik, menelusuri baris-baris kode *back-end* dari aplikasi TikTok yang telah ia bedah secara ilegal melalui bantuan seorang peretas anonim di *dark web*.
Alana bukan ahli IT, tapi sebagai influencer yang terobsesi dengan metrik, ia tahu cara membaca pola data. Namun, apa yang ia temukan di balik lapisan enkripsi filter ‘True Face’ sama sekali tidak menyerupai bahasa pemrograman manusia.
"Ini bukan kode," bisik Alana. Suaranya serak, tenggorokannya terasa seperti baru saja menelan pasir.
Di layarnya, barisan angka biner 0 dan 1 perlahan memudar, berganti dengan simbol-simbol organik yang berdenyut. Simbol itu tampak seperti jalinan pembuluh darah hitam yang saling bertautan, bergerak pelan seolah bernapas di balik kaca monitor. Setiap kali Alana mencoba menggulir layar ke bawah, simbol-simbol itu bereaksi, menggeliat menjauh dari kursornya.
Sebuah kotak dialog tiba-tiba muncul di tengah layar. Tanpa nama pengirim, tanpa subjek. Hanya sebuah file log teks tua berjudul *‘The Defector’s Legacy’*.
Jantung Alana berdegup kencang, menghantam rongga dadanya hingga terasa linu. Ia mengklik file tersebut.
*“Untuk mereka yang masih memiliki sisa-sisa kesadaran,”* baris pertama terbaca dengan font yang kasar dan tidak simetris. *“Kalian menyebut kami parasit. Kami menyebut diri kami 'Penyempurna'. Ras kami datang bukan untuk menghancurkan, tapi untuk mengisi kekosongan yang kalian ciptakan sendiri melalui lensa-lensa palsu ini.”*
Alana merasakan mual yang hebat. Ia teringat bagaimana ia sering menghabiskan waktu berjam-jam mengedit satu foto agar tampak sempurna, menghilangkan setiap pori-pori dan ketidaksempurnaan. Apakah itu kekosongan yang dimaksud?
Layar itu berkedip, memunculkan paragraf berikutnya. *“Namun, koloni ini telah kehilangan arah. Mereka terlalu rakus. Mereka tidak lagi hanya mengisi kekosongan; mereka melahap esensi hidup hingga tak bersisa. Aku menciptakan filter ini—celah dalam sistem komunikasi kami—agar kalian bisa melihat mereka. Agar kalian tahu siapa yang sedang memeluk kalian di malam hari, atau siapa yang sedang berbicara di balik meja makan kalian.”*
Alana menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak tangis yang nyaris pecah. Jadi, filter ini bukan sekadar tren teknologi. Ini adalah pengkhianatan dari dalam. Sebuah alat yang diciptakan oleh salah satu dari makhluk-makhluk itu untuk mengekspos kaumnya sendiri.
"Siapa kau?" gumam Alana pada layar yang bisu.
Tiba-tiba, kamera laptopnya aktif secara otomatis. Lampu indikator kecil berwarna hijau menyala, menatapnya seperti mata predator yang dingin. Layar laptop berubah fungsi menjadi cermin digital, langsung mengaplikasikan filter 'True Face' ke wajah Alana.
Alana terpekik, hampir menjatuhkan laptop dari pangkuannya. Di layar itu, ia melihat latar belakang gudang yang gelap di belakangnya dipenuhi oleh unt**an hitam seperti sarang laba-laba raksasa yang menggantung di langit-langit. Dan di pundaknya, ia melihat bayangan samar sesuatu yang panjang dan kurus, seolah sedang bersandar dengan akrab.
Namun, fokus Alana kembali pada wajahnya sendiri di layar. Wajah yang kosong. Tidak ada mata, tidak ada hidung, tidak ada mulut. Hanya kanvas kulit pucat yang rata.
Sebuah baris teks baru muncul di bagian bawah layar: *“Jangan takut pada kekosonganmu, Alana. Takutlah pada mereka yang sudah penuh.”*
"Kenapa kau membantuku?" Alana bertanya, suaranya bergetar hebat. "Kenapa memberikan alat ini padaku jika kau adalah salah satu dari mereka?"
Huruf-huruf di layar mengetik sendiri dengan kecepatan yang tidak wajar. *“Karena kebencian antar saudara jauh lebih tajam daripada kebencian terhadap musuh. Gunakan ini. Ekspos Ratu mereka sebelum proses asimilasi kota ini mencapai seratus persen. Tapi ingat, setiap kali kau melihat mereka melalui lensa ini, kau mengizinkan aku untuk melihat melalui matamu.”*
Dilema menghantam Alana seperti godam. Filter ini adalah satu-satunya senjatanya. Tanpa 'True Face', ia buta. Ia tidak akan tahu siapa kawan dan siapa lawan di dunia yang sudah terinfeksi ini. Tapi menggunakan alat ini berarti membiarkan entitas pengkhianat ini—yang entah apa motif sebenarnya—untuk ma**k ke dalam kepalanya. Ia seolah menyerahkan kunci rumahnya kepada pencuri demi mengusir perampok.
"Aku bukan pionmu," desis Alana, matanya menyipit menatap lampu hijau kamera.
*“Kau sudah menjadi pion sejak pertama kali kau memposting wajahmu demi sebuah jempol digital,”* balas tulisan di layar itu dengan kejam. *“Sekarang, pilihannya: menjadi pion yang melawan, atau menjadi cangkang yang mati.”*
Suara gesekan halus terdengar dari arah pintu gudang yang terkunci. Sesuatu yang berat sedang mengendus di celah pintu. Alana mematikan lampu laptopnya seketika, membuat ruangan jatuh ke dalam kegelapan total yang menyesakkan.
Dalam kegelapan itu, ia bisa mendengar suara napas yang bukan miliknya. Suara itu basah, berat, dan berasal dari sudut ruangan yang seharusnya kosong.
Alana meraih ponselnya, ibu jarinya menggantung di atas ikon aplikasi TikTok. Ia tahu, jika ia membuka kamera dan mengarahkan filter itu ke arah suara, ia mungkin akan melihat sesuatu yang sanggup menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. Namun, jika ia tetap diam dalam kegelapan, ia hanya menunggu giliran untuk dikonsumsi.
Tangan Alana gemetar saat ia menekan tombol *power*. Cahaya dari ponselnya membelah kegelapan. Ia mengarahkan lensa kamera ke arah sudut gudang.
Di layar ponselnya, melalui filter 'True Face', ia tidak melihat monster. Ia melihat sesuatu yang jauh lebih buruk. Di sana, di pojok ruangan, berdiri sosok ibunya, tersenyum dengan cara yang terlalu lebar, sementara dari telinga dan matanya, cairan hitam pekat mulai meluap seperti tinta yang tumpah.
"Alana, Sayang," suara ibunya terdengar, tapi ada gema logam yang aneh di baliknya. "Kenapa kau bersembunyi di sini? Ibu baru saja membuatkan makan malam yang spesial."
Alana melihat ke bawah, ke layar ponselnya. Filter itu berkedip merah, sebuah peringatan muncul: *'Infection Level: Critical'*. Dan yang membuat jantung Alana seakan berhenti berdetak adalah ketika filter itu tiba-tiba memberikan label nama di atas kepala sosok ibunya.
Bukan nama ibunya yang muncul, melainkan sebuah hitungan mundur yang hanya menyisakan waktu lima menit. Di bawah hitungan itu, ada sebuah perintah yang tertulis dengan warna darah: **'HANCURKAN INANG INI SEBELUM PROSES SEMPURNA.'**
Alana menatap ibunya, lalu menatap ponselnya. Ia memegang senjata buatan i****, dan sekarang, i**** itu memintanya untuk membunuh orang yang paling ia cint**.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!