Lampu-lampu studio satu per satu padam, menyisakan keremangan yang hanya diterangi oleh pendar lampu jalanan Jakarta yang merembat ma**k lewat jendela kaca besar. Suasana sunyi ini biasanya menenangkan, namun malam ini, keheningan itu terasa mencekik leherku. Di sudut ruangan, Aris sedang merapikan tripod dan mema**kkan kamera mahalnya ke dalam tas pelindung. Gerakannya efisien, tenang, namun ada ketegangan di garis bahunya yang tidak bisa ia sembunyikan dariku.
Aku meremas ujung blus sutraku, merasakan keringat dingin mulai membasahi telapak tangan. Setiap kali aku melihat Aris, ada bagian dari diriku yang ingin berteriak, melepaskan topeng "kekasih idaman" yang kupakai bersama Leo di depan kamera. Tapi setiap kali itu juga, bayangan kontrak miliaran rupiah dan pasal 'Moral Clause' yang mengerikan itu muncul seperti hantu yang mengancam akan menyeretku kembali ke masa-masa sulit saat keluargaku bangkrut.
"Aris," panggilku pelan. Suaraku terdengar asing, serak dan penuh keraguan.
Aris berhenti bergerak, namun ia tidak langsung berbalik. "Ya, Maya? Ada yang ketinggalan? Leo sudah menunggumu di lobi, kan?"
"Leo sudah pergi duluan. Dia ada urusan dengan manajemen," dustaku. Leo sebenarnya sengaja kubiarkan pergi agar aku bisa bicara berdua dengan Aris. Aku tidak bisa membiarkan tatapan Aris yang penuh tanda tanya itu terus menghantuiku setiap kali kami melakukan sesi foto. "Bisa kita bicara sebentar?"
Aris akhirnya berbalik. Ia menyandarkan tubuhnya pada meja kayu besar, melipat tangan di depan dada. Tatapannya tajam, tipe tatapan fotografer yang bisa melihat det**l terkecil yang coba disembunyikan subjeknya. "Tentang apa? Konsep konten besok? Atau revisi warna untuk kampanye kosmetik itu?"
"Bukan soal pekerjaan," kataku, melangkah mendekat meski lututku terasa lemas. "Ini tentang... apa yang kamu lihat belakangan ini. Antara aku, Leo, dan... semua sandiwara ini."
Aris menaikkan satu alisnya. Keheningan kembali merayap di antara kami, lebih berat dari sebelumnya. Aku menarik napas panjang, mencoba mencari keberanian di tengah debaran jantung yang tidak beraturan.
"Semua yang kau lihat di media sosial, Aris... kemesraan itu, liburan ke Bali minggu lalu, video tunangan bohongan itu... itu semua tidak nyata," ucapku dalam satu embusan napas. "Aku dan Leo tidak punya hubungan apa-apa. Kami hanya terikat kontrak. Kami adalah produk, Aris. Bukan pasangan."
Aku menunggu reaksi darinya. Bayanganku, dia akan terkejut atau mungkin merasa lega. Namun, ekspresi Aris justru mengeras. Ia tidak tampak terkejut. Sebaliknya, raut wajahnya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: kekecewaan yang mendalam.
"Aku tahu, Maya," jawabnya singkat. Suaranya rendah dan dingin.
Aku tersentak. "Kamu... tahu?"
"Aku bukan orang bodoh. Aku melihat bagaimana kalian berinteraksi saat kamera mati. Tidak ada percikan, tidak ada kasih sayang, hanya koordinasi kerja yang sangat rapi," Aris tertawa pendek, tawa yang terdengar getir di telingaku. "Tapi mendengarnya langsung darimu sekarang... kenapa? Kenapa baru sekarang kamu mengatakannya?"
"Karena aku merasa bersalah padamu!" seruku, langkahku kini tinggal satu meter darinya. "Aku tidak ingin membohongimu lagi. Setiap kali kamu menatapku saat sesi foto, aku merasa seperti penipu terbesar di dunia. Aku harus jujur karena... karena aku peduli padamu, Aris."
Aku mencoba menyentuh lengannya, tapi Aris sedikit bergeser, menghindari kontak fisik itu seolah tanganku adalah api yang akan membakarnya. Penolakan itu terasa lebih perih daripada tamparan.
"Kamu peduli padaku?" Aris menatapku dengan mata yang memerah. "Atau kamu hanya ingin merasa lebih baik tentang dirimu sendiri dengan mengaku padaku? Maya, selama berbulan-bulan aku berdiri di balik lensa, memotretmu yang sedang berpelukan dengan pria lain, meyakinkan diriku bahwa itu hanya tuntutan pekerjaan. Aku mencoba mencari alasan untuk tetap di sini, di dekatmu, karena aku bodoh dan mulai memiliki perasaan padamu."
Aris menjeda kalimatnya, menarik napas dalam yang bergetar. "Tapi sekarang aku sadar. Kamu bukan hanya membohongi pengikutmu. Kamu menjadikanku alat, Maya. Kamu menjadikanku bagian dari lingkaran kebohongan ini. Kamu mengizinkanku ma**k hanya untuk menunjukkan betapa palsunya hidupmu."
"Itu tidak benar! Aku terjebak, Aris!" suaraku meninggi, air mata mulai menggenang. "Keluargaku... aku tidak bisa gagal lagi. Kontrak ini adalah tiketku untuk keluar dari semua kemiskinan itu. Kalau aku melanggar kontrak ini, aku harus membayar penalti yang tidak akan sanggup kubayar seumur hidupku!"
"Dan harganya adalah integritasmu?" Aris memungut tas kameranya dengan kasar, menyampirkannya di bahu. "Harganya adalah mempermainkan perasaan orang-orang yang tulus padamu? Kamu bilang kamu jujur padaku sekarang, tapi besok pagi, kamu akan mengunggah foto mesra lagi dengan Leo dengan *caption* tentang cinta sejati. Lalu di mana kejujuranmu?"
Aku terpaku, kata-katanya menghujam tepat di pusat ketakutanku. Aku ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa aku melakukannya demi bertahan hidup, tapi setiap argumen yang kusisir di kepalaku terasa tumpul di hadapan kekecewaannya yang nyata.
Aris berjalan menuju pintu, langkah kakinya menggema di ruangan yang kosong. Di ambang pintu, ia berhenti tanpa menoleh. "Jangan panggil aku lagi kalau hanya untuk membantumu memoles kebohongan itu, Maya. Aku fotografer, tugasku menangkap momen nyata. Dan saat ini, aku tidak melihat ada yang nyata tersisa dalam dirimu."
Pintu studio tertutup dengan dentum pelan yang terasa seperti vonis mati. Aku berdiri sendirian di tengah kegelapan, dikelilingi oleh peralatan mahal yang menjadi saksi bisu kesuksesanku yang fana.
Tiba-tiba, ponsel di saku celanaku bergetar hebat. Sebuah notifikasi muncul di layar yang terang benderang. Itu adalah pesan grup dari manajemen b**nd kosmetik: *βBesok pagi jam 08.00, Maya dan Leo harus melakukan Live Streaming pengumuman tanggal pernikahan palsu kalian. Persiapkan chemistry terbaik. Ini adalah puncak kampanye kita.β*
Aku menatap layar ponsel itu dengan tangan gemetar. Di satu sisi, ada Aris yang baru saja melangkah keluar dari hidupku karena kebohonganku, dan di sisi lain, ada tuntutan kontrak yang menarikku semakin dalam ke dalam lubang yang sama. Aku harus memilih, tapi setiap pilihan terasa seperti pisau bermata dua yang siap menyayat hatiku hingga habis.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!