Lant** beton menara siaran ini terasa sedingin es di bawah telapak kakiku yang gemetar. Bau ozon dari sirkuit listrik yang kelebihan beban bercampur dengan aroma anyir yang samar—bau yang kini selalu kukaitkan dengan kehadiran *mereka*. Di luar pintu besi ruang kendali utama, suara hantaman itu tidak lagi terdengar seperti ketukan manusia. Itu adalah suara tulang yang beradu dengan logam, ritme yang ganjil dan tanpa henti.
Aku mencengkeram ponselku hingga buku-buku jariku memutih. Layarnya retak, tapi kamera masih berfungsi. Di balik lensa itu, dunia bukan lagi tempat yang kukenal. Melalui filter *True Face* yang masih aktif, aku bisa melihat bayangan hitam berdenyut di balik celah pintu. Parasit itu gelisah, seolah mereka bisa mencium ketakutanku yang menguar seperti parfum busuk.
"Alana... buka pintunya. Kita punya jadwal *live* sepuluh menit lagi."
Suara itu. Hatiku mencelos. Itu suara Reza. Mantan manajerku, pria yang mengajariku cara tersenyum di depan kamera bahkan saat jiwaku sedang hancur. Tapi sekarang, suara itu terdengar datar, seolah-olah pita suaranya digerakkan oleh mesin yang kekurangan pelumas.
"Pergi, Rez! Kamu bukan manusia lagi!" teriakku, suaraku pecah. Aku mundur hingga punggungku menab**k meja konsol siaran yang penuh dengan tombol-tombol mati.
"Jangan konyol," suara Reza terdengar tepat di balik daun pintu. "Pikirkan *engagement*-mu. Jutaan orang menunggumu. Mereka ingin melihat wajah cantikmu, bukan kegelapan ini."
*B**k!*
Engsel pintu atas terlepas. Sebuah tangan pucat dengan kuku-kuku yang menghitam merobek celah logam tersebut. Aku mengangkat ponselku, mengarahkan kamera ke arah celah itu. Melalui layar, aku tidak melihat tangan Reza. Aku melihat sulur hitam yang menggeliat, berlendir, dan dipenuhi dengan mata-mata kecil yang berkedip secara asimetris. Parasit itu telah memakan habis otot dan tendon di dalam lengan Reza, menjadikannya sekadar wayang kulit.
Pintu itu akhirnya menyerah. Reza melangkah ma**k dengan gerakan patah-patah, seperti rekaman video yang kehilangan beberapa *frame*. Wajahnya masih tampak tampan—wajah yang dulu selalu kupuja karena ketegasannya—namun matanya kosong, kehilangan binar kehidupan yang biasanya haus akan komisi dan popularitas.
"Kau terlihat berantakan, Alana," kata Reza. Ia memiringkan kepalanya ke kiri hingga terdengar bunyi *krak* yang mengerikan. "Kau butuh filter."
"Aku tidak butuh apa-apa darimu!"
Reza menerjang. Kecepatannya tidak manusiawi. Aku menghindar ke samping, menab**k rak peralatan besi. Kamera ponselku terjatuh, tergeletak di lant** dengan posisi menghadap ke atas. Reza tidak memedulikan ponsel itu; targetnya adalah leherku.
Ia mencengkeram bahuku, dan rasanya seperti dijepit oleh tang bertenaga hidrolik. Aku mengerang kesakitan, jemariku meraba-raba meja di belakangku, mencari apa saja yang bisa dijadikan senjata. Tanganku menyentuh sesuatu yang berat dan dingin—sebuah tripod besi tua.
Aku mengayunkannya dengan seluruh sisa tenagaku. *Bugh!* Kaki tripod itu menghantam pelipis Reza. Darah yang keluar bukan berwarna merah segar, melainkan cairan hitam pekat yang kental seperti oli bekas.
Reza tidak bergeming. Ia hanya menatapku, membiarkan cairan hitam itu mengalir melewati pipinya. "Hanya itu?"
Ia mencengkeram leherku dan mengangkatku dari lant**. Oksigen seolah menghilang dari dunia. Aku menendang-nendang udara, mataku mulai berkunang-kunang. Di saat itulah, aku melihat ke arah layar ponsel di lant**.
Melalui filter *True Face*, sosok yang mencekikku bukan lagi Reza. Itu adalah massa hitam yang membengkak, sebuah tumor raksasa berbentuk manusia yang bagian tengahnya menganga lebar, memperlihatkan barisan gigi yang tumbuh tidak beraturan di dalam kerongkongannya. Parasit itu sedang mencoba keluar, ingin berpindah ke inang yang lebih segar. Ke aku.
*Tidak. Belum sekarang.*
Dengan tenaga terakhir, aku merogoh saku jaketku dan mengeluarkan *power bank* berkapasitas besar yang ujung kabelnya sudah kukupas hingga memperlihatkan kawat tembaga. Aku menusukkannya tepat ke arah luka di pelipis Reza yang mengucurkan cairan hitam.
Arus listrik dari baterai itu meledak kecil saat bersentuhan dengan cairan konduktif tersebut. Reza—atau makhluk di dalamnya—m****ik. Itu bukan suara teriakan manusia, melainkan suara gesekan logam yang m****akkan telinga. Ia melepaskan cengkeramannya, tubuhnya kejang-kejang saat listrik statis merambat melalui jaringan parasit yang basah.
Aku jatuh terduduk, terbatuk-batuk mencari udara. Aku tidak membuang waktu. Aku menyambar ponselku dan berlari menuju panel kontrol utama di ujung ruangan. Tanganku menari di atas papan tik, mengaktifkan pemancar darurat yang terhubung langsung ke satelit siaran nasional. Ini adalah satu-satunya cara agar pesanku tidak bisa diblokir oleh algoritma media sosial yang sudah mereka kuasai.
"Ayo... ayo... aktiflah..." bisikku, air mata mulai mengalir di pipiku.
Di belakangku, Reza mulai bangkit. Tubuhnya berderak, mencoba menyatukan kembali potongan-potongan kesadarannya yang koyak. Di luar pintu, massa yang terinfeksi lainnya mulai merayap ma**k—puluhan orang dengan wajah-wajah tanpa ekspresi, tapi melalui layar ponselku, mereka adalah lautan bayangan yang haus.
Lampu indikator siaran berubah menjadi merah. *On Air*.
Aku mengarahkan kamera ke wajahku. Aku ingin mereka melihat kebenaran. Aku ingin memperingatkan jutaan pengikutku bahwa orang-orang yang mereka cint** mungkin bukan lagi manusia. Namun, saat bayanganku muncul di layar ponsel yang retak itu, napasku tertahan.
Filter *True Face* bekerja dengan sempurna. Ia memperlihatkan parasit di dalam diri Reza. Ia memperlihatkan kengerian pada massa di belakangnya. Tapi saat kamera itu menangkap wajahku, layar itu hanya menampilkan kekosongan yang rata.
Di tempat yang seharusnya ada mata, hidung, dan bibirku, hanya ada permukaan halus layaknya manekin plastik. Tidak ada parasit, tapi juga tidak ada manusia. Aku menatap layar itu dengan ngeri, sementara tangan-tangan dingin dari kegelapan mulai mencengkeram pergelangan kakiku.
"Apakah aku... sudah terlambat?" bisikku pada kekosongan di layar, tepat saat transmisi itu mulai menyebar ke seluruh penjuru negeri.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!