Cahaya dari *ring light* setinggi satu setengah meter itu memantul di pupil mataku, menciptakan lingkaran putih sempurna yang membingkai iris cokelat hasil lensa kontak. Aku menarik napas dalam, membiarkan aroma sisa parfum melati dan hawa sejuk dari AC memenuhi paru-paruku. Di depanku, cermin besar memperlihatkan sosok Alana yang sempurna: rambut gelombang yang tertata rapi, *contouring* pipi yang tajam, dan senyum yang sudah kulatih ribuan kali.
"Dua menit lagi, Al. Penontonnya sudah mulai memba****i ruang tunggu. Hampir lima ribu orang," suara Siska, manajerku, memecah keheningan. Ia berdiri di sudut ruangan, sibuk dengan tablet di tangannya. Siska adalah jangkar dalam hidupku—dingin, efisien, dan selalu tahu cara menaikkan angka *engagement*.
Aku mengangguk, jemariku mengetuk-ngetuk bagian belakang ponsel dengan ritme gelisah. "Filter 'True Face' itu... kamu yakin ini waktu yang tepat?"
Siska mendongak, kacamata berbingkai tipisnya berkilat. "Itu sedang *trending* nomor satu di dunia, Alana. Semua orang ingin melihat 'wajah asli' idola mereka tanpa polesan. Ini saatnya menunjukkan kalau kamu tetap cantik secara natural. Jangan khawatir, algoritma filter itu sudah diatur untuk memberikan efek *soft glow* meskipun judulnya 'wajah asli'."
Aku memaksakan tawa kecil. "Oke. Mari kita beri mereka apa yang mereka inginkan."
Aku menekan tombol *Go Live*. Dalam hitungan detik, angka di sudut kiri atas layar ponselku melesat. 10 ribu, 25 ribu, 50 ribu. Komentar mengalir deras seperti air terjun yang tak terbendung. Emojis hati, api, dan pertanyaan-pertanyaan antusias memenuhi layar.
"Halo semuanya!" Aku menyapa dengan nada ceria yang sangat kukenali, nada yang membuat orang merasa mereka adalah teman dekatku. "Malam ini spesial. Sesuai permintaan kalian yang ma**k ke DM sampai ribuan, aku bakal coba filter yang lagi viral itu. *True Face*."
Aku menggeser deretan filter di bagian bawah layar. Pencarianku berhenti pada sebuah ikon berbentuk topeng putih retak dengan latar belakang hitam pekat. Ada sesuatu yang janggal pada ikon itu—seolah-olah ia berdenyut pelan, tapi aku mengabaikannya. Mungkin itu hanya efek grafis dari pengembangnya.
"Siap? Satu... dua... tiga!"
Aku mengetuk layar.
Selama beberapa detik, layarku berubah menjadi statis abu-abu, mirip televisi tua yang kehilangan sinyal. Jantungku berdegup kencang. Apakah aplikasinya *crash*? Namun, perlahan-lahan citra diriku kembali muncul. Aku menghela napas lega. Tidak ada yang berubah secara drastis. Wajahku di layar tampak sedikit lebih tajam, pori-poriku lebih terlihat, namun tetap cantik dengan pendaran cahaya yang lembut di sekitar kepala.
"Wah, ternyata nggak seseram yang aku bayangkan ya?" kataku ke arah kamera, tertawa kecil sambil membaca komentar-komentar yang memujiku 'bidadari tanpa filter'.
"Siska, sini! Cobain bareng!" ajakku sambil melambai ke arah Siska yang berdiri di luar jangkauan kamera.
Siska ragu sejenak, lalu melangkah ma**k ke dalam bingkai cahaya. "Hanya sebentar, Al. Aku belum memperbaiki riasanku," keluhnya dengan nada bercanda.
Siska berdiri tepat di sampingku. Aku mengarahkan kamera ponsel agar kami berdua ma**k ke dalam jangkauan filter *True Face*.
Detik itu juga, duniaku seolah berhenti berputar.
Di dunia nyata, Siska berdiri di sampingku dengan setelan blazer abu-abu, wajahnya yang ramah tersenyum tipis ke arah layar. Namun, di layar ponsel yang kucengkeram, sosok yang berdiri di sampingku bukan lagi Siska.
Wajah Siska di layar ponsel hancur. Bukan karena c**** atau luka, melainkan karena ada sesuatu yang *merayap* di bawah kulitnya. Di tempat matanya seharusnya berada, terdapat lubang-lubang hitam yang berisi massa berdenyut seperti kumpulan cacing tanah yang saling melilit. Mulutnya yang tersenyum di dunia nyata, tampak di layar sebagai belahan lebar hingga ke telinga, memperlihatkan deretan gigi-gigi hitam yang tajam dan tidak beraturan.
Bagian yang paling mengerikan adalah lehernya. Di layar, kulit leher Siska transparan, memperlihatkan entitas hitam pekat seperti parasit yang membelit tulang belakangnya. Makhluk itu memiliki ribuan kaki lembut yang menusuk ke dalam jaringan saraf Siska, berdenyut seirama dengan detak jantung—atau mungkin makhluk itulah yang detak jantungnya kudengar sekarang.
Aku tersentak, ponselku nyaris terlepas. "S-Siska?" suaraku tercekat di tenggorokan, hanya berupa bisikan parau.
"Ada apa, Al? Kenapa kamu kaget begitu?" Siska yang asli menoleh padaku. Wajahnya tampak normal. Cantik, manusiawi, sedikit bingung.
Namun di layar ponsel, 'Siska' yang monster itu ikut menoleh. Gerakannya patah-patah, seperti sendi yang dipaksa berputar. Massa hitam di dalam rongga matanya menggeliat, seolah menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya melalui lensa.
Aku melihat ke layar, lalu melihat ke Siska secara langsung. Layar, lalu Siska. Perbedaannya begitu kontras hingga membuat perutku mual.
"Wajahmu..." gumamku, mataku mulai berkaca-kaca karena ketakutan yang murni.
"Wajahku kenapa? Filternya jelek ya?" Siska tertawa, suara tawa yang selama lima tahun ini kukenal sebagai suara yang menenangkan. Namun kini, suara itu terdengar seperti gesekan logam yang memilukan di telingaku. Ia mendekatkan wajahnya ke arah ponselku, ingin melihat hasil filternya sendiri.
Di layar, makhluk di dalam diri Siska tiba-tiba berhenti bergerak. Salah satu kaki halus yang keluar dari lehernya perlahan merayap naik, menembus kulit pipi Siska dari dalam, dan mengarah tepat ke arah lensa kamera—seolah ingin menyentuhku melalui layar kaca.
Aku melompat mundur, menab**k meja rias hingga botol-botol parfum terjatuh dan pecah. Aroma wangi yang menyengat memenuhi ruangan, namun yang tercium oleh indra penciumanku hanyalah bau amis yang memuakkan, bau daging busuk yang disiram c**a.
"Alana? Kamu oke?" Siska melangkah mendekat, tangannya terulur hendak menyentuh bahuku.
"Jangan sentuh aku!" teriakku histeris. Aku mengangkat ponselku tinggi-tinggi, menjadikannya perisai di antara kami.
Aku melirik sekilas ke kolom komentar yang bergerak g***-g***an.
*Kok Alana panik?*
*Kenapa teriak?*
*Filternya nggak ada yang aneh, Siska kelihatan biasa aja.*
*Alana, kamu akting ya? Horror prank?*
Mereka tidak melihatnya. Jutaan mata yang menonton Live-ku hanya melihat Siska yang normal. Hanya aku yang bisa melihat massa hitam yang kini mulai memenuhi seluruh layar ponselku, seolah parasit itu ingin keluar dari bingkai digital tersebut.
Siska berhenti melangkah. Ekspresi bingungnya perlahan memudar, digantikan oleh sesuatu yang lebih datar. Sesuatu yang hampa. Ia memiringkan kepalanya dengan sudut yang tidak alami—sama persis dengan gerakan monster di layarku.
"Kamu bisa melihatnya, Alana?" tanya Siska. Suaranya tidak lagi hangat. Dingin, monoton, seperti mesin.
Aku gemetar hebat, air mata kini membasahi pipiku. Di layar ponsel, filter *True Face* tiba-tiba memberikan notifikasi kecil di bagian bawah dengan tulisan berwarna merah darah: *Host Terdeteksi. Sinkronisasi 98%.*
Lalu, perlahan-lahan, aku mengarahkan kamera ponsel itu ke arah wajahku sendiri. Aku butuh kepastian. Aku butuh melihat bahwa aku masih manusia.
Namun, saat layar itu menangkap citra wajahku, jeritanku tertahan di pangkal lidah. Di balik filter itu, di pantulan layar yang seharusnya adalah diriku, tidak ada mata, tidak ada hidung, tidak ada mulut. Hanya ada permukaan kulit yang rata dan licin seperti manekin, dengan sebuah lubang besar di tengah dada yang berdenyut gelap, menanti untuk diisi.
"Alana," suara Siska kini terdengar dari segala arah, bukan hanya dari mulutnya. "Jangan takut. Menjadi nyata itu memang menyakitkan."
Tepat saat itu, lampu studio mendadak padam, menyisakan hanya pendar biru pucat dari layar ponselku yang masih menyiarkan wajah kosongku ke seluruh dunia.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!