Ujung jemariku bergetar, bukan karena takut, melainkan karena mereka mulai menghilang. Saat aku menatap layar monitor di depanku, aku tidak lagi melihat kulit mulus yang biasanya kupoles dengan *skincare* mahal. Sebaliknya, aku melihat deretan angka biner dan pendar cahaya biru yang berkedip-kedip. Aku mulai terurai. Bagian demi bagian tubuhku pecah menjadi fragmen piksel yang melayang di udara studio yang pengap ini.
"Alana, kau harus melakukannya sekarang," bisikku pada diri sendiri. Suaraku terdengar aneh, ada distorsi logam yang menyelinap di antara setiap suku kata.
Di luar sana, di balik jendela kaca gedung tinggi ini, Jakarta tampak seperti lautan kunang-kunang yang sekarat. Lampu-lampu kota berkedip tidak beraturan, mencerminkan kepanikan yang mulai merayap di jalanan. Aku tahu mereka ada di sana—makhluk-makhluk hitam menjijikkan yang bersembunyi di dalam jas rapi para eksekutif, di balik daster ibu rumah tangga, dan di dalam tawa anak-anak.
Aku menarik napas panjang, merasakan dadaku berderit seolah-olah paru-paruku terbuat dari perangkat keras yang usang. Jari-jariku yang tersisa menari di atas papan tik, mengeksekusi skrip terakhir yang telah kurancang bersama sisa-sisa kesadaranku. Filter 'True Face' bukan lagi sekadar tren hiburan. Malam ini, aku akan menjadikannya sebuah wabah kebenaran.
*“Live in 3... 2... 1...”*
Lampu merah di atas kamera menyala. Wajahku—atau apa yang tersisa darinya—muncul di jutaan layar ponsel di seluruh penjuru negeri. Aku bisa melihat angka penonton meroket: seratus ribu, satu juta, lima juta. Mereka menungguku. Mereka menunggu si ratu konten memberikan tontonan terakhirnya.
"Halo semuanya," kataku, mencoba mempertahankan nada suara yang tenang meski separuh rahangku kini terasa seperti tarikan magnet yang kuat. "Selama ini, aku hidup demi lensa ini. Aku mencint** cara kalian melihatku. Tapi malam ini, aku ingin kalian melihat apa yang sebenarnya ada di depan kalian. Bukan aku. Tapi mereka."
Aku menekan tombol *Enter* dengan paksa.
Seketika, filter 'True Face' terinjeksi secara paksa ke dalam setiap aplikasi media sosial, setiap siaran televisi, dan setiap kamera keamanan yang terhubung ke internet. Aku tidak hanya mengirimkan data; aku mengirimkan kutukan penglihatan.
Melalui layar pantau, aku melihat kekacauan itu dimulai. Di kolom komentar yang biasanya dipenuhi pujian, kini meledak dengan jeritan dalam bentuk teks.
*“TIDAK! APA ITU DI WAJAH IBUKU?!”*
*“Kenapa pacarku punya tentakel hitam di lehernya?!”*
*“Alana, apa yang kau lakukan?! Semuanya tampak busuk!”*
Aku tersenyum getir. Air mata yang jatuh dari mataku bukan lagi air, melainkan butiran cahaya putih yang langsung menguap sebelum menyentuh lant**. Melalui jendela studio, aku mendengar teriakan dari jalanan. Orang-orang mulai menyadari bahwa orang yang mereka peluk, orang yang mereka ajak bicara, hanyalah cangkang kosong yang dikendalikan oleh parasit hitam bermata banyak.
Ilusi kemanusiaan telah runtuh. Dunia kini melihat realitas yang selama ini aku derita sendirian.
"Lihat mereka," bisikku ke arah kamera, mataku kini sepenuhnya menjadi lubang cahaya putih yang menyilaukan. "Jangan berpaling. Mereka memakan cinta kalian, mereka memakan empati kalian, dan mereka menyisakan kehampaan."
Namun, harga yang harus kubayar jauh lebih mahal dari yang kubayangkan. Saat dunia mulai melihat kebenaran, eksistensiku mulai ditarik paksa ke dalam dimensi yang tidak seharusnya kutinggali. Aku menunduk dan melihat kakiku sudah tidak ada. Yang tersisa hanyalah kepulan asap digital yang perlahan merayap naik ke pinggangku.
Aku merasa dingin. Sangat dingin.
"Alana?" Sebuah suara berat terdengar dari balik pintu studio yang terkunci. Itu suara manajerku, atau setidaknya apa yang dulu adalah manajerku. Suaranya kini terdengar seperti gesekan amplas di atas beton. "Buka pintunya, Alana. Kau merusak segalanya. Kau merusak perjamuan kami."
Gagang pintu berderit, ditarik oleh kekuatan yang tidak manusiawi. Aku tidak takut lagi. Aku sudah hampir tidak ada.
Aku kembali menatap lensa kamera. Tanganku kini tinggal sepertiga, piksel-pikselnya beterbangan seperti debu di bawah sinar lampu studio. Aku bisa merasakan kesadaranku menipis, seolah-olah memori masa kecilku, aroma parfum favoritku, dan rasa sakit di hatiku sedang dikompres menjadi barisan kode yang tidak berarti.
"Aku... aku tidak ingin menghilang," rintihku, egoku yang lama mencoba memberontak untuk terakhir kalinya. Ketakutan terbesarku menjadi nyata: aku menjadi tidak terlihat, bukan karena orang mengabaikanku, tapi karena aku benar-benar lenyap dari realitas fisik.
Di layar, wajahku sudah tidak berbentuk. Hanya sebuah siluet cahaya tanpa fitur—tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Aku adalah kekosongan yang bersinar.
"Kalian harus bertarung," kataku, suaranya kini hanya berupa dengungan statis yang nyaris tak terdengar. "Gunakan layar kalian sebagai senjata. Jangan biarkan mereka... bersembunyi lagi..."
*B**KK!*
Pintu studio hancur berkeping-keping. Sesosok makhluk setinggi dua meter dengan kulit hitam berminyak dan puluhan mata kecil yang berkedip di sekujur tubuhnya melompat ma**k. Ia mengerang, sebuah suara yang penuh dengan kebencian murni. Makhluk itu menerjang ke arah kursi tempatku duduk.
Namun, cakarnya hanya menembus udara kosong.
Aku sudah tidak di sana. Aku melihat tubuhku hancur menjadi ledakan partikel cahaya yang indah sekaligus mengerikan. Aku bisa melihat makhluk itu meraung marah karena kehilangan mangsanya, sementara di jutaan layar di seluruh dunia, siaranku tiba-tiba terputus dengan suara denging yang m****akkan telinga.
Dunia kini gelap, namun mata mereka telah terbuka.
Di tengah kehampaan digital yang kini menjadi rumah baruku, aku merasakan sesuatu yang lain. Aku bukan satu-satunya yang terperangkap di sini. Ada jutaan 'jiwa' lain yang telah dikonsumsi, berteriak tanpa suara di dalam jaringan internet yang gelap. Dan di depan sana, di pusat labirin data ini, sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih lapar dari para parasit itu sedang menunggu kedatanganku.
Layar ponsel di seluruh dunia tiba-tiba menyala kembali, namun kali ini bukan wajahku yang muncul. Sebuah pesan singkat tertulis dengan latar belakang merah darah: *APAKAH KALIAN SIAP UNTUK TAHAP SELANJUTNYA?*
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!