True Face: Parasit di Balik Lensa

Bab 4: Bab 4 - Mencoba memperingatkan sahabatnya, Maya

Pengaturan Membaca

Jemari Alana gemetar saat ia menekan kode akses apartemen Maya. Bunyi *bip* yang pendek terasa seperti dentuman palu di keheningan lorong lant** dua belas itu. Ia tidak peduli jika tindakannya menerobos ma**k dianggap tidak sopan. Sejak meninggalkan kerumunan di mal tadi, dunianya telah runtuh. Bayangan entitas hitam yang menggeliat di balik kulit orang-orang masih menempel di retinanya seperti noda yang tidak bisa dihapus.

"Maya?" suara Alana serak, nyaris tenggelam oleh deru napasnya sendiri.

Apartemen itu beraroma *scented candle* vanila dan kopi—aroma yang biasanya menenangkan, namun kini terasa memuakkan. Maya sedang duduk di sofa beludru hijaunya, membelakangi pintu, menghadap jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta. Rambut panjangnya yang sering dipuji para pengikutnya di Instagram tergerai sempurna.

"Alana? Tumben sekali tidak mengabari dulu," sahut Maya tanpa menoleh. Suaranya datar, tanpa nada ceria yang biasanya melengking setiap kali mereka bertemu.

Alana melangkah mendekat, kakinya terasa berat seolah berjalan di dalam lumpur. "Maya, dengar. Kau harus membuang ponselmu. Jangan buka TikTok. Jangan pakai filter *True Face* itu. Ada yang salah, May. Sesuatu yang benar-benar mengerikan."

Maya perlahan memutar tubuhnya. Ia tersenyum. Senyum itu sempurna—terlalu sempurna. Sudut bibirnya terangkat pada derajat yang sama persis di kedua sisi, namun matanya tetap sedingin kelereng hitam. "Salah? Apanya yang salah, Al? Filter itu luar biasa. Lihat jumlah *engagement*-mu tadi siang. Kau meledak, Alana. Kau menjadi apa yang selalu kau impikan: pusat perhatian."

Alana menggeleng cepat, air mata mulai menggenang. "Bukan itu maksudku. Aku melihat... aku melihat sesuatu di balik wajah mereka, May. Di balik wajah orang-orang. Seperti ada... parasit."

Maya berdiri dengan gerakan yang terlalu mulus, hampir mekanis. Ia berjalan mendekati Alana. "Mungkin kau hanya kelelahan, Al. Terlalu banyak menatap layar. Kau tahu kan, radiasi bisa membuat kita berhalusinasi."

"Tidak! Aku melihatnya dengan mataku sendiri melalui kamera!" Alana berteriak, mundur selangkah saat Maya mendekat.

Maya berhenti tepat di depannya. Bau vanila dari tubuhnya kini tercampur dengan sesuatu yang samar—bau logam yang berkarat, bau amis yang disembunyikan dengan rapi. Maya memiringkan kepalanya ke kanan, sebuah gerakan kecil yang terasa sangat tidak manusiawi. "Lalu, apa kau melihatnya padaku juga?"

Jantung Alana berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya. Tangannya merogoh saku, menggenggam ponselnya. Logikanya meneriakkan peringatan untuk lari, tapi rasa penasarannya yang morbid—penyakit akut seorang pembuat konten—memaksanya untuk membuktikan bahwa ketakutannya salah. Ia ingin Maya menjadi satu-satunya orang yang masih 'manusia'.

Dengan tangan gemetar, Alana mengangkat ponselnya. Ia membuka aplikasi itu. Ikon filter *True Face* menyala di pojok bawah. Ia mengarahkan kamera depan ke arah mereka berdua.

Layar ponsel itu menampilkan pantulan mereka. Namun, di balik bingkai digital itu, realita terdistorsi.

Wajah Maya di layar tidak lagi memiliki kulit porselen. Di sana, di balik filter yang seharusnya mempercantik, tampak gumpalan daging hitam pekat yang berdenyut-denyut. Makhluk itu menyerupai kumpulan lintah yang saling menjalin, mengisi rongga tengkorak Maya, dan menggunakan kulit sahabatnya hanya sebagai pembungkus yang tipis. Mata asli Maya sudah tidak ada; yang tersisa hanyalah dua lubang kosong tempat tentakel-tentakel halus menyembul keluar, seolah sedang mencicipi udara.

Alana tersedak, menahan muntah. Ia menurunkan ponselnya, kembali melihat wajah 'normal' Maya dengan mata te*******. Perbedaannya begitu mengerikan hingga Alana merasa ingin mencungkil matanya sendiri.

"Kenapa diam, Alana?" tanya Maya. Suaranya kini terdengar seperti dua suara yang bertumpang tindih—suara lembut Maya dan sebuah desisan rendah yang bergema dari dalam dadanya. "Apa aku terlihat cantik di kameramu?"

"Kau... kau bukan Maya," bisik Alana, suaranya hilang ditelan ketakutan.

Maya melangkah maju satu langkah lagi, memangkas jarak di antara mereka. Gerakannya kini lebih agresif. Ia menjangkau lengan Alana, jemarinya terasa sedingin es dan keras seperti cengkeraman besi. "Maya yang lama terlalu lemah, Al. Dia selalu cemas tentang jumlah *likes*, tentang kerutan di matanya, tentang pendapat orang lain. Dia kosong. Aku hanya... mengisinya."

Maya mendekatkan wajahnya ke telinga Alana. Alana bisa merasakan napas Maya yang dingin, tidak ada hangatnya kehidupan di sana.

"Kau punya pengikut yang sangat banyak, Alana. Jutaan orang melihatmu setiap hari. Mereka mempercayaimu. Bayangkan betapa cepatnya kita bisa 'menyembuhkan' mereka semua jika kau yang mengajak mereka menggunakan filter itu."

Alana berusaha meronta, namun cengkeraman Maya di lengannya semakin erat, hingga ia yakin tulang lengannya akan retak. "Lepaskan aku! Kau monster!"

"Monster adalah kata yang kasar untuk sebuah evolusi," desis Maya. Ia menoleh ke arah ponsel Alana yang masih menyala di tangan kiri gadis itu. "Berikan ponselmu padaku, Alana. Mari kita buat satu video terakhir. Video yang akan membuatmu abadi."

Maya merampas ponsel Alana dengan kekuatan yang tak ma**k akal. Dengan satu tangan lainnya, ia mencengkeram leher Alana, menekannya ke dinding apartemen yang dingin. Alana tercekik, kakinya menendang-nendang udara saat punggungnya menghantam bingkai foto kebersamaan mereka di dinding hingga pecah berantakan.

Di pantulan kaca bingkai foto yang retak di lant**, Alana melihat Maya—atau mahluk itu—mulai membuka mulutnya dengan lebar yang mustahil bagi rahang manusia. Dari dalam tenggorokannya, sesuatu yang hitam, basah, dan panjang mulai merayap keluar, mengincar wajah Alana.

"Jangan bergerak, Alana," bisik mahluk di dalam tubuh Maya itu, "ini hanya akan sakit sebentar, sampai kau menyadari betapa indahnya menjadi kami."

Tepat saat ujung tentakel hitam itu menyentuh dahi Alana, lampu apartemen tiba-tiba berkedip dan mati total, meninggalkan mereka dalam kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh satu cahaya: layar ponsel Alana yang masih aktif, menampilkan antarmuka filter *True Face* yang siap merekam.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca