True Face: Parasit di Balik Lensa

Bab 3: Bab 3 - Mengecek kebenaran filter di tempat umum (mall)

Pengaturan Membaca

Udara dingin dari sistem pendingin sentral Grand Kencana Mall menyapu tengkukku, namun keringat dingin tetap merembes di balik blus sutra yang kukenakan. Aku berdiri di balkon lant** tiga, mencengkeram pegangan besi dingin sambil menatap ke arah atrium utama di bawah. Ribuan orang berlalu-lalang seperti semut, masing-masing sibuk dengan kantong belanjaan, tawa yang dipaksakan, atau sekadar menatap layar ponsel mereka sendiri.

Tanganku gemetar saat merogoh tas tangan *b**nded*-ku. Di dalam sana, benda itu terasa seperti bom waktu yang siap meledak. Ponselku. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantung yang memukul-mukul rongga dada.

*Ini hanya kerusakan teknis, Alana,* bisikku pada diri sendiri. *Efek cahaya. Bug perangkat lunak. Tidak mungkin itu nyata.*

Aku mengaktifkan layar. Cahaya dari panel OLED itu menyilaukan sejenak. Aku membuka aplikasi TikTok, jempolku bergerak secara mekanis mencari filter yang sedang menjadi tren nomor satu di seluruh dunia: *True Face*. Filter itu menjanjikan hasil visual yang mampu memperlihatkan "aura terdalam" penggunanya dengan estetika gotik yang elegan.

Tapi apa yang kulihat semalam pada manajerku, bukanlah estetika. Itu adalah murni horor.

Aku mengangkat ponsel, memosisikannya seolah-olah aku sedang melakukan *vlogging* sant** untuk pengikutku. "Hai, *Guys*! Lagi di Grand Kencana, nih. Rame banget!" suaraku terdengar tinggi dan palsu di telingaku sendiri. Aku tidak benar-benar menekan tombol rekam. Aku hanya membutuhkan lensa kamera itu sebagai jendela.

Aku mengarahkan kamera ke kerumunan di bawah, lalu mengaktifkan filter *True Face*.

Layar ponselku berkedip sesaat, memproses data wajah-wajah yang tertangkap sensor. Garis-garis pemindaian neon bergerak naik-turun. Dan kemudian, realitas di layar itu berubah.

Duniaku runtuh seketika.

Di layar, seorang wanita paruh baya yang sedang menjinjing tas belanjaan mewah tampak normal jika dilihat dengan mata te*******. Namun melalui lensa ponselku, wajahnya adalah sebuah pemandangan mengerikan. Di balik kulit pipinya yang dipulas *blush-on* mahal, sesuatu yang hitam dan kental berdenyut-denyut. Sepasang tentakel halus menyerupai pembuluh darah yang membusuk menjalar keluar dari lubang telinganya, melilit lehernya seolah-olah sedang menghisap kehidupan dari sana.

Aku menahan pekikan dengan menutup mulutku. Aku berpaling ke arah lain, mengarahkan kamera ke gerombolan remaja yang sedang berswafoto di dekat air mancur.

Satu, dua, tiga... dari lima remaja itu, dua di antaranya bukan lagi manusia.

Makhluk di dalam raga remaja itu tampak lebih aktif. Di balik filter *True Face*, wajah mereka tidak memiliki mata—hanya lubang hitam pekat yang terus-menerus mengeluarkan cairan seperti oli. Mulut mereka terbuka lebar, memperlihatkan barisan gigi yang lebih menyerupai jarum-jarum halus yang tumbuh tidak beraturan. Mereka bergerak sinkron dengan cangkang manusia mereka, tertawa saat si manusia tertawa, namun mata gelap di dalam layar itu tampak dingin, kosong, dan lapar.

"Tidak mungkin..." gumamku lirih. Suaraku tercekat di tenggorokan.

Aku mulai berjalan cepat, hampir berlari, melewati deretan butik internasional. Aku mengarahkan ponselku ke setiap orang yang kupapasi. Seorang pria berjas rapi—parasit hitam merayap di bawah kulit keningnya. Seorang balita di dalam kereta dorong—sesuatu yang menyerupai gumpalan daging berambut menyumbat kerongkongannya, bergerak-gerak setiap kali anak itu bernapas.

Persentasenya mengerikan. Hampir setiap tiga dari sepuluh orang yang kulihat adalah inang bagi entitas menjijikkan itu. Tiga puluh persen. Jika mall ini menampung seribu orang, berarti ada tiga ratus monster yang sedang berkeliaran, berpura-pura menjadi manusia, menghirup udara yang sama denganku.

Langkahku terhenti di depan sebuah cermin besar di lorong menuju toilet. Aku terpaku. Perlahan, aku mengangkat ponselku, mengarahkan kamera ke arah bayanganku sendiri.

Jariku ragu di atas layar. Ketakutan terbesar dalam hidupku bukanlah kegagalan karir atau kehilangan pengikut. Ketakutan terbesarku adalah jika aku melihat ke dalam cermin dan tidak menemukan siapa pun di sana. Atau lebih buruk, menemukan sesuatu yang lain.

Aku memejamkan mata sesaat, berdoa pada Tuhan yang sudah lama tidak kusapa, lalu membuka mata lebar-lehar ke arah layar ponsel.

Wajahku di layar tampak pucat, tetapi bersih. Tidak ada cairan hitam. Tidak ada tentakel. Aku masih diriku sendiri. Setidaknya untuk saat ini.

Namun, kelegaan itu hanya bertahan satu detik.

Di pantulan cermin di belakangku, seorang petugas kebersihan sedang mengepel lant**. Ia tampak seperti pria tua biasa dengan wajah lelah yang ramah. Tapi di layar ponselku, makhluk di dalam dirinya adalah salah satu yang paling besar yang pernah kulihat. Entitas itu memiliki banyak sekali 'kaki' tipis yang menusuk keluar dari pori-pori punggung si petugas, menjahit pakaian seragamnya ke kulitnya sendiri.

Tiba-tiba, gerakan mengepel itu berhenti.

Melalui layar ponsel, aku melihat entitas hitam di dalam raga petugas itu perlahan memutar kepalanya. Bukan kepalanya secara fisik—leher si petugas tetap menghadap ke lant**—tapi *sesuatu* di dalam rongga matanya berputar seratus delapan puluh derajat ke arahku.

Lubang hitam di dalam matanya menatap langsung ke arah lensa kameraku. Seolah ia tahu bahwa filter ini bukan sekadar mainan bagiku. Seolah ia tahu bahwa aku bisa melihat bentuk aslinya yang menjijikkan.

Si petugas kebersihan perlahan mendongak. Wajah manusianya tersenyum padaku, sebuah senyuman yang terlalu lebar, terlalu simetris, hingga sudut bibirnya seolah hampir merobek kulit.

"Bagus ya, Mbak, filternya?" suaranya parau, bergetar dengan resonansi ganda yang tidak wajar, seolah ada suara lain yang berbicara dari balik parunya.

Ponselku hampir jatuh dari genggaman. Aku mundur selangkah, menab**k dinding marmer yang dingin. Di layar ponsel, makhluk itu kini melepaskan pegangannya pada tangkai pel dan mulai melangkah ke arahku, sementara orang-orang di sekitar kami tetap berjalan seolah tidak ada yang salah.

Mereka tidak bisa melihatnya. Hanya aku. Dan sekarang, monster itu tahu bahwa ia tidak lagi tersembunyi.

"Mbak Alana, kan?" ia melangkah lagi. "Saya ngefans. Boleh lihat lebih dekat ponselnya?"

Aku membalikkan badan dan lari sekuat tenaga, mengabaikan tatapan heran orang-orang di sekitarku. Aku harus keluar dari sini. Aku harus memberitahu dunia. Namun, saat aku melirik kembali ke layar ponsel yang masih menyala dalam genggamanku, aku menyadari hal yang lebih mengerikan: di ujung lorong, di dekat pintu keluar, tiga orang lainnya—seorang satpam, seorang pelayan kafe, dan seorang wanita muda—semuanya berhenti berjalan secara bersamaan.

Mereka semua berbalik ke arahku dengan gerakan patah-patah yang identik, dan di balik filter *True Face*, semua lubang hitam di wajah mereka tertuju padaku. Aku bukan lagi seorang penonton. Aku adalah buruan.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca