Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciumanku begitu pintu geser otomatis Rumah Sakit Medika Utama terbuka dengan desis pelan. Aku menarik masker medis lebih tinggi ke pangkal hidung, berharap kain tipis ini bisa menyembunyikan getar ketakutan di bibirku, sekaligus melindungiku dari bau kematian yang entah mengapa terasa begitu nyata hari ini.
Aku tidak tahu apa yang kucari di sini, tapi intuisiku—yang biasanya kugunakan untuk menebak tren konten berikutnya—menarikku ke tempat di mana hidup dan mati bertemu secara konstan. Aku merogoh saku jaket, jemariku gemetar saat menyentuh bodi ponsel yang dingin. Dengan gerakan yang sudah mendarah daging, aku membuka aplikasi TikTok, namun bukan untuk mengunggah cerita. Aku langsung mengaktifkan filter *True Face*.
Layar ponselku menyala, menampilkan lobi rumah sakit yang ramai. Di mata te*******, semuanya tampak normal. Seorang pria tua sedang batuk di kursi tunggu, seorang suster yang sibuk dengan berkasnya, dan seorang anak kecil yang memeluk boneka beruang. Namun, di balik layar ponselku, kenyataan membusuk.
Gumpalan hitam, pekat seperti oli yang mendidih, berdenyut di dalam dada pria tua itu. Makhluk itu melilit paru-parunya, setiap batuk sang pria adalah upaya sia-sia untuk mengeluarkan parasit yang sudah berakar. Suster di meja pendaftaran tidak lebih baik; di dalam kepalanya, seekor entitas serupa gurita hitam sedang membelit otaknya, tentakel-tentakel halus keluar dari lubang telinga sang suster, berayun lembut seolah sedang mencari sinyal.
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering seperti menelan pasir. Aku berjalan menjauh, kakiku melangkah cepat menuju lift. Aku menekan tombol lant** empat—Bangsal Bersalin. Jika makhluk-makhluk ini sedang menginvasi kemanusiaan, mereka pasti mengincar tempat di mana kehidupan baru dimulai.
Lant** empat jauh lebih sunyi. Hanya ada suara mesin yang berdengung rendah dan sesekali rintihan dari balik pintu kamar. Aku berjalan menyusuri lorong panjang yang remang-remang, tetap mengarahkan kamera ponsel ke depan seolah-olah sedang membuat vlog perjalanan.
"Alana, apa yang kau lakukan di sini?" suaraku berbisik, hampir tak terdengar. Hatiku berdegup kencang, menghantam rusukku seperti burung yang terperangkap dalam sangkar.
Aku berhenti di depan sebuah jendela kaca besar yang menghadap ke ruang perawatan bayi baru lahir. Jantungku seolah berhenti berdetak. Di sana, di balik kaca, berderet boks bayi transparan. Aku mengangkat ponselku, mengarahkan lensa ke arah barisan mahluk mungil yang seharusnya menjadi simbol harapan.
Layarku berkedip sesaat, lalu gambar itu menajam.
Aku menutup mulut dengan tangan bebas agar tidak berteriak. Di dalam ruangan itu, seorang dokter dan dua perawat sedang berdiri di samping salah satu boks. Melalui filter *True Face*, aku melihat pemandangan yang paling mengerikan sejauh ini.
Dokter itu sudah bukan manusia lagi. Di balik jubah putihnya, tubuhnya hanyalah cangkang transparan yang diisi oleh massa hitam pekat yang berdenyut-denyut. Dan yang lebih mengerikan, massa itu sedang *memanjang*. Dari ujung jarinya yang mengenakan sarung tangan latex, sebuah sulur hitam yang tipis dan berkilau keluar, merayap perlahan menuju ubun-ubun seorang bayi yang baru lahir.
Bayi itu tidak menangis. Ia hanya menatap kosong ke langit-langit. Saat sulur itu menyentuh kulit kepalanya, bayi itu sedikit tersentak. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana massa hitam itu mulai ma**k, mengalir seperti tinta yang tumpah ke dalam air jernih, merusak kesucian sang bayi dari dalam.
Pindah. Mereka sedang berpindah.
Parasit itu tidak hanya mengonsumsi; mereka bereproduksi, atau setidaknya menyebarkan diri ke inang yang paling rentan. Air mataku jatuh tanpa izin. Ini bukan sekadar invasi senyap; ini adalah penggantian spesies secara sistematis.
Tiba-tiba, dokter itu berhenti. Gerakannya yang mekanis terhenti total. Kepalanya—yang di layar tampak seperti bola daging hitam yang berdenyut dengan mata yang berpendar redup—berputar perlahan ke arah jendela kaca.
Ke arahku.
Aku terpaku. Aku lupa bahwa di balik filter ini, aku juga bisa dilihat. Di mata orang lain, aku mungkin hanya seorang gadis yang sedang memegang ponsel, tapi bagi *mereka*, aku adalah anomali. Aku adalah saksi.
Dokter itu berjalan menuju pintu keluar ruang bayi. Langkah kakinya terdengar berat di lant** linoleum. *Klik. Klik. Klik.*
Aku mundur selangkah, napas kaget keluar dari paru-paruku. Aku mencoba mematikan ponsel, tapi jemariku mendadak kaku. Di layar, dokter itu semakin dekat, dan aku bisa melihat parasit di dalam tubuhnya menggeliat girang, seolah-olah merasakan kehadiran mangsa baru yang lebih... menantang.
Pintu menuju lorong terbuka dengan bunyi *bip* yang nyaring. Sang dokter keluar, menatapku dengan wajah manusia yang datar dan senyum yang terlalu lebar hingga terlihat tidak alami.
"Alana," suaranya terdengar seperti rekaman rusak, berlapis-lapis antara suara manusia dan desis aneh. "Resolusimu... terlalu tinggi."
Aku berbalik dan lari sekuat tenaga menuju tangga darurat, mengabaikan lift. Sepatuku berderit di lant**. Namun, saat aku baru saja mencapai pintu tangga, ponsel di tanganku bergetar hebat. Sebuah notifikasi muncul di layar, menutupi pandanganku terhadap lorong.
*Seseorang sedang melakukan siaran langsung di dekatmu.*
Aku melirik sekilas ke layar. Siaran langsung itu berasal dari akun rumah sakit, namun judulnya membuat darahku membeku: **"Wajah Baru Alana: Episode Spesial."**
Dan di layar ponselku sendiri, kamera depan secara otomatis aktif, memperlihatkan wajahku yang tertutup filter. Untuk pertama kalinya, aku melihat apa yang selama ini kusembunyikan. Di balik filter itu, di tempat di mana seharusnya wajahku berada, hanya ada kekosongan putih yang luas. Tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Hanya sebuah kanvas kosong yang siap untuk dilukis oleh sesuatu yang hitam.
Di belakang bayanganku di layar, sesosok bayangan hitam besar baru saja muncul dari langit-langit, tepat di atasku.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!