Ujung jari telunjukku bergetar hebat saat menyentuh permukaan layar laptop yang dingin. Di dalam ruangan server yang remang-remang ini, hanya suara dengung mesin yang konstan dan napas pendekku yang terdengar. Bau ozon dan logam terbakar menusuk indra penciumanku, bercampur dengan aroma anyir yang samar—aroma yang kini kusadari adalah pertanda kehadiran *mereka*.
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa seperti berpasir. Di layar, sebuah jendela unggahan berkedip-kedip. *File: True_Vision_Full_Evidence.mp4*. Ukurannya sangat besar, berisi kompilasi rekaman yang akan menghancurkan ilusi dunia digital ini. Aku menekan tombol ‘Enter’.
*Uploading... 1%*
"Ayo, ayo, lebih cepat," bisikku parau. Keringat dingin mengalir di pelipisku, meninggalkan jejak lengket di pipi. Aku melirik ponsel yang tergeletak di samping laptop. Layarnya masih menyala, menampilkan antarmuka aplikasi TikTok dengan filter 'True Face' yang aktif. Kamera depannya mengarah padaku.
Di layar ponsel itu, aku melihat diriku sendiri. Atau lebih tepatnya, apa yang tersisa dariku. Sesosok tubuh dengan pakaian desainer ternama, namun tanpa fitur wajah. Hanya kanvas kosong berwarna kulit yang rata, seolah-olah Tuhan lupa melukiskan mata, hidung, dan mulut di sana. Pemandangan itu selalu membuat perutku mual, sebuah pengingat bahwa eksistensiku selama ini hanyalah topeng digital yang kini telah retak.
Tiba-tiba, lampu-lampu di ruangan itu berkedip serentak. Suhu udara turun drastis hingga aku bisa melihat uap napasku sendiri. Suara dengung mesin server berubah, nadanya meninggi hingga menyerupai jeritan manusia yang tertahan.
"Alana..."
Suara itu tidak datang dari telingaku. Ia bergema langsung di dalam tengkorakku, seperti ribuan jarum halus yang menusuk saraf. Aku tersentak, punggungku menab**k rak besi yang dingin.
"Siapa di sana?" teriakku, meski aku sudah tahu jawabannya.
Di sudut ruangan yang paling gelap, bayangan mulai menggeliat. Sesuatu yang hitam, kental, dan berminyak merayap keluar dari celah-celah kabel. Ia tidak memiliki bentuk tetap, namun ukurannya masif, memenuhi langit-langit ruangan seperti awan badai yang terbuat dari daging busuk. Itulah dia. Sang Induk. Arsitek di balik semua parasit yang kini menghuni tubuh orang-orang yang kucint**.
"Mengapa kau ingin menghancurkan mahakarya ini, Alana?" Suara itu kini terdengar lebih lembut, hampir merayu, namun memiliki getaran yang membuat tulang rusukku bergetar. "Kau adalah salah satu dari kami, bahkan sebelum filter itu diciptakan. Kau hidup untuk dilihat, bukan? Kau hidup untuk dikagumi."
"Aku bukan bagian dari kalian!" sanggahku, meski suaraku terdengar rapuh. Mataku melirik ke layar laptop. *14%*. Masih terlalu lambat.
Sesosok figur mulai memisahkan diri dari gumpalan hitam itu. Ia membentuk dirinya menyerupai manusia, namun gerakannya patah-patah, seolah-olah sendi-sendinya tidak terpasang dengan benar. Wajahnya—jika itu bisa disebut wajah—terus berubah, berganti-ganti antara wajah manajerku, ibuku, dan wajah-wajah influencer sainganku yang sudah 'terinfeksi'.
"Jangan berbohong pada dirimu sendiri," makhluk itu melangkah maju. Cahaya dari monitor laptop menyinari permukaannya yang licin. "Lihatlah dirimu di cermin digital itu. Kau kosong. Kau tidak terlihat. Tanpa pengakuan mereka, kau hanyalah hantu di dunia yang bising ini. Kami bisa memberikan apa yang selama ini kau tangisi setiap malam di balik layar ponselmu."
Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang hingga terasa menyakitkan.
"Kami bisa memberimu wajah paling sempurna yang pernah ada," bisik Induk itu, kini ia hanya berjarak beberapa meter dariku. Salah satu tentakel hitamnya yang tipis merambat di atas meja, mendekati tanganku. "Bukan sekadar filter yang hilang saat aplikasi ditutup. Tapi kecantikan abadi. Popularitas yang tidak akan pernah pudar. Jutaan orang akan memujamu, bukan karena kontenmu, tapi karena kau adalah perwujudan dari keinginan terdalam mereka. Kau akan menjadi 'Wajah' dari dunia baru ini."
Aku menatap layar ponselku lagi. Kekosongan di wajahku terasa seperti lubang hitam yang siap menelan kewarasanku. Keinginan untuk menjadi 'nyata', untuk kembali memiliki bentuk, menarik-narik nuraniku. Bukankah ini yang kuinginkan? Menjadi pusat perhatian tanpa perlu takut dilupakan?
"Hanya satu syarat, Alana," lanjutnya, suaranya kini semanis madu yang beracun. "Batalkan unggahan itu. Hancurkan bukti itu. Bergabunglah dengan kami, dan kau tidak akan pernah merasa 'tidak terlihat' lagi."
Tentakel itu menyentuh punggung tanganku. Rasanya dingin, sedingin es, namun ada sensasi euforia aneh yang menjalar ke pembuluh darahku. Pikiranku mulai kabur. Gambaran tentang panggung besar, lampu sorot, dan sorakan jutaan orang yang memuja namaku memenuhi benakku. Aku bisa melihat diriku berdiri di sana, dengan wajah paling cantik yang pernah dibayangkan manusia.
Tanganku perlahan bergerak menuju tombol 'Cancel' di layar laptop. Jariku sudah berada di atas mouse.
*32%... 33%...*
"Itu benar, Sayang... berikan duniamu pada kami, dan kami akan menjadikanmu ratunya," bisik Sang Induk tepat di telingaku. Bau busuknya kini terasa harum, seperti parfum mahal yang memabukkan.
Namun, tepat saat aku hendak menekan tombol itu, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar yang retak. Itu bukan komentar pujian, bukan pula jumlah *like* yang bertambah. Itu adalah sebuah pesan lama yang tersimpan, sebuah pengingat otomatis dari kalenderku: *Ulang tahun Ayah. Telepon dia.*
Ayah. Orang terakhir yang kulihat melalui filter itu sebelum aku melarikan diri. Di balik layar, wajahnya tidak ada, digantikan oleh makhluk hitam yang mengunyah pita suaranya sehingga ia hanya bisa berbicara dalam kalimat-kalimat templat yang datar.
Sentakan emosi itu seperti siraman air es. Aku menarik tanganku menjauh dari mouse dengan kasar. Nafasku memburu.
"Tidak," bisikku.
"Apa?" Suara Sang Induk berubah drastis. Kelembutannya hilang, digantikan oleh geraman rendah yang menggetarkan lant**.
"Aku lebih baik tidak memiliki wajah sama sekali daripada menjadi salah satu dari kalian!" teriakku. Aku menyambar ponselku dan melemparkannya ke arah massa hitam di depan. "Kalian bukan memberikan keabadian. Kalian memberikan penjara!"
Massa hitam itu menjerit, suara yang memecahkan beberapa lampu neon di langit-langit. Ruangan itu jatuh ke dalam kegelapan yang lebih pekat, hanya disinari oleh cahaya biru pucat dari layar laptop.
"KAU AKAN MENYESAL, ALANA! KAMI AKAN MENGUPAS KULITMU DAN MENJADIKANNYA BENDERA KAMI!"
Makhluk itu menerjang. Aku merosot ke bawah meja, mencoba melindungi kepalaku saat kabel-kabel di sekitarku mulai tercabut dengan paksa. Monitor laptop berkedip hebat.
*48%... 49%...*
Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar dari pintu besi server yang terkunci. Bukan ketukan manusia. Itu adalah suara benturan benda keras yang berulang-ulang, seolah-olah ada puluhan orang di luar sana yang mencoba mendob**k ma**k dengan kepala mereka.
"Alana... buka pintunya..." suara-suara di luar sana bersahutan. Aku mengenali suara itu. Itu adalah pengikut-pengikutku, orang-orang yang mengenalku di dunia maya, kini berkumpul di depan pintu seperti zombi yang kelaparan akan validasi.
Aku memeluk lututku, menatap bar progres di layar yang terasa berjalan seperti siput. Di depanku, Sang Induk mulai memadat, membentuk tangan-tangan besar yang siap merobek meja tempatku bersembunyi.
"Ayo, sedikit lagi..." bisikku sambil terisak, saat engsel pintu besi di belakangku mulai terlepas satu per satu.
*55%...*
Pintu itu terlempar jatuh. Cahaya dari lorong ma**k, menampilkan puluhan bayangan manusia tanpa wajah yang berdiri kaku, menatap lurus ke arahku. Dan di tengah-tengah mereka, Sang Induk mengangkat tinggi-tinggi salah satu tentakelnya yang kini telah berubah menjadi bilah tajam yang berkilat.
Aku tidak punya tempat lari lagi. Hanya ada aku, laptop itu, dan kebenaran yang baru terunggah setengah jalan.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!