True Face: Parasit di Balik Lensa

Bab 5: Bab 5 - Mencari pembuat filter 'True Face'

Pengaturan Membaca

Cahaya biru dari layar ponsel adalah satu-satunya matahari di kamar apartemen Alana yang kedap suara. Jam di sudut layar menunjukkan pukul 03.14 dini hari, namun kantuk adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli. Di atas meja riasnya yang penuh dengan produk kecantikan sponsor, sebuah cangkir kopi yang sudah dingin meninggalkan noda melingkar yang mengering. Alana tidak peduli. Jempolnya terus bergerak lincah, mengusap layar dengan kecepatan yang hampir menyerupai keg***an.

Ia harus menemukan siapa di balik 'True Face'.

Setiap kali ia menutup mata, bayangan entitas hitam yang menggeliat di balik kulit asisten pribadinya, Siska, kembali menghantui. Makhluk itu—sesuatu yang berminyak, berdenyut, dan tampak lapar—tidak seharusnya ada di sana. Tapi filter itu memperlihatkannya. Filter itu merobek topeng estetika yang selama ini dipuja-puja Alana dan menunjukkan kebusukan yang bersembunyi di dalam raga manusia.

"Ayo, ayo... tidak mungkin hilang begitu saja," bisik Alana. Suaranya serak, tenggorokannya terasa seperti baru saja menelan pasir.

Ia kembali ke video aslinya yang menggunakan filter tersebut. Di pojok kiri bawah, biasanya terdapat label nama filter berserta ikon tongkat sihir kecil. Alana mengetuknya. Biasanya, itu akan membawanya ke halaman utama filter di mana ribuan video lain menggunakan efek yang sama, lengkap dengan nama kreatornya di bagian atas.

*Halaman tidak tersedia.*

Alana mengernyit. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ia mencoba menyegarkan halaman itu. Ikon berputar muncul selama beberapa detik, lalu kembali ke pesan yang sama. Penasaran, ia mencoba mencari melalui kolom pencarian TikTok: *True Face Filter*.

Hasilnya nihil. *No results found for "True Face Filter".*

"Apa-apaan?" Alana menggerutu. Baru kemarin filter ini ma**k ke daftar *trending* nomor satu di seluruh dunia. Jutaan orang menggunakannya. Tantangan #TrueFaceChallenge memba****i beranda siapa pun. Bagaimana mungkin sebuah tren global lenyap dalam semalam tanpa jejak?

Ia beralih ke mesin pencari Google. Ia mengetikkan kata kunci yang sama, ditambah dengan kata 'developer' dan 'TikTok'. Ia menemukan beberapa artikel berita dari situs teknologi besar yang membahas viralnya filter tersebut dua hari lalu. Namun, saat ia mengeklik tautan di dalam artikel yang mengarah ke profil sang pengembang, ia hanya disambut oleh layar putih kosong.

*Error 404: Account Deleted.*

Alana melemparkan ponselnya ke atas ka**r empuknya. Ia berdiri dan berjalan mondar-mandi di ruangan yang kini terasa menyempit. Keringat dingin merembes di pelipisnya. Ini bukan sekadar masalah teknis atau moderasi konten. Ini adalah penghapusan jejak yang sistematis.

"Pasti ada yang tersisa," gumamnya pada diri sendiri. Sebagai seorang influencer, Alana tahu bahwa internet tidak pernah benar-benar lupa. Selalu ada remah roti yang tertinggal.

Ia kembali menyambar ponselnya, kali ini membuka aplikasi forum diskusi Reddit. Ia mencari di *sub-reddit* khusus pengembang filter AR (Augmented Reality). Setelah melakukan *scrolling* selama lima belas menit yang terasa seperti selamanya, ia menemukan sebuah utas yang baru saja diunggah sepuluh menit yang lalu dengan judul: *Ada yang tahu siapa @Xenon_99? Pembuat True Face menghilang.*

Alana dengan cepat membaca komentar-komentar di bawahnya.

*User1: Aku sempat mengunduh source code-nya kemarin karena penasaran dengan algoritma pendeteksi wajahnya. Sangat aneh. Itu bukan kode AR standar. Banyak baris perintah yang tidak bisa diterjemahkan oleh bahasa pemrograman apa pun.*

*User2: Akunnya hilang beberapa jam lalu. Bukan cuma di TikTok, tapi di GitHub dan semua media sosialnya. Seolah-olah orang ini tidak pernah ada.*

*User3: Aku sempat melihat lokasi di profilnya sebelum dihapus. Kode posnya mengarah ke sebuah area industri tua di pinggiran Jakarta. Tapi siapa yang tahu itu asli atau tidak?*

Alana segera membalas komentar *User3* dengan jari gemetar. *Apa kode posnya? Aku butuh alamat itu.*

Ia menunggu. Detik demi detik terasa seperti tetesan air yang jatuh di atas kepalanya dalam ruang isolasi. Lima menit kemudian, sebuah notifikasi ma**k. Sebuah pesan pribadi (DM) dari akun anonim.

*Jangan cari dia, Alana. Kau sudah melihat terlalu banyak, bukan?*

Napas Alana tercekat. Bagaimana orang ini tahu namanya? Akun Reddit-nya menggunakan nama samaran yang tidak berhubungan dengan profil publiknya. Ia segera mengetik balasan: *Siapa ini? Bagaimana kau tahu siapa aku?*

Pesan itu tidak pernah terkirim. Muncul tanda seru merah di samping gelembung pesannya. *This user no longer accepts direct messages.*

Alana merasa hawa dingin menjalar dari tulang ekor hingga ke tengkuknya. Ia merasa seperti sedang diawasi dari balik kegelapan sudut kamarnya. Ia menoleh dengan cepat ke arah cermin besar yang berdiri di sudut ruangan. Di sana, ia melihat bayangannya sendiri—seorang gadis cantik dengan rambut tertata meski berantakan, mengenakan piyama sutra mahal.

Namun, di matanya, bayangan itu terasa asing.

Ia meraih ponselnya lagi, jarinya secara otomatis membuka kamera TikTok. Ia ragu sejenak. Jika ia mengarahkan kamera itu ke wajahnya sendiri, apa yang akan ia lihat? Apakah ia akan melihat dirinya yang biasa, atau ia akan melihat makhluk hitam itu sedang mengintip dari balik matanya?

Perlahan, ia mengangkat ponsel itu. Jarinya gemetar hebat. Ia mencari filter 'True Face' di daftar *recently used*. Ikonnya masih ada di sana, meski namanya kini hanya berupa deretan karakter aneh yang tidak terbaca.

Ia menekan ikon itu.

Kamera depan aktif. Layar ponsel menampilkan wajah Alana. Filter itu mulai memindai. Garis-garis digital hijau bergerak naik turun di permukaan kulit wajahnya. Jantung Alana berdentum keras, suaranya memenuhi telinganya sendiri seolah ingin meledak.

Tepat saat filter itu selesai memproses, lampu di apartemennya berkedip sekali, lalu padam total.

Dalam kegelapan pekat, layar ponsel Alana tetap menyala terang, memancarkan cahaya putih yang menyakitkan mata. Alana membelalak. Di layar itu, filter 'True Face' sedang bekerja.

Namun, ia tidak melihat parasit hitam di wajahnya. Ia tidak melihat daging, tidak melihat urat nadi, tidak melihat tulang.

Di balik filter itu, di tempat di mana seharusnya wajahnya berada, hanya ada kekosongan. Sebuah lubang hitam yang menghisap cahaya, seolah-olah Alana hanyalah sebuah manekin tanpa wajah yang dibungkus oleh proyeksi digital.

Tiba-tiba, sebuah suara notifikasi yang nyaring memecah keheningan. Bukan dari ponselnya, melainkan dari arah pintu depan apartemennya. Suara kunci pintu digital yang sedang ditekan dari luar.

*Pip. Pip. Pip. Pip.*

Seseorang—atau sesuatu—sedang mencoba mema**kkan kode akses rumahnya. Dan Alana tahu, kode itu hanya diketahui oleh dirinya dan Siska. Siska, yang terakhir kali ia lihat, memiliki sesuatu yang mengerikan di balik kulitnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca