Jari-jemari Alana gemetar hebat, hampir membuat ponselnya yang berbalut casing kristal mahal itu merosot dari genggaman. Layar perangkat itu memancarkan cahaya biru yang tajam, menerangi wajahnya yang pucat dan dipenuhi keringat dingin di dalam kegelapan apartemennya. Suasana sunyi yang biasanya terasa elegan, kini mencekam, seolah-olah setiap sudut ruangan yang luas itu memiliki pasang mata yang mengawasinya dari balik bayang-bayang.
Alana menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti disumpal pasir kering. Di layar ponselnya, sebuah video berdurasi lima puluh detik terputar berulang kali dalam mode pratinjau. Itu adalah rekaman yang ia ambil secara diam-diam di lobi tadi sore. Melalui lensa kamera yang menggunakan filter 'True Face', Alana tidak melihat resepsionis ramah yang biasa menyapanya. Ia melihat gumpalan hitam legam, serupa aspal cair yang berdenyut-denyut di dalam rongga dada dan leher wanita itu. Makhluk itu melilit tulang belakang, mengirimkan getaran parasitik yang membuat kulit manusia inangnya tampak seperti plastik tipis yang hampir robek.
"Kalian harus melihat ini," bisik Alana pada kegelapan. Suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Dunia harus tahu."
Dengan gerakan cepat yang dipicu oleh adrenalin dan kepanikan, Alana mulai mengetik takarir. Tangannya masih gemetar, berkali-kali ia salah menekan huruf.
*JANGAN GUNAKAN FILTER INI. MEREKA ADA DI DALAM KITA. LIHAT REKAMAN INI SAMPAI HABIS. INI BUKAN PRANK. TOLONG SEBARKAN! #TrueFace #Danger #Horror #HelpMe*
Alana menekan tombol *'Post'*.
Sebuah lingkaran pemuatan muncul di tengah layar. Berputar. Lambat. Sangat lambat. Alana menahan napas, matanya tak berkedip menatap bar kemajuan yang merayap dari sepuluh ke dua puluh persen. Di luar jendela, lampu-lampu kota Jakarta yang gemerlap tampak seperti kunang-kunang yang terperangkap, namun bagi Alana, kota itu kini terasa seperti sarang raksasa bagi entitas yang ia lihat di layar.
*65%... 80%... 95%...*
"Ayo, ayo, ayo..." gumamnya, kakinya menghentak-hentak lant** marmer dengan gelisah.
*100%. Video Berhasil Diunggah.*
Alana mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa velvet, memejamkan mata sejenak. Dalam hitungan detik, notifikasi seharusnya memba****i ponselnya. Ia memiliki lima juta pengikut. Biasanya, dalam satu menit pertama, ribuan tanda suka dan komentar akan meledak seperti kembang api digital.
Satu menit berlalu. Sunyi.
Alana mengerutkan kening. Ia menyentuh ikon profilnya untuk memastikan video itu sudah muncul di linimasa. Video itu ada di sana. Namun, saat ia mencoba menekan tombol putar, layar mendadak menjadi hitam. Sebuah ikon roda berputar muncul kembali, lalu pesan sistem muncul di bagian bawah: *'Video ini tidak tersedia.'*
"Apa?" Alana bergumam bingung. Ia menyegarkan halamannya.
Video itu hilang. Lenyap begitu saja seolah-olah tidak pernah diunggah.
"Tidak, tidak, tidak mungkin!" Alana dengan panik mencoba mengunggah ulang. Ia memilih file yang sama dari galeri, mengetik takarir singkat kali iniβhanya kata "TOLONG"βdan menekan unggah lagi.
Kali ini, unggahan itu bahkan tidak mencapai sepuluh persen. Sebuah jendela *pop-up* muncul dengan latar belakang merah menyala, memutus aksesnya secara kasar.
*'Akun Anda telah ditangguhkan sementara karena melanggar Panduan Komunitas terkait: Konten Berbahaya dan Misinformasi Terorganisir.'*
"Misinformasi? Ini nyata!" teriak Alana ke arah layar ponselnya, suaranya pecah menjadi isakan frustrasi. Ia mencoba mengakses fitur pesan langsung, ingin menghubungi manajernya atau siapapun yang bisa menolong. Namun, setiap kali ia menyentuh layar, aplikasi itu tertutup dengan sendirinya. Seolah-olah ada tangan tak terlihat yang menepis jari-jarinya dari kendali ponsel itu.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar lama. Bukan notifikasi, melainkan sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak dikenal. Hanya terdiri dari angka-angka acak yang tidak membentuk pola telepon normal.
Alana membukanya dengan perasaan waswas yang menusuk sumsum tulang.
*Moderator 0-X9: Alana, kecantikan adalah kejujuran. Mengapa kau mencoba merusak estetika yang sedang kami bangun? Berhentilah melihat. Atau kami akan membuatmu tidak bisa melihat selamanya.*
Jantung Alana seolah berhenti berdetak. Itu bukan sekadar peringatan otomatis dari platform. Itu adalah pesan personal. Dingin. Mengancam.
Layar ponselnya mendadak menyala lebih terang, jauh melampaui pengaturan maksimum yang biasanya diizinkan. Cahayanya menyilaukan, membuat Alana terpaksa memicingkan mata. Di tengah cahaya putih itu, kamera depan ponselnya aktif secara otomatis. Lampu indikator kecil berwarna hijau di samping lensa kamera menyalaβmenandakan bahwa seseorang, atau sesuatu, sedang memperhatikannya melalui lensa itu.
Alana melempar ponselnya ke atas sofa, merangkak mundur hingga punggungnya menab**k dinding dingin. Namun, meski ponsel itu tergeletak menghadap langit-langit, suara tawa halus mulai terdengar dari speaker kecilnya. Bukan tawa manusia. Itu adalah suara statis yang terdistorsi, seperti gesekan logam pada kaca, yang perlahan membentuk pola suara yang menyerupai namanya.
*"A-la-na..."*
Ponsel itu bergetar lagi di atas sofa, bergeser sendiri seolah memiliki nyawa, hingga lensanya kembali mengarah tepat ke posisi Alana duduk meringkuk. Di layar yang retak itu, filter 'True Face' aktif dengan sendirinya.
Alana melihat pantulan dirinya di layar yang jauh itu. Di sana, di dalam kamar yang ia yakini kosong, filter itu memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Di belakang sofa, tepat di tempat ponselnya tadi tergeletak, bayangan hitam panjang dengan anggota tubuh yang tidak proporsional sedang berdiri tegak. Makhluk itu tidak memiliki wajah, hanya lubang besar yang berdenyut-denyut di bagian tengah kepala.
Dan yang paling mengerikan, salah satu tangan hitam panjang yang tampak seperti unt**an otot busuk itu sedang memegang sebuah perangkat kecil yang bercahaya.
Alana menutup mulutnya agar tidak berteriak, namun terlambat. Makhluk di layar itu perlahan menurunkan ponselnya, dan di dunia nyata, Alana mendengar suara langkah kaki yang basah dan berat mendekat dari balik punggung sofa.
Ia baru saja menyadari satu hal yang lebih buruk daripada akunnya yang diblokir: para 'moderator' tidak hanya mengawasi dunianya dari balik layar. Mereka sudah berada di dalam kamarnya.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!