Lampu sorot di Ballroom Hotel Mulia ini terasa lebih panas dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaanku yang sedang terbakar emosi yang tidak seharusnya ada. Bau parfum mahal bercampur aroma sampanye memenuhi udara, menciptakan atmosfer kemewahan yang palsu—persis seperti hubungan yang sedang kupamerkan saat ini.
Aku mengeratkan rangkulanku di pinggang Maya, menariknya sedikit lebih rapat ke sisiku saat deretan fotografer berteriak meminta kami menoleh ke arah kamera mereka. Maya memberikan senyum andalannya, senyum yang sudah ia latih di depan cermin ribuan kali. Matanya berbinar, kepalanya miring dengan sudut sempurna, menunjukkan garis rahangnya yang tegas. Di mata orang lain, kami adalah *Golden Couple* dunia digital. Di mataku, dia adalah rekan kerja yang mulai membuatku kehilangan akal sehat.
"Jangan terlalu kaku, Leo. Kamu terlihat seperti sedang mengawal tahanan, bukan merangkul pacar," bisik Maya tanpa menghilangkan senyum porselennya.
"Aku hanya memastikan kamu tidak melupakan posisi kita sekarang," sahutku pelan, juga sambil tetap tersenyum untuk kamera di depan kami. "Ingat, miliaran rupiah ada di pundakmu malam ini."
Pandanganku menyapu ruangan, mencari satu sosok yang sejak tadi membuat tengkukku tegang. Dan di sana dia, berdiri di dekat pilar besar dengan kamera DSLR yang tergantung di lehernya. Aris. Dia tidak mengenakan tuksedo seperti tamu undangan lainnya, hanya kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku, namun kehadirannya terasa begitu dominan bagiku.
Aku merasakannya. Saat mata Maya tak sengaja menangkap sosok Aris, ada sesuatu yang berubah. Binar di matanya bukan lagi sekadar teknik pencahayaan, tapi sesuatu yang lebih organik. Sesuatu yang jujur. Dan itu membuat dadaku sesak.
"Leo, lepaskan sebentar. Aku ingin menyapa Aris," bisik Maya, mencoba melepaskan diri dari rangkulanku.
"Tidak sekarang," tegasku. Tanganku justru semakin posesif melingkari pinggangnya.
"Dia fotografer resmi acara ini, Leo. Tidak sopan kalau aku mengabaikannya," Maya mendesis, mulai terlihat kesal di balik topeng profesionalnya.
"Kita sedang berada di tengah-tengah acara peluncuran produk kosmetik paling prestisius tahun ini. B**nd melihat kita. Media melihat kita," aku menundukkan kepala, seolah sedang membisikkan kata-kata cinta di telinganya, padahal setiap kata yang keluar dari mulutku terasa seperti duri. "Kalau kamu terlihat terlalu akrab dengan fotografer itu, orang akan mulai bertanya-tanya. Kita punya *Moral Clause*, Maya. Kamu mau semua ini hancur karena satu percakapan tak penting?"
Maya menatapku, matanya berkilat marah. "Ini bukan tentang kontrak, kan? Kamu bersikap kekanak-kanakan."
"Aku bersikap profesional," bantahku cepat. Bohong. Aku tahu aku berbohong.
Kami dipanggil ke atas panggung untuk sesi tanya jawab. Selama lima belas menit berikutnya, aku memainkan peran sebagai pacar yang suportif dengan sempurna. Aku memuji kecerdasannya, aku menatapnya dengan penuh kekaguman saat dia menjelaskan strategi konten kami, dan aku bahkan sempat mencium pelipisnya saat pembawa acara melontarkan candaan tentang betapa serasinya kami. Penonton bersorak, namun hatiku terasa kosong.
Begitu turun dari panggung, aku sengaja menggiring Maya ke arah yang berlawanan dari posisi Aris berdiri. Aku mengajaknya menyapa para petinggi b**nd, memperkenalkan diri kepada editor majalah fashion, melakukan apa saja agar dia tidak punya celah untuk mendekati pria itu.
Namun, Maya tetaplah Maya. Dia cerdik. Saat aku sedang terjebak dalam percakapan serius dengan salah satu investor tentang metrik pertumbuhan audiens, dia menyelinap pergi dengan alasan ingin ke toilet.
Aku segera memotong pembicaraan dengan sopan dan mengikutinya dari jauh. Benar saja, dia tidak menuju toilet. Dia berbelok ke arah koridor samping yang lebih sepi, tempat Aris sedang memeriksa hasil fotonya di layar kamera.
"Aris!" suara Maya terdengar riang, jauh lebih riang daripada saat dia berbicara denganku sepanjang malam ini.
Aku berdiri di balik bayangan pilar, memerhatikan mereka. Aris mendongak, wajahnya langsung cerah melihat Maya. Mereka mengobrol sebentar, tertawa kecil, dan aku melihat tangan Aris nyaris menyentuh lengan Maya untuk menunjukkan sesuatu di layar kameranya.
Darahku mendidih. Aku tidak bisa membedakan apakah ini karena aku takut kehilangan kontrak miliaran itu, atau karena aku benci melihat cara Maya menatap pria itu—cara yang tidak pernah dia gunakan saat menatapku di balik layar ponsel.
Aku melangkah keluar dari bayangan, memecah suasana intim mereka dengan langkah yang sengaja dikeraskan.
"Maya, di sini rupanya kamu," suaraku berat, memecah tawa mereka.
Maya tersentak sedikit, lalu menoleh padaku dengan ekspresi defensif yang cepat-cepat ia sembunyikan. "Aku cuma sebentar menyapa Aris, Leo."
Aku menghampiri mereka, menatap Aris dengan tatapan yang aku harap c**up tajam untuk membuatnya merasa tidak nyaman. "Maaf mengganggu, Aris. Tapi Maya harus segera kembali ke area utama. Ada permintaan wawancara eksklusif dari salah satu stasiun TV, dan mereka tidak suka menunggu."
Aris mengangguk tenang, seolah tidak terpengaruh oleh auraku yang sedang meledak-ledak. "Tentu. Kerja bagus malam ini, Maya. Fotonya luar biasa."
"Terima kasih, Aris," jawab Maya lembut.
Aku langsung meraih tangan Maya, menjalin jemariku di antara jemarinya dengan erat—sebuah gestur yang terlihat romantis bagi siapa pun yang lewat, tapi bagi Maya, itu adalah peringatan. Aku menariknya menjauh dari koridor itu tanpa berkata-kata sampai kami berada di area yang c**up jauh dari Aris.
"Kamu keterlaluan, Leo," bisik Maya tajam begitu kami berhenti di sudut ruangan yang sepi. "Kamu mempermalukanku di depan Aris."
"Aku menyelamatkanmu dari dirimu sendiri!" balasku, suaraku meninggi meski tetap terkontrol agar tidak menarik perhatian tamu lain. "Kamu tahu betapa tajamnya mata orang-orang di sini? Satu foto kalian berdua dalam posisi yang salah, dan gosip akan menyebar. Aku tidak mau kerja keras kita selama berbulan-bulan hancur hanya karena kamu tidak bisa menahan diri."
"Menahan diri untuk apa? Untuk sekadar bicara dengan teman?" Maya menatapku dengan tatapan tidak percaya. "Atau ini sebenarnya tentang egomu? Kamu mulai lupa kalau kita hanya berakting, ya?"
Pertanyaan itu menghantamku seperti godam. Aku terdiam, menatap matanya yang menantang. Aku ingin menyangkalnya. Aku ingin tertawa dan mengatakan bahwa aku hanya memedulikan uang di rekening bankku. Namun, denyut jantungku yang tak beraturan mengatakan hal yang berbeda.
Sebelum aku sempat menjawab, ponsel di saku jas Maya bergetar. Dia merogohnya, melihat layarnya, dan ekspresinya langsung berubah pucat.
"Ada apa?" tanyaku, kecemburuanku mendadak tergantikan oleh rasa cemas.
Maya memutar layar ponselnya ke arahku. Sebuah notifikasi dari akun gosip besar di media sosial baru saja muncul. Judulnya membuat nafasku tertahan: *“The Perfect Couple or The Perfect Lie? Leo dan Maya Tertangkap Kamera Berdebat Hebat di Balik Layar. Apakah Kontrak Miliaran Rupiah Ini Sedang Diujung Tanduk?”*
Di bawah judul itu, ada sebuah foto buram yang diambil dari jarak jauh. Foto itu memperlihatkan aku yang sedang mencengkeram tangan Maya di koridor sepi tadi, dengan ekspresi wajahku yang terlihat sangat marah.
"Leo..." suara Maya bergetar. "Seseorang memata-mat** kita."
Aku menoleh ke sekeliling ruangan yang penuh dengan kilatan kamera. Baru kusadari, di tempat ini, tidak ada satu inci pun ruang yang benar-benar pribadi. Dan sandiwara yang kami bangun dengan sangat hati-hati, kini mulai menampakkan retakan pertamanya di depan jutaan pasang mata.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!