Ujung jariku gemetar saat menekan bel pintu yang sudah mengelupas catnya. Apartemen ini terletak di sudut kota yang kumuh, terjepit di antara toko onderdil bekas dan kedai kopi yang nyaris bangkrut. Aroma knalpot dan sampah basah merayap ma**k ke paru-paruku, membuat mual yang sejak tadi tertahan di kerongkongan semakin menjadi. Aku menoleh ke belakang, memastikan tidak ada sosok dengan gerakan patah-patah atau tatapan kosong yang mengikutiku.
Lant** lorong yang lembap seolah membisikkan ancaman. Aku merapatkan jaket hoodie-ku, berusaha menyembunyikan wajah yang biasanya terpampang di papan reklame digital atau layar ponsel jutaan orang. Di sini, popularitasku tidak ada gunanya.
Suara gerendel pintu yang dibuka berkali-kali mengejutkanku. Pintu besi itu terbuka sedikit, tertahan oleh rant** pengaman. Sepasang mata yang dikelilingi lingkaran hitam pekat menatapku dengan penuh kecurigaan.
"Rian?" bisikku, suaraku parau. "Gue Alana. Yang kirim pesan di forum terenkripsi itu."
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia mengendus udara, seolah bisa mencium bau pengkhianatan, sebelum akhirnya melepas rant** dan menarikku ma**k dengan kasar. Ia segera mengunci pintu kembaliβtiga kunci manual dan satu palang besi.
"Matikan ponselmu. Cabut baterainya kalau bisa. Kalau tidak, ma**kkan ke dalam kotak ini," perintahnya tanpa basa-basi. Ia menyodorkan sebuah kotak timah kecil.
Aku menurut, meskipun rasanya seperti memotong pernapasan sendiri saat layar ponselku menggelap. Ruangan itu sempit, pengap, dan hanya diterangi oleh pendar biru dari belasan monitor yang menampilkan barisan kode dan rekaman CCTV statis. Kabel-kabel malang-melintang di lant** seperti akar pohon yang membusuk.
Rian duduk di kursi putarnya yang berderit, jemarinya yang kurus menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak wajar. "Kau beruntung aku belum pindah lokasi. Mereka mulai memantau sinyal dari koordinat ini."
"Mereka?" tanyaku sambil duduk di tepi sofa tua yang berbau apek. "Maksudmu hal-hal hitam itu? Parasit itu?"
Rian berhenti mengetik. Ia berbalik, menatapku dengan tatapan yang membuat bulu kudukku berdiri. "Kau melihatnya, kan? Bukan cuma lewat layar, tapi kau mulai merasakannya di bawah kulitmu?"
Aku menelan ludah, bayangan makhluk hitam menjijikkan yang menggeliat di dalam tubuh ibuku sendiri kembali muncul. "Gue pikir itu glitch. Gue pikir ponsel gue kena hack atau filter itu punya virus visual. Tapi... tapi mereka nyata, kan?"
Rian tertawa hambar, sebuah suara kering yang tidak mengandung humor. Ia meraih sebuah tablet dan menggeser beberapa grafik gelombang frekuensi.
"Ini bukan glitch, Alana. Dan ini bukan sekadar filter hiburan yang dibuat oleh developer haus data," kata Rian, suaranya merendah. "Filter 'True Face' itu menggunakan algoritma pengenalan wajah yang tidak sengajaβatau mungkin sengajaβmembuka sensor spektrum yang seharusnya tertutup bagi mata manusia."
"Maksudmu?"
"Cahaya tampak itu cuma sebagian kecil dari realitas," Rian menjelaskan, matanya berkilat di balik kacamata tebal yang retak. "Kamera ponselmu, dengan sensor barunya yang super sensitif itu, menangkap frekuensi sub-warna. Sesuatu yang berada di luar jangkauan optik biologis kita. Filter itu tidak 'menambahkan' apa-apa ke wajah orang. Filter itu justru 'menghapus' tabir yang selama ini menutupi pandangan kita."
Aku menggeleng pelan, berusaha menolak kenyataan itu. "Jadi, makhluk-makhluk itu... mereka sudah ada di sana selama ini? Di dalam orang-orang yang gue kenal?"
"Bukan di dalam," ralat Rian tajam. "Mereka *adalah* mereka sekarang. Makhluk itu mengonsumsi kesadaran, emosi, dan menyisakan insting dasar untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Mereka menggunakan tubuh manusia sebagai inang, sebagai topeng untuk tetap berada di dunia ini. Filter itu hanya sensor spektrum yang tidak sengaja terkonfigurasi untuk mendeteksi tanda panas dan densitas massa parasit tersebut."
Aku teringat saat aku mengarahkan kamera ke arah diriku sendiri. Kosong. Tanpa wajah.
"Lalu kenapa aku tidak punya wajah saat menggunakan filter itu?" tanyaku, suaraku nyaris hilang. "Jika mereka adalah parasit yang bersembunyi di balik wajah manusia, kenapa di layarku... aku tidak ada?"
Rian terdiam. Jemarinya berhenti bergerak. Ia menatap salah satu monitor yang menampilkan grafik keselarasan saraf. "Itu bagian yang paling membuatku takut, Alana."
Ia berdiri dan mendekatiku, aroma kopi basi dan keringat dingin menguar darinya. "Ada dua kemungkinan. Pertama, kau sudah 'kosong' sepenuhnya sehingga tidak ada lagi kemanusiaan yang bisa dipindai oleh sensor itu. Tapi kau masih di sini, kau masih ketakutan, kau masih punya ego."
"Kemungkinan kedua?" kejar ku.
Rian memegang bahuku, cengkeramannya kuat dan menyakitkan. "Atau kau adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari parasit-parasit itu. Sesuatu yang bahkan filter itu pun tidak berani definisikan."
Tiba-tiba, salah satu monitor di sudut ruangan mengeluarkan bunyi bip nyaring yang berulang. Lampu merah berkedip-kedip di layar CCTV yang mengarah ke lorong depan apartemen.
Rian memucat. Ia bergegas memeriksa layar. Di sana, di lorong yang gelap, berdiri tiga orang. Mereka tampak normalβseorang pria berpakaian kurir, seorang wanita tua, dan seorang anak kecil. Namun, mereka tidak bergerak. Mereka hanya berdiri diam menghadap pintu apartemen Rian, dengan kepala sedikit miring ke samping.
"Mereka di sini," bisik Rian, suaranya gemetar hebat. "Bagaimana bisa? Aku sudah mematikan semua pelacak!"
"Rian, apa yang harus kita lakukan?" aku mulai panik.
Rian tidak menjawab. Ia justru menatapku dengan tatapan horor yang baru. Ia melihat ke arah tanganku yang masih memegang kotak timah berisi ponselku.
"Alana," suaranya tercekat. "Ponselmu... tadi kau bilang kau sudah mematikannya, kan?"
Aku melihat ke arah kotak timah itu. Dari celah tutupnya yang tidak rapat, seberkas cahaya biru tipis keluar. Aku bisa mendengar suara notifikasi yang sangat pelan, beruntun, seperti detak jantung yang terpacu.
*Ting. Ting. Ting.*
Seseorang di luar sana baru saja menandai lokasiku di aplikasi 'True Face', dan entah bagaimana, ponselku menyala dengan sendirinya, memanggil mereka pulang. Di layar CCTV, ketiga orang di lorong itu secara serentak membuka mulut mereka dengan lebar yang mustahil, memperlihatkan sesuatu yang hitam dan berdenyut di balik tenggorokan mereka.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!