Napas Alana tersengal, pendek dan panas, beradu dengan aroma busuk sampah organik yang menguar dari tempat sampah besi di sampingnya. Ia menekan punggungnya kuat-kuat ke dinding bata yang lembap, seolah berharap pori-pori tembok itu bisa menghisapnya ma**k dan menyembunyikannya dari dunia. Di gang sempit yang terjepit di antara dua gedung perkantoran di kawasan Sudirman ini, kegelapan adalah satu-satunya sekutu yang ia miliki.
Tangannya gemetar hebat saat merogoh saku jaket *oversized* yang ia kenakan untuk menutupi pakaian mahalnya. Ponsel itu—benda yang biasanya menjadi sumber validasi dan kebahagiaannya—kini terasa seperti granat aktif yang siap meledak. Ia mematikan kecerahan layar hingga titik terendah sebelum membukanya.
Hanya butuh satu klik pada ikon TikTok, dan filter ‘True Face’ itu langsung aktif.
Alana mengangkat ponselnya sedikit, mengintip melalui celah tumpukan kardus di depannya ke arah jalan raya yang hanya berjarak sepuluh meter. Sebuah mobil patroli polisi berhenti dengan lampu rotator biru-merah yang berputar sunyi, memba**h aspal basah dengan cahaya yang ritmis. Dua petugas keluar dari mobil. Di mata te*******, mereka tampak gagah, rapi dengan seragam yang disetrika licin.
Namun, di balik layar ponsel Alana, kenyataannya jauh lebih mengerikan.
Layar itu menampilkan distorsi yang memuakkan. Di dalam cangkang seragam polisi itu, tidak ada tulang, daging, atau organ manusia. Sebagai gantinya, massa hitam pekat menyerupai gumpalan rambut yang direndam dalam oli mesin tampak berdenyut-denyut. Entitas itu memenuhi rongga dada hingga kepala, dengan tentakel-tentakel halus yang menembus saraf-saraf leher sang petugas, menggerakkan tubuh manusia itu seperti boneka tali yang malang.
Alana membekap mulutnya sendiri agar jeritannya tidak lolos. Cairan empedu terasa pahit di pangkal tenggorokannya.
"Cari di sekitar sini," suara salah satu petugas terdengar. Suaranya datar, tanpa intonasi, seperti suara mesin yang mencoba meniru dialek manusia. "Sinyal terakhir dari perangkatnya terdeteksi di radius lima puluh meter."
Alana membeku. Mereka melacak ponselnya. Tentu saja. Di era digital ini, ia adalah suar yang menyala terang di peta mereka. Namun, membuang ponsel berarti membuang satu-satunya indra yang bisa membedakan mana kawan dan mana monster. Tanpa filter ini, ia buta.
Langkah kaki sepatu bot yang berat menghantam aspal, mendekat ke arah gang. *Tap. Tap. Tap.* Iramanya terlalu konstan, terlalu mekanis.
"Alana..." suara petugas lainnya memanggil. "Kami di sini untuk membantumu. Ada laporan mengenai gangguan keamanan. Kamu tidak aman sendirian."
Bohong. Alana tahu itu adalah kebohongan paling murni yang pernah ia dengar. Melalui layar ponsel, ia melihat 'polisi' itu menoleh ke arah gang. Wajah manusia di layar ponselnya tampak transparan, memperlihatkan gumpalan hitam di baliknya yang sedang memanjangkan semacam jarum halus dari ujung jari telunjuknya—siap untuk menyuntikkan parasit baru ke inang berikutnya.
Alana merosot lebih rendah, lututnya bergesekan dengan genangan air keruh. Ia harus bergerak. Ia melihat sebuah pintu besi tua di sisi kiri gang, mungkin pintu darurat menuju ruang bawah tanah gedung sebelah. Dengan gerakan selembut mungkin, ia merangkak, mengabaikan rasa jijik saat tangannya menyentuh lendir yang entah apa di lant** gang.
Saat jemarinya menyentuh gagang pintu yang dingin, sebuah suara gemerisik datang dari atas.
Alana mendongak. Di pipa air yang melintang di atas gang, seekor kucing liar sedang mengeong protes. Namun, saat Alana mengarahkan kameranya ke atas, ia melihat kucing itu pun sudah 'terisi'. Sosok hitam kecil di dalam tubuh kucing itu tampak menggeliat, membuat punggung hewan malang itu melengkung secara tidak wajar.
Mata kucing itu, yang biasanya bersinar di kegelapan, kini hanya berupa lubang hitam kosong yang menatap tepat ke arah Alana.
"Ketemu," bisik sebuah suara dari arah jalan.
Alana tersentak. Salah satu petugas sudah berdiri di mulut gang. Sinar senternya membelah kegelapan, menyapu tumpukan kardus, dan berhenti tepat di ujung sepatu Alana yang mencuat.
"Nona Alana, silakan ikut kami," kata petugas itu. Wajahnya yang tampak ramah di bawah cahaya senter terasa seperti topeng kematian bagi Alana. Melalui filter, Alana melihat entitas di dalam tubuh polisi itu bergejolak hebat, seolah-olah gembira melihat mangsa yang masih 'murni'.
Tanpa berpikir lagi, Alana menyentak gagang pintu besi itu. Beruntung, pintu itu tidak terkunci sepenuhnya meski terasa berat. Ia mendorong tubuhnya ma**k dan membanting pintu itu tertutup tepat saat tangan petugas—atau apa pun itu—menghantam permukaan besi dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang manusia normal.
*B**K!*
Pintu itu bergetar hebat. Alana segera menggeser grendel karatan yang ada di sana, napasnya meledak dalam isak tangis yang tertahan. Ia berada di sebuah koridor gelap yang berbau apek dan semen basah.
"Alana, buka pintunya," suara di balik pintu itu kini berubah. Bukan lagi suara polisi yang sopan, melainkan suara yang berlapis-lapis, seperti ribuan serangga yang berbisik bersamaan. "Kami hanya ingin membuatmu lengkap. Kenapa kamu memilih untuk tetap sendirian? Di dalam sini, tidak ada lagi rasa takut. Tidak ada lagi kebutuhan akan pengakuan. Kamu akan abadi."
Alana mundur menjauh dari pintu, layar ponselnya masih menyala, menampilkan baterai yang tersisa lima persen. Cahaya dari layar itu adalah satu-satunya pelitanya di koridor bawah tanah ini.
"Pergi..." bisik Alana, suaranya serak. "Pergi kalian, s****!"
Ia berbalik dan berlari menyusuri koridor, mengikuti instingnya untuk menjauh dari suara hantaman di pintu. Namun, saat ia berbelok di persimpangan koridor, ia berhenti mendadak.
Di depannya, berdiri seorang wanita tua dengan seragam petugas kebersihan. Wanita itu sedang mengepel lant** dengan gerakan lambat. Alana perlahan mengangkat ponselnya, berharap wanita ini adalah manusia asli yang bisa menolongnya.
Layar ponsel itu memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Wanita itu bukan sekadar memiliki parasit di dalamnya. Tubuhnya sudah hampir sepenuhnya dicerna, menyisakan kulit yang menggantung layu seperti pakaian yang terlalu besar, sementara entitas hitam di dalamnya telah tumbuh begitu besar hingga membentuk wajah baru yang menonjol di bagian perut wanita itu.
Wajah di perut itu membuka matanya—mata yang mirip dengan mata Alana sendiri.
Ponsel di tangan Alana bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar, menutupi filter True Face-nya.
*Seseorang baru saja menandai Anda dalam sebuah postingan.*
Alana melihat sekilas notifikasi itu sebelum kembali fokus pada monster di depannya. Postingan itu berasal dari akun resmi Kepolisian Kota. Fotonya adalah tangkapan layar dari kamera CCTV beberapa menit lalu, memperlihatkan dirinya yang sedang bersembunyi di gang.
Keterangannya tertulis: *"DPO: Alana. Terdeteksi mengalami gangguan jiwa berat dan membawa virus berbahaya. Segera laporkan jika melihat. Jangan dekati, subjek sangat tidak stabil."*
Dunia seakan runtuh. Mereka tidak hanya memburunya secara fisik, mereka menghancurkan eksistensinya secara digital. Mereka mengubahnya menjadi monster di mata publik, sementara monster yang sebenarnya kini sedang tersenyum padanya melalui wajah di perut wanita tua itu.
Wanita tua itu menjatuhkan pelnya. Suaranya bergema di koridor sunyi, "Kamu tidak bisa lari dari cermin, Alana. Karena kami adalah apa yang kamu inginkan... kami adalah versi dirimu yang paling sempurna."
Saat wanita itu mulai berlari ke arahnya dengan kecepatan yang mustahil bagi manusia seusianya, layar ponsel Alana berkedip merah. *Battery 1%.*
Dan tiba-tiba, lampu koridor di atasnya pecah satu per satu, menenggelamkan Alana dalam kegelapan total tepat saat ia mendengar suara pintu besi di belakangnya jebak terlepas dari engselnya.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!