Layar ponsel di tanganku terasa panas, atau mungkin itu hanya telapak tanganku yang berkeringat karena amarah yang sedari tadi kutahan. Di sana, di sebuah akun gosip *niche* dengan pengikut yang mulai merangkak naik, terpampang foto buram yang diambil dari sudut remang-remang sebuah kafe di Jakarta Selatan. Meskipun wajah pria itu membelakangi kamera, aku tahu betul struktur bahu itu. Dan wanita di depannyaβyang tertawa begitu lepas hingga matanya menyipitβadalah wanita yang secara hukum dan kontrak adalah 'kekasihku'.
Suara kunci pintu yang berputar membuat jantungku mencelos. Aku berdiri dari sofa, mematikan lampu ruang tamu, dan membiarkan hanya cahaya temaram dari dapur yang menyinari ruangan.
Maya melangkah ma**k dengan senyum yang belum sepenuhnya luntur dari bibirnya. Ia tampak segar, berbeda dengan wajah lelah yang biasanya ia tunjukkan saat kami selesai syuting konten seharian. Begitu ia menyadari keberadaanku yang berdiri tegak di tengah kegelapan, ia berjengit, tangannya refleks memegang dada.
"Astaga, Leo! Kamu mengagetkanku," keluhnya sambil meletakkan tas desainer di atas meja. "Kenapa belum tidur? Ini sudah jam sebelas malam."
"Dari mana?" tanyaku. Suaraku lebih dingin dan parau dari yang kuharapkan.
Maya terdiam sejenak, gerakan tangannya yang sedang merapikan rambut terhenti. "Hanya mencari udara segar. Kamu tahu kan, draf konten untuk minggu depan sangat menguras otak."
Aku melangkah maju, membiarkan cahaya dapur menyinari wajahku yang tegang. Aku menyodorkan ponselku ke arahnya. "Udara segar di kafe tersembunyi dengan Aris? Itu yang kau maksud dengan draf konten?"
Wajah Maya seketika memucat. Ia menatap layar ponselku, lalu beralih menatap mataku. Ada kilatan rasa bersalah di sana, tapi hanya sedetik sebelum ia menggantinya dengan raut defensif yang sangat kukenali.
"Itu hanya pertemuan tidak sengaja, Leo. Kami membicarakan soal *moodboard* untuk pemotretan B**nd Ambassador minggu depan," kilahnya, namun suaranya bergetar tipis.
"Jangan bohongi aku, Maya! Kamu pikir aku bodoh?" bentakku. Suaraku menggema di apartemen yang sunyi. "Foto ini diambil jam sembilan malam. Tidak ada fotografer yang membicarakan *moodboard* di kafe seromantis itu tanpa membawa perlengkapan kerja. Kamu mempertaruhkan segalanya!"
Maya melipat tangan di dada, dagunya terangkat menantang. "Mempertaruhkan apa? Karierku? Atau egomu?"
"Kontrak kita!" aku berteriak, melangkah mendekat hingga jarak kami hanya tersisa beberapa jengkal. "Moral Clause, Maya! Ingat itu? Jika salah satu dari kita tertangkap basah menjalin hubungan dengan orang lain, kontrak miliaran ini hangus. Kita harus membayar penalti yang bahkan tidak akan bisa kita lunasi seumur hidup meskipun kita menjual ginjal kita! Kamu mau kembali miskin? Kamu mau semua perjuangan kita menipu algoritma ini sia-sia hanya karena seorang fotografer?"
Maya tertawa sinis, sebuah tawa kering yang terdengar menyakitkan. "Oh, jadi ini soal uang lagi? Selalu soal uang dan karier bagi kamu. Kamu tidak pernah memikirkan bagaimana rasanya harus tersenyum dan berpelukan di depan kamera dengan pria yang hanya menganggapku sebagai aset bisnis!"
"Aku melindungimu!" balasku sengit.
"Kamu tidak melindungiku, Leo! Kamu mengurungku!" teriaknya balik, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku lelah berpura-pura. Aku lelah dicint** oleh jutaan orang yang tidak mengenalku, sementara di kehidupan nyata, aku bahkan tidak boleh merasa bahagia dengan orang yang benar-benar melihatku sebagai manusia, bukan sebagai 'konten'."
Darahku mendidih. Nama Aris yang disebut secara implisit sebagai kebahagiaannya terasa seperti sembilu yang menyayat dadaku. "Jadi dia benar-benar melihatmu sebagai manusia? Dan aku apa? Aku yang bersamamu dari nol, yang begadang bersamamu menyusun strategi agar kita tidak kelaparan, aku ini apa di matamu?"
"Kamu adalah rekan kontrak yang hebat, Leo. Hanya itu," ucapnya pelan, tapi setiap katanya terasa seperti tamparan.
Aku mencengkeram tepi meja di belakangku hingga buku-buku jariku memutih. Rasa sesak yang sejak tadi kupendam akhirnya pecah. Bukan karena takut kehilangan kontrak, bukan karena takut jatuh miskin lagi. Rasa sakit ini berasal dari tempat yang lebih dalam, tempat yang selama ini kusembunyikan di balik naskah-naskah romantis yang kami tulis.
"Rekan kontrak?" suaraku merendah, bergetar karena emosi yang meluap. "Kamu pikir aku marah hanya karena uang itu? Kamu pikir aku cemburu melihatmu dengannya hanya karena aku takut kehilangan b**nd kosmetik itu?"
Aku melangkah lebih dekat, menginvasi ruang pribadinya hingga ia terdesak ke pintu. Aku bisa mencium aroma parfumnya yang bercampur dengan bau kopiβbau kencannya dengan Aris.
"Aku melakukan semua ini, memainkan peran ini, bahkan setuju untuk memalsukan hubungan ini, karena itu satu-satunya cara agar aku bisa berada di dekatmu setiap hari tanpa harus takut kau tolak!" aku berteriak di depan wajahnya. Napas kami memburu, saling bersahutan di antara keheningan yang mencekam. "Aku mulai mencint**mu sejak sebelum kontrak itu ada, Maya! Dan melihatmu memberikan tulusmu pada pria lain sementara aku hanya mendapatkan sisa-sisa aktingmu... itu membunuhku."
Maya tertegun. Matanya yang lebar menatapku dengan keterkejutan yang murni. Bibirnya sedikit terbuka, tapi tak ada kata yang keluar. Air matanya yang sedari tadi tertahan kini jatuh membasahi pipinya.
Aku terengah, menyadari apa yang baru saja kukatakan. Rahasia yang kupendam rapat-rapat kini tergeletak te******* di antara kami. Kesadaranku kembali pulih, dan rasa malu menyergapku. Aku telah melanggar aturan pertama dari permainan kami: Jangan pernah jatuh cinta pada rekan kerja.
"Leo..." suaranya nyaris seperti bisikan.
Aku memalingkan wajah, tidak sanggup menatap matanya yang kini dipenuhi kebingungan. "Keluar dari sini, Maya. Perg***h ke kamarmu."
"Leo, aku tidak tahu kalau kauβ"
"Aku bilang pergi!" suaraku meninggi lagi, kali ini penuh dengan keputusasaan.
Maya tersentak. Dengan tangan gemetar, ia menyambar tasnya dan berlari menuju kamarnya, menutup pintu dengan dentuman keras yang seolah membelah apartemen itu menjadi dua wilayah yang tidak akan pernah bersatu lagi.
Aku jatuh terduduk di lant** yang dingin, menyandarkan punggungku pada sofa yang tadi kupakai untuk menunggunya. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, tapi kali ini terasa lebih menyesakkan. Di atas meja, ponselku bergetar berkali-kali. Sebuah notifikasi dari manajer kami muncul di layar: *'Leo, foto Maya dan Aris mulai viral. B**nd Ambassador kita mengirim pesan mendesak. Kita harus bicara besok pagi jam 7. Persiapkan penjelasan kalian.'*
Aku menatap pintu kamar Maya yang tertutup rapat. Kami baru saja menciptakan badai yang jauh lebih besar daripada sekadar skandal media sosial. Besok, kami harus berhadapan dengan kontrak miliaran rupiah, tapi di dalam sini, di balik dinding ini, aku tahu sesuatu telah hancur dan tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi hanya dengan sebuah video klarifikasi.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!