Cahaya putih dari ring light yang menyilaukan terasa seperti jarum-jarum halus yang menusuk mataku. Aku mengerjap, mencoba menghalau rasa perih yang mulai merayap. Di depanku, tumpukan kotak produk kosmetik Lumina tampak seperti gunung kecil yang siap longsor kapan saja. Ruang studio berukuran empat kali enam meter ini dipenuhi kabel-kabel yang melilit lant** seperti ular hitam, dan aroma kopi instan yang sudah dingin bercampur dengan harum bedak tabur yang menyengat.
"Tiga puluh detik lagi, Maya. Cek lipstikmu, warnanya agak pudar di bagian sudut," suara Aris memecah kebisingan teknis di sekitarku.
Aku menoleh, menemukan Aris sedang menyesuaikan fokus lensa kamera besarnya. Ia tidak menatap layar ponsel, melainkan menatapku langsung melalui celah peralatan syuting. Tatapannya tenang, berbanding terbalik dengan kekacauan yang kurasakan. Saat tangannya bergerak maju untuk merapikan sehelai rambut yang menempel di pipiku, napasku tertahan sejenak. Sentuhannya singkat—hanya sepersekian detik—tapi kehangatan yang tertinggal di sana membuat dadaku terasa sesak oleh sesuatu yang tak bisa kujelaskan.
Bersama Aris, aku merasa tidak perlu menggunakan filter apa pun. Ia mengenalku sebagai Maya yang lelah, Maya yang ambisius, dan Maya yang takut gagal. Bukan Maya sang "Beauty Queen" yang dipuja jutaan pengikut.
"Terima kasih, Ris," bisikku lirih.
"Jangan dipaksakan kalau memang sudah capek," ucapnya pelan, nyaris tak terdengar oleh orang lain di ruangan itu. "Matamu tidak bisa bohong."
Aku baru saja akan membalas ketika pintu studio terbuka lebar. Leo melangkah ma**k dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, terlihat segar seolah ia baru saja tidur sepuluh jam—padahal aku tahu dia sama kurang tidurnya denganku. Ia memegang dua botol minuman energi dan langsung memberikan satu padaku.
"Sudah siap, Sayang? Angka penonton yang menunggu di *waiting room* sudah tembus sepuluh ribu," ujar Leo, suaranya naik satu oktav, menyesuaikan dengan persona 'pacar idaman' yang harus ia mainkan. Ia merangkul bahuku, sebuah gerakan yang sangat alami di depan kamera, namun terasa seperti beban berat bagiku saat ini.
Aku memaksakan senyum tipis. "Siap. Kita harus pecahkan rekor hari ini, kan?"
Leo menunduk, menatapku dengan binar ambisi yang kukenal baik. "Dua puluh empat jam, Maya. Lumina janji akan memberikan bonus kontrak sepuluh persen kalau kita bisa menjaga *engagement* tetap stabil sampai besok pagi. Bayangkan apa yang bisa kita beli dengan uang itu. Apartemen baru? Atau melunasi sisa utang keluargamu di bank?"
Kata-kata Leo adalah jangkar yang menarikku kembali ke kenyataan. Ia adalah stabilitas. Ia adalah tiketku keluar dari trauma kemiskinan yang membayang-bayangi setiap langkahku. Bersama Leo, masa depanku terjamin, asalkan aku tetap berada di dalam garis kontrak yang sudah kami tanda tangani. Cinta atau tidak, Leo adalah rekan bisnis terbaik yang pernah kumiliki.
"Dua puluh empat jam Live Shopping dimulai dalam tiga... dua... satu!" seru manajer produksi dari balik layar.
Lampu indikator merah menyala. Dalam sekejap, topeng kami terpasang sempurna.
"Halo semuanya! Selamat datang di marathon 24 jam bersama MayLeo!" seru Leo ke arah kamera ponsel, suaranya penuh energi dan keceriaan yang menular. Ia menarikku lebih dekat, mengecup pelipisku dengan lembut—tindakan yang memicu ledakan komentar di layar: *'Couple goals banget!', 'Liat cara Leo natap Maya, iri deh!', 'Duh, duniaku terasa milik berdua ya!'*
Aku tertawa, menyandarkan kepala di bahunya sambil memegang botol serum terbaru. "Iya, nih! Leo bahkan nggak mau aku kerja sendirian hari ini. Dia bilang mau menemani kalian semua juga di sini."
Setiap kata yang keluar dari mulutku terasa seperti pasir yang menyumbat tenggorokan. Aku melirik ke arah Aris yang berdiri di balik kamera utama. Ia sedang melihat monitor, wajahnya datar, namun rahangnya tampak mengeras. Ada kekosongan yang muncul di hatiku setiap kali aku harus berpura-pura mencint** Leo di hadapan Aris.
Jam pertama berlalu dengan tawa dan promosi agresif. Jam kelima, kakiku mulai mati rasa karena berdiri terlalu lama dengan *high heels*. Jam kesepuluh, suaraku mulai parau. Namun, tekanan dari tim b**nd Lumina yang memantau lewat Zoom tidak berhenti.
"Maya, lebih mesra lagi dengan Leo. Penonton suka kalau kalian saling menggoda saat mencoba produknya," suara Mbak Vera, perwakilan b**nd, terdengar dari speaker. "Leo, coba aplikasikan maskara itu ke bulu mata Maya. Buat momennya terasa intim."
Aku menelan ludah. Leo mengambil aplikator maskara, mendekatkan wajahnya ke wajahku. Napasnya menyapu kulitku, dan untuk sesaat, aku melihat keraguan di matanya. Apakah dia juga merasa lelah dengan sandiwara ini? Ataukah dia benar-benar mulai merasakan sesuatu yang nyata?
"Diam sebentar, Maya," bisik Leo. Tangannya yang memegang maskara sedikit gemetar, namun ia menutupinya dengan senyum nakal ke arah kamera.
Saat itulah, mataku tak sengaja bertemu kembali dengan mata Aris. Ia sedang memegang botol air mineral yang tadi ia siapkan untukku, seolah ingin memberikannya tapi tahu ia tak punya hak untuk ma**k ke dalam bingkai 'kesempurnaan' ini. Di mata Aris, aku melihat kepedulian yang tulus—sebuah kenyamanan yang tidak menuntut apa-apa selain kejujuran. Sementara di depanku, Leo adalah simbol kesuksesan yang dibangun di atas kebohongan yang rapi.
Pikiranku berkecamuk. Jika aku memilih Aris, aku menghancurkan kontrak miliaran rupiah, menghancurkan karier Leo, dan kembali ke titik nol di mana kemiskinan menungguku dengan taring terbuka. Jika aku tetap bersama Leo, aku akan memiliki segalanya kecuali diriku yang sebenarnya.
"Maya? Kamu melamun?" Leo menyentuh daguku, menarik perhatianku kembali ke lensa kamera yang menatap kami tanpa ampun.
Aku tersadar, ribuan komentar meluncur cepat di layar. Beberapa mulai curiga.
*@BeautyLover: Kok Maya bengong sih?*
*@AntiDrama: Tatapan Maya kayak lagi sedih, ada apa ya?*
Aku harus memperbaiki ini. Segera.
"Ah, maaf! Aku cuma terlalu terpesona liat Leo sedekat ini," kataku sambil tertawa manja, meski hatiku terasa perih. Aku meraih tangan Leo, memandu jarinya untuk menyelesaikan riasanku.
Namun, di tengah tawa palsu itu, sebuah notifikasi mendenting keras dari tablet yang digunakan tim untuk memantau media sosial. Wajah manajer produksi berubah pucat. Ia memberikan kode 'cut' darurat dengan tangan disilangkan.
"Ada apa?" tanya Leo, masih dalam mode *on-camera* meskipun ia tahu siaran sedang dijeda secara teknis.
Manajer itu menunjukkan layar tablet ke arah kami. Jantungku serasa berhenti berdetak. Di sana, sebuah akun gosip besar baru saja mengunggah foto buram dari arah samping studio—foto yang diambil beberapa hari lalu. Di foto itu, aku sedang berdiri sangat dekat dengan Aris di parkiran, tangannya berada di pundakku, dan ekspresi wajahku menunjukkan kelegaan yang tidak pernah kutampilkan saat bersama Leo.
Judul unggahan itu terbaca jelas: *“Apakah Kemesraan MayLeo Hanya Gimmick Kontrak? Maya Tertangkap Basah Bersama Pria Lain!”*
Aku menoleh ke arah Aris, lalu ke arah Leo yang wajahnya seketika menegang. Di bawah sorot lampu studio yang masih menyala panas, aku sadar bahwa maraton 24 jam ini baru saja berubah menjadi medan tempur yang bisa menghancurkan hidupku dalam sekejap. Dan di depan kami, jutaan orang sedang menunggu penjelasan.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!