Lampu *ring light* di hadapanku terasa seperti matahari kerdil yang berusaha membakar kulitku. Panasnya tidak wajar, atau mungkin itu hanya perasaan di kepalaku saja. Di layar ponsel yang terpasang pada tripod, angka penonton *livestream* terus merangkak naik dengan kecepatan yang memusingkan. 450.000. 700.000. Satu juta. Angka-angka itu biasanya adalah candu bagiku, alasan mengapa aku bangun setiap pagi dan memoles wajahku dengan lapisan riasan setebal topeng. Namun malam ini, angka-angka itu terasa seperti hitungan mundur menuju eksekusi.
"Kalian melihatnya, kan?" suaraku gemetar, lebih parau dari yang kuinginkan. Aku mengarahkan kamera belakang ponselku ke arah jendela apartemenku yang menghadap jalanan pusat kota Jakarta.
Melalui lensa ponsel—dengan filter *True Face* yang tetap aktif—dunia tampak seperti neraka yang terfragmentasi. Di bawah sana, orang-orang berjalan dengan sant**, tetapi di layar ponselku, mereka adalah gumpalan daging hitam pekat yang berdenyut, dengan tentakel halus yang keluar dari pori-pori leher mereka, saling bertautan dengan orang di sebelah mereka. Mereka bukan lagi manusia. Mereka adalah inang yang sedang dikunyah perlahan dari dalam.
Komentar-komentar di layar bergulir begitu cepat hingga aku tak sanggup membacanya.
*“Ini editan ya?”*
*“Alana, lo kenapa sih? Gimmick marketing buat b**nd baru?”*
*“Sumpah, gue pake filternya dan nyokap gue kelihatan... aneh.”*
"Ini bukan *gimmick*," bisikku, air mata mulai mengaburkan pandanganku. "Tolong, dengarkan aku. Jangan gunakan filter ini untuk sekadar seru-seruan. Lihat apa yang ada di sekitar kalian. Mereka... mereka sudah di sini. Mereka memakan kita."
Tiba-tiba, rasa perih menyengat pipi kiriku. Aku meringis, menyentuh kulitku yang terasa kaku. Saat aku menarik jemariku, aku melihat serpihan putih kecil menempel di ujung kuku. Teksturnya bukan seperti kulit, melainkan seperti porselen yang pecah. Atau lebih buruk lagi, seperti cangkang telur yang mengering.
Suara retakan kecil terdengar dari dalam rahangku. *Krak.*
Aku tersentak, hampir menjatuhkan ponselku. Jantungku berpacu begitu kencang hingga telingaku berdenging. Aku tahu apa yang terjadi. Semakin banyak aku membongkar tentang mereka, semakin cepat "diriku" hancur. Seolah-olah eksistensiku di dunia ini hanyalah sebuah kesepakatan diam-diam dengan para parasit itu: *Aku memberi mereka panggung melalui konten-kontenku, dan mereka memberiku kecantikan serta validasi.* Sekarang, aku telah melanggar kontrak itu.
"Alana, buka pintunya!" Suara gedoran keras di pintu apartemen membuatku melompat. Itu suara Sarah, manajerku. Tapi suaranya terdengar... salah. Ada nada logam yang bergetar di balik setiap suku katanya.
Aku melirik ke layar ponsel. Di sudut ruangan, bayangan hitam yang tertangkap kamera mulai bergerak mendekat ke arah pintu. Mereka tahu aku sedang melakukan ini. Mereka tidak bisa membiarkan rahasia ini menyebar ke jutaan pengikutku yang kini tengah menonton dengan napas tertahan.
"Aku harus menunjukkan ini pada kalian," kataku ke arah kamera, mengabaikan rasa sakit yang kini menjalar ke pelipis. "Kalian harus melihat apa yang terjadi jika kita terus-menerus mencari kesempurnaan yang tidak nyata. Kita mengundang mereka ma**k. Kita memberikan diri kita secara sukarela."
Tanganku gemetar saat aku mulai memutar posisi kamera. Inilah puncaknya. Konflik di dalam dadaku terasa seperti sedang mencabik-cabik paru-paruku. Jika aku menunjukkan wajahku sendiri dengan filter ini, aku tidak akan bisa kembali. Citra Alana yang sempurna, si *influencer* papan atas dengan jutaan pengikut, akan hancur selamanya. Bukan hanya citraku, tapi mungkin juga nyawaku. Karena di balik filter ini, aku telah menyadari sebuah kebenaran yang mengerikan: aku tidak lagi merasakan detak jantungku sendiri.
"Alana! Berhenti sekarang atau kami ma**k!" Sarah berteriak lagi. Suara kayu pintu yang mulai retak terdengar jelas.
"Lihat aku," bisikku pada jutaan orang yang menonton. "Lihat apa yang sebenarnya kalian puja selama ini."
Aku memutar kamera depan. Layar ponsel itu menampilkan wajahku.
Awalnya, semuanya tampak normal. Wajah cantikku, mata besar yang dipulas *eyeliner* sempurna, bibir yang merona. Namun, saat filter *True Face* memproses gambarku, realitas mulai terkelupas.
Di layar, kulit wajahku mulai retak-retak seperti tanah gersang yang dihantam kemarau. Serpihan demi serpihan jatuh, menyingkap apa yang ada di baliknya. Aku menahan napas, mataku terbelalak melihat pantulan diriku sendiri. Di balik kulit porselen itu, tidak ada otot, tidak ada darah, tidak ada tulang.
Hanya ada kekosongan hitam yang pekat. Sebuah lubang tanpa dasar yang berbentuk manusia.
"Aku... aku tidak ada," bisikku, suaranya kini terdengar seperti angin yang berhembus melalui pipa kosong.
Serpihan wajahku jatuh ke atas meja, mengeluarkan bunyi denting halus seperti kaca yang pecah. Aku bisa melihat bagian bawah mataku menghilang, meninggalkan lubang gelap yang meluas. Penonton di kolom komentar mendadak sunyi. Kecepatan komentar melambat, digantikan oleh rentetan emoji ketakutan dan pertanyaan horor yang tak terjawab.
Aku menyadari satu hal yang lebih mengerikan dari kematian: aku telah lama menjadi bagian dari mereka. Aku adalah pion yang paling sukses karena aku bahkan tidak sadar bahwa aku sudah dikonsumsi sejak lama. Validasi, angka-angka suka, komentar pujian—itu semua adalah nutrisi yang mempercepat pertumbuhanku sebagai cangkang kosong.
Pintu apartemenku terhantam terbuka dengan dentuman keras. Di layar ponsel, aku bisa melihat sosok Sarah berdiri di ambang pintu. Tapi dia bukan Sarah. Dia adalah entitas hitam raksasa dengan ribuan mata kecil yang berkedip di sepanjang lengannya. Dia tidak berjalan; dia meluncur ke arahku dengan kecepatan yang tidak wajar.
"Siaran berakhir, Alana," suara Sarah terdengar langsung di dalam kepalaku, bukan melalui telingaku.
Aku menatap kamera untuk terakhir kalinya, melihat wajahku yang kini hanya tersisa separuh, sementara separuhnya lagi telah menjadi kegelapan murni yang mulai memudar menjadi piksel-piksel rusak. Aku punya satu kesempatan lagi. Tombol 'Upload' untuk rekaman data mentah filter ini sudah siap di layar sebelah. Jika aku menekannya, seluruh dunia akan mendapatkan akses ke algoritma yang bisa membongkar penyamaran para parasit ini secara permanen.
Namun, saat jariku melayang di atas tombol itu, aku merasakan sebuah tarikan dingin dari dalam dadaku yang kosong. Kegelapan di dalam diriku seolah memberontak, memohon agar aku tidak memusnahkan kaumku sendiri.
Tangan 'Sarah' sudah berada di pundakku. Dinginnya menembus hingga ke sisa-sisa jiwaku. Aku melihat ke arah layar ponsel, ke arah jutaan orang yang masih menonton, menunggu keputusanku. Di saat itulah, aku melihat sesuatu di belakang sosok Sarah. Di koridor apartemenku, ratusan bayangan hitam serupa mulai merayap keluar dari pintu-pintu tetanggaku, menuju ke arah kamera.
Mereka tidak hanya datang untukku. Mereka datang untuk siapa pun yang melihat siaran ini.
Jemari pucatku yang mulai retak bergetar di atas layar. Apakah aku akan menyelamatkan kemanusiaan dengan melenyapkan diriku sendiri, ataukah aku akan membiarkan kegelapan ini menelan semuanya agar aku bisa tetap 'hidup' sebagai bagian dari mereka?
Layar ponselku mulai berkedip merah, tanda baterai lemah, tepat saat bayangan di belakangku membuka mulutnya yang lebar dan tak berujung.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!