Debu menari-nari di bawah cahaya redup lampu darurat yang berkedip di ruang kontrol pemancar menara telekomunikasi pusat. Bau apek dari kabel lama dan aroma ozon yang menyengat memenuhi udara yang menyesakkan. Tanganku gemetar saat menggenggam ponsel, satu-satunya benda yang menghubungkanku dengan kenyataan—dan juga satu-satunya benda yang bisa merobek kenyataan itu menjadi mimpi buruk.
"Sedikit lagi, Alana. Kalau aku bisa menyambungkan sirkuit bypass ini ke antena utama, siaranmu tidak akan bisa diblokir oleh provider lokal. Ini akan langsung menembus satelit," gumam Rian. Peluh memba****i pelipisnya, membuat rambutnya lepek dan menempel di dahi. Ia sedang berlutut di depan panel kontrol yang terbuka, jemarinya lincah mengutak-atik jalinan kabel warna-warni.
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa seperti habis mengunyah pasir. "Berapa lama?"
"Lima menit. Mungkin sepuluh," jawab Rian tanpa menoleh. "Kau sudah siap dengan apa yang ingin kau katakan? Jutaan orang akan melihat ini, Al."
Aku menatap layar ponselku. Ikon aplikasi TikTok berkedip seolah mengejekku. Di dalam sana, jutaan pengikut menanti konten baru, menanti validasi, menanti kebohongan-kebohongan indah yang biasa kusajikan. Mereka tidak tahu bahwa di luar sana, dunia sudah mulai membusuk dari dalam.
"Aku tidak tahu apakah mereka akan percaya," bisikku. Aku mengarahkan kamera ponsel ke arah Rian, lalu tanpa sadar jariku menggeser layar, mengaktifkan filter *True Face*.
Layar ponselku seketika berubah. Di balik lensa itu, Rian masih tampak seperti Rian—setidaknya untuk saat ini. Cahaya kebiruan dari filter itu menyinari wajahnya. Aku menghela napas lega saat melihat tidak ada gumpalan hitam di dalam dadanya. Dia masih manusia. Dia masih punya 'wajah'.
"Jangan arahkan benda itu padaku," protes Rian sambil terkekeh getir, meski matanya tetap fokus pada pekerjaannya. "Aku tidak ingin tahu seberapa buruk rupa asliku hari ini."
"Kau bersih, Rian. Kau satu-satunya yang tersisa," kataku, suaraku parau.
Tiba-tiba, suara dentuman keras bergema dari pintu baja di ujung lorong bawah. *BUM!* Getarannya merambat melalui lant** beton, menusuk hingga ke tulang sumsumku. Jantungku mencelos.
"Mereka di sini," desisku. Aku segera mematikan lampu senter. Kegelapan total menyergap kami, hanya menyisakan pendar redup dari layar ponsel dan lampu indikator pada mesin pemancar.
"Jangan bergerak," bisik Rian. Suaranya kini setajam silet.
Kami membeku. Dari balik pintu, terdengar suara langkah kaki yang diseret. Bukan satu, melainkan banyak. Suara itu aneh—terlalu berirama, terlalu mekanis. Kemudian, suara yang lebih mengerikan menyusul: suara gesekan sesuatu yang basah dan licin, seolah-olah tumpukan jeroan sedang diseret di atas lant** keramik.
*Kriet...*
Pintu ruang kontrol yang tidak terkunci sempurna itu terbuka perlahan. Cahaya remang dari koridor ma**k, membentuk siluet tinggi di ambang pintu. Itu adalah Pak Danu, penjaga gedung yang tadi sempat menyapa kami di lobi. Wajahnya tampak normal, bahkan cenderung datar. Namun, aku tahu itu hanya cangkang.
Aku mengangkat ponselku, mengintip melalui filter *True Face*.
Pemandangan itu membuat perutku mual. Di balik kulit wajah Pak Danu yang pucat, sesuatu yang hitam, pekat, dan berdenyut-denyut merayap. Makhluk itu menyerupai kumpulan cacing raksasa yang saling melilit, mengisi rongga dadanya hingga ke leher. Mata hitam pekat makhluk itu mengintip dari balik lubang mata Pak Danu yang kosong. Parasit itu sedang mengendalikan otot-ototnya, menarik urat-uratnya seolah dia adalah boneka marionette yang malang.
"Alana..." suara Pak Danu terdengar, tapi itu bukan suaranya. Itu adalah suara serak yang berlapis-lapis, seolah seribu serangga berbisik bersamaan. "Berikan... ponsel itu..."
Rian tiba-tiba berdiri, menghalangi pandangan Pak Danu dariku. "Selesaikan koneksinya, Al! Cepat!"
"Rian, jangan!" teriakku, tapi terlambat.
Rian menerjang Pak Danu, mencoba mendorong mahluk itu keluar dari ruangan. Namun, kekuatan fisik Pak Danu—atau apa pun yang ada di dalamnya—jauh melampaui manusia biasa. Dengan satu gerakan sentakan yang tidak alami, Pak Danu mencengkeram leher Rian.
Aku melihatnya melalui layar ponsel. Filter *True Face* memperlihatkan kengerian yang sesungguhnya. Filamen-filamen hitam mulai keluar dari mulut Pak Danu, berbentuk seperti jarum-jarum halus yang bergetar. Jarum-jarum itu menusuk ma**k ke dalam pori-pori wajah Rian.
"Rian!" aku menjerit, tanganku gemetar hebat hingga ponselku hampir jatuh.
Rian mencoba berteriak, tapi suaranya tersumbat. Matanya terbelalak, urat-urat di lehernya menonjol. Aku menyaksikan dengan horor saat entitas hitam di dalam Pak Danu mulai berpindah. Cairan hitam kental seperti oli bekas merembes keluar dari mata dan telinga Pak Danu, mengalir ma**k ke dalam mulut Rian yang dipaksa terbuka lebar.
Itu bukan sekadar pembunuhan. Itu adalah proses konsumsi.
Aku bisa melihat 'kemanusiaan' Rian—cahaya redup yang selama ini kulihat pada orang-orang normal—perlahan-lahan padam. Wajahnya mulai kehilangan ekspresi. Ketakutan yang tadi terpancar di matanya digantikan oleh kekosongan yang dingin. Dalam hitungan detik, kulit Rian menjadi pucat pasi, dan sesuatu yang hitam mulai berdenyut di bawah permukaan kulit lehernya.
Rian yang kukenal sudah mati. Yang berdiri di depanku sekarang hanyalah wadah baru.
Tubuh Pak Danu ambruk ke lant** seperti tumpukan baju bekas yang tak lagi berguna. Dia sudah kosong, benar-benar dikonsumsi hingga tak tersisa selain kulit dan tulang. Kini, Rian—atau makhluk yang memakai kulit Rian—berbalik menatapku. Kepala kepalanya miring ke samping dengan sudut yang mustahil bagi leher manusia, mengeluarkan suara *krak* yang memilukan.
"Alana," 'Rian' berbisik, bibirnya melengkung membentuk senyum yang terlalu lebar, terlalu kaku. "Siarannya... sudah siap."
Aku mundur selangkah, punggungku menab**k meja kontrol. Tanganku meraba-raba ke belakang, menyentuh tuas utama pemancar yang tadi sempat ditunjuk Rian. Di depanku, makhluk yang menggunakan wajah sahabatku itu mulai melangkah maju, gerakannya patah-patah namun pasti.
Ponsel di tanganku masih menyala. Filter *True Face* masih aktif. Saat kamera tak sengaja mengarah ke cermin di samping meja, aku melihat sekilas bayanganku sendiri.
Duniaku serasa berhenti berputar. Jantungku seakan berhenti berdetak. Di dalam pantulan itu, di balik filter yang seharusnya memperlihatkan parasit, aku tidak melihat makhluk hitam. Aku juga tidak melihat wajahku sendiri.
Di sana, di balik filter itu, aku tidak memiliki wajah sama sekali. Hanya ada hamparan daging rata yang pucat tanpa mata, hidung, atau mulut.
Langkah kaki 'Rian' semakin dekat. Aku harus menekan tombol siaran itu sekarang, atau aku akan kehilangan diriku selamanya sebelum dunia sempat mengetahui kebenarannya. Namun, jemariku kaku. Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada teror di depanku: Jika aku tidak memiliki parasit, tapi juga tidak memiliki wajah... lalu aku ini apa?
Tangan dingin 'Rian' terjulur, menyentuh bahuku. "Mari kita mulai siarannya, Alana. Tunjukkan pada mereka... siapa kita sebenarnya."
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!