Unfiltered Heart: Kontrak Cinta yang Menjerat

Bab 1: Bab 1 - Mencari cara agar akun kontennya tidak mati kar...

Pengaturan Membaca

Cahaya biru dari layar monitor adalah satu-satunya sumber penerangan di kamar apartemen tipe studio yang pengap itu. Maya memicingkan mata, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut kaku. Di layar, grafik analitik Instagram-nya tampak seperti tebing curam yang menuju jurang. Garis merah menyala menunjukkan penurunan jangkauan sebesar empat puluh persen dalam tiga puluh hari terakhir.

"Ayo, gerak sedikit saja," gumamnya, jemarinya gemetar saat menekan tombol *refresh*.

Angka pengikutnya tetap stagnan di angka 12.403. Seolah-olah algoritma sedang menghukumnya, mengunci konten-konten tips kecantikan dan ulasan produk *skin care* miliknya di ruang hampa yang tidak terjangkau siapa pun. Di atas meja kerja yang berantakan dengan botol-botol serum kosong, selembar kertas berwarna merah muda mencolok terselip di bawah laptopnya. Surat peringatan tunggakan sewa apartemen.

Maya menghela napas panjang, aroma kopi instan yang sudah dingin menusuk indra penciumannya. Bayangan wajah ibunya saat mereka harus mengemasi barang-barang ke dalam kardus lima tahun lalu, ketika rumah mereka disita bank, mendadak melintas. Rasa sesak itu kembali muncul—ketakutan akut akan kemiskinan yang merayap seperti kabut tebal.

Ia tidak boleh gagal. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa melalui layar ponsel ini, ia akan membangun kembali hidupnya.

Sebuah notifikasi muncul di sudut layar. Bukan dari penggemar, melainkan pesan WhatsApp dari Leo, teman sesama kreator konten yang sering berbagi ruang kerja bersama di kafe bawah tanah dekat apartemen mereka.

*“May, lu lihat punya lu? Algoritma lagi g***. Punya gue drop total. Konten gaming gue cuma tembus seribu views. Kita bakal mati kalau kayak gini terus.”*

Maya tidak membalas. Ia justru membuka profil Leo. Nasib pria itu sebelas dua belas dengannya. Leo punya talenta, wajahnya c**up menjual, tapi kontennya terlalu "biasa" di tengah lautan kreator yang haus perhatian.

Maya berdiri, berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan yang dikelilingi lampu *ring light*. Ia menatap pantulan dirinya: kantung mata yang menghitam, rambut yang diikat asal-asalan, dan kaus oblong yang sudah tipis. Di depan kamera, ia adalah Maya yang berkilau, ahli strategi estetika. Di dunia nyata, ia hanyalah seorang perempuan dua puluh tiga tahun yang hampir diusir dari huniannya.

"Gimmick," bisik Maya pada pantulannya sendiri. "Orang-orang tidak butuh edukasi. Mereka butuh hiburan. Mereka butuh drama."

Ia kembali ke mejanya, membuka *folder* riset yang selalu ia perbarui setiap malam. Matanya tertuju pada tren pencarian teratas: *Couple Goals, Relationship Disclosure, POV Dating.*

Otak strategisnya mulai berputar cepat. Ia mengambil buku catatan kecil dan mulai mencoret-coret. Jika ia memaksakan konten organik, ia butuh waktu satu tahun lagi untuk bangkit. Namun, jika ia memberikan apa yang diinginkan algoritma—sesuatu yang personal, emosional, dan membuat orang ingin tahu—ia bisa memangkas waktu itu menjadi satu malam.

Ponselnya bergetar lagi. Telepon dari pemilik apartemen. Maya membiarkannya berdering, membiarkan suara getarannya mengisi keheningan ruangan seolah-olah itu adalah jam detik yang menghitung sisa waktunya.

Maya meraih ponselnya, lalu mengetik pesan balasan untuk Leo.

*“Leo, ke apartemen gue sekarang. Gue punya strategi. Ini g***, tapi ini satu-satunya cara supaya kita nggak perlu cari kerja kantoran yang gajinya habis buat bayar cicilan doang.”*

Hanya butuh sepuluh menit sampai ketukan keras terdengar di pintunya. Leo muncul dengan napas tersengal, masih mengenakan *hoodie* kebesarannya. Wajahnya tampak frustrasi, rambutnya berantakan seperti baru saja dijambak sendiri.

"Gue baru aja kepikiran mau jual kamera gue, May," ujar Leo tanpa basa-basi begitu melangkah ma**k. Ia mengempaskan diri di sofa kecil satu-satunya di sana. "Gue nggak bisa bayar internet bulan depan kalau nggak ada *endorse* ma**k."

Maya menutup pintu, lalu menguncinya. Ia berdiri di depan Leo dengan tangan bersedekap, ekspresinya sedingin batu es, meski jantungnya berdegup kencang.

"Berapa sisa saldo lu?" tanya Maya tajam.

Leo tertawa pahit, mengeluarkan ponsel dan menunjukkan layar m-banking-nya. "Tiga ratus ribu rupiah. C**up buat makan nasi kucing sampai akhir bulan."

Maya mengangguk. "Gue juga sama. Jadi, pilihannya cuma dua: kita menyerah dan pulang ke rumah orang tua kita sebagai pecundang, atau kita lakukan sesuatu yang ekstrem."

Leo mengerutkan kening. "Ekstrem gimana? Lu mau gue nge-prank jadi hantu? Udah basi, May."

Maya mendekat, duduk di pinggiran meja kerjanya, menatap tepat ke manik mata Leo. "Kita perlu sesuatu yang punya daya viral tinggi. Sesuatu yang membuat orang merasa memiliki kita. Kita butuh narasi, Leo."

"Narasi apa?"

"Cinta," jawab Maya singkat.

Leo terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya tawa hambar keluar dari mulutnya. "Cinta? Lu lihat gue? Gue bahkan nggak punya waktu buat mandi, apalagi pacaran. Lagian, siapa yang mau lihat kita?"

"Nggak ada yang peduli kita benar-benar pacaran atau nggak," potong Maya cepat. Ia mengambil ponselnya, membuka kamera depan, dan menarik Leo agar berdiri di sampingnya. "Lihat. Lu cakep, gue nggak jelek. Kalau kita gabungkan audiens kita yang sedikit itu, lalu kita buat cerita kalau kita selama ini menyembunyikan hubungan kita... orang-orang akan haus akan det**lnya. Algoritma akan mendorong kita ke *explore* setiap hari."

Leo menatap layar ponsel, melihat bayangan mereka berdua yang berdiri bersisihan. Ada kontras yang menarik antara raut wajah Maya yang tajam dan ambisius dengan raut Leo yang lebih sant** namun maskulin.

"Lu mau kita... pura-pura pacaran?" tanya Leo, suaranya merendah.

"Bukan cuma pura-pura," koreksi Maya. "Gue sudah susun garis besarnya. Minggu pertama: *soft launch*. Tangan lu di pundak gue, atau foto dua gelas kopi dengan *caption* ambigu. Minggu kedua: pengakuan. Kita buat video emosional soal bagaimana kita saling dukung di masa sulit. Minggu ketiga: kita mulai jualan ke b**nd."

"Ini penipuan, May," gumam Leo, meski matanya mulai menelusuri rencana yang ditulis Maya di buku catatan.

"Ini bisnis, Leo. *Personal b**nding* adalah konstruksi. Semua orang melakukannya, kita cuma melakukannya dengan lebih terencana," sahut Maya dingin. Ia melangkah lebih dekat, aroma parfum jeruk nipisnya yang tipis tercium oleh Leo. "Pikirkan tagihan lu. Pikirkan mimpi lu jadi *gamer* profesional. Tanpa uang, semua itu cuma omong kosong."

Leo menatap buku catatan itu lama, lalu kembali menatap Maya. Ia melihat determinasi yang hampir menyerupai keputusasaan di mata perempuan itu. Sebuah kilatan yang ia kenal baik, karena ia pun merasakannya.

"Kalau kita ketahuan?"

"Kita nggak akan ketahuan kalau kita disiplin. Ada aturan mainnya. Nggak boleh ada perasaan pribadi, nggak boleh ada skandal di luar, dan semuanya harus lewat persetujuan gue."

Leo menghela napas panjang, lalu mengulurkan tangannya. "Oke. *Deal*. Tapi kalau ini gagal dan gue dihujat se-I****esia, gue bakal nyalahin lu seumur hidup."

Maya menyambut jabat tangan itu. Tangannya dingin, namun genggamannya sangat kuat. "Ini nggak akan gagal. Gue sudah hitung semuanya."

Maya melepaskan tangan Leo, lalu meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi Instagram, mencari fitur *Story*, dan mengarahkan kamera ke arah dua gelas kopi yang tadi ia siapkan di atas meja. Ia menggeser sedikit posisi gelas itu agar terlihat lebih estetik, lalu mengambil foto dengan pencahayaan redup yang dramatis.

Jemarinya mengetik sebuah teks singkat dengan *font* kecil di pojok bawah: *Finally found my safe place.*

Ia menoleh ke Leo yang masih tampak ragu. "Selamat datang di sandiwara terbesar tahun ini, Leo."

Maya menekan tombol *Share*. Di saat yang bersamaan, sebuah pesan ma**k dari pemilik apartemen: *“Mbak Maya, kalau besok pagi belum bayar, kunci cadangan akan saya gunakan untuk mengosongkan unit.”*

Maya mematikan layar ponselnya. Dadanya sesak, tapi ia memaksakan sebuah senyum tipis. Dadu sudah dilemparkan. Tidak ada jalan kembali, meski ia tahu, kebohongan yang ia bangun ini baru saja menciptakan jerat yang mungkin tidak akan pernah bisa ia lepaskan.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca