Lampu neon di ruang rapat lant** 24 gedung Aurora Cosmetics memancarkan cahaya putih yang terlalu terang, membuat mataku perih. Aku menyesap kopi hitam yang sudah mendingin, merasakan pahitnya menempel di pangkal lidah. Di seberang meja, Sarahβdirektur pemasaran yang selalu tampak seperti baru saja keluar dari sampul majalah bisnisβsedang memutar slide presentasi dengan antusiasme yang membuat perutku mulas.
Maya duduk tepat di sampingku. Wangi parfum vanilanya yang lembut biasanya menenangkan, tapi hari ini, aroma itu terasa seperti pengingat akan sekat yang memisahkan kami. Dia duduk tegak, buku catatan kecil terbuka di depannya, jemarinya lincah mencatat poin-poin penting. Profesional. Selalu profesional.
"Kita sudah sampai di puncak kampanye 'The Eternal Glow'," suara Sarah memecah keheningan yang kaku. "Angka keterlibatan kalian di media sosial adalah yang tertinggi dalam sejarah b**nd kami. Tapi, kita butuh penutup yang tidak akan dilupakan publik. Sesuatu yang mengunci loyalitas konsumen selamanya."
Aku melirik Maya. Dia tidak menoleh, tapi aku bisa melihat otot rahangnya mengeras sesaat.
Sarah menekan tombol pada remote kecil di tangannya. Di layar proyektor muncul sebuah kata dalam huruf emas yang elegan: *The Promise.*
"Kami ingin kalian bertunangan," ujar Sarah sant**, seolah dia baru saja mengusulkan untuk mengganti warna latar foto. "Bukan hanya sekadar pengumuman, tapi sebuah acara *live streaming* eksklusif di Bali. Kita akan menyewa vila privat, ada pesta kembang api, dan puncaknya adalah saat Leo berlutut memberikan cincin kustom dari koleksi perhiasan terbaru mitra kami."
Darahku terasa berdesir ke telinga. Aku meletakkan cangkir kopiku dengan denting yang sedikit terlalu keras di atas meja kaca. "Tunangan?" ulangku, suaraku terdengar lebih serak dari yang kuinginkan.
"Ya, Leo. Ini adalah *grand finale* yang sempurna. Kontrak kalian masih menyisakan delapan belas bulan. Bayangkan dampaknya! Penjualan akan meroket, dan status kalian sebagai *it-couple* nasional tidak akan tergoyahkan. Tentu saja, akan ada bonus nilai kontrak sebesar lima ratus juta rupiah jika kalian setuju dengan klausul tambahan ini."
Aku bisa merasakan Maya bergerak di kursinya. Dia akhirnya menoleh padaku, matanya mencari sesuatu di wajahku. Ketakutan? Ambisi? Aku tidak tahu lagi apa yang ada di balik binar matanya yang cokelat itu. Sejak Aris ma**k ke dalam lingkaran kami, ada jarak tak kasat mata yang terus melebar di antara kami berdua.
"Sarah," Maya bicara dengan nada tenang yang sangat aku benci karena itu adalah nada 'bisnis'-nya. "Ini langkah yang besar. Di luar kesepakatan awal kita tentang konten rutin."
"Itulah sebabnya ada bonus besar, Maya," sahut Sarah cepat. "Kalian adalah investasi kami. Publik memuja kalian. Mereka ingin melihat akhir yang bahagia. Dan kita semua tahu, di dunia ini, akhir yang bahagia berarti sebuah cincin."
Aku mengepalkan tangan di bawah meja, menyembunyikannya dari pandangan kamera CCTV di sudut ruangan. "Bagaimana jika saya tidak mau?"
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Sarah mengerutkan alisnya yang dipulas sempurna. "Tidak mau? Leo, ini adalah peluang karier terbesar dalam hidupmu. Kamu bisa membeli apartemen di pusat kota dengan bonus ini."
"Ini bukan soal uang," kataku, kini suaraku lebih stabil, meski hatiku berdegup kencang. "Kalian meminta saya untuk melamar seorang wanita di depan jutaan orang sebagai bagian dari strategi pemasaran. Kalian meminta saya menjanjikan hidup saya pada seseorang hanya untuk menjual lipstik dan serum."
"Leo, jangan emosional," potong Maya pelan, tangannya menyentuh lengankuβsebuah gestur yang biasanya terlihat mesra di depan kamera, tapi kali ini terasa seperti sebuah peringatan. "Kita bisa bicarakan ini."
Aku menepis tangannya pelan, sebuah tindakan yang membuatnya tertegun. "Bicara apa, May? Bahwa kita akan membohongi orang-orang lagi dengan tingkat yang lebih parah? Kamu mau aku berlutut di sana, mengucapkan janji suci yang sudah ditulis oleh tim kreatif mereka, sementara kita berdua tahu bahwa setelah kamera mati, kita bahkan tidak tahu bagaimana cara bicara satu sama lain tanpa melibatkan jadwal konten?"
Wajah Maya memucat. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikanβcampuran antara kemarahan dan luka yang terpendam.
Sarah berdehem, mencoba mengendalikan situasi. "Dengar, kami tidak memaksa kalian untuk benar-benar menikah di catatan sipil dalam waktu dekat. Ini adalah *fake engagement* untuk keperluan *b**nding*. Setelah kontrak dua tahun selesai, kalian bisa mengumumkan 'ketidakcocokan' atau apa pun itu. Tapi untuk sekarang, pasar butuh romansa."
Aku berdiri, kursi yang kududuki berdecit keras di atas lant** marmer. "Saya bukan aktor. Saya pikir kita membangun ini karena kita punya kesamaan visi sebagai kreator. Tapi jika 'visi' itu terma**k menjual momen paling sakral dalam hidup saya demi algoritma, saya rasa saya perlu berpikir ulang."
"Leo, duduk," perintah Maya, suaranya kini tajam. Dia juga ikut berdiri, menatapku dengan penuh determinasi. "Kita punya tanggung jawab pada kontrak. Ada *Moral Clause* yang sangat ketat. Jika kamu bertindak gegabah dan merusak kampanye ini, kita harus membayar penalti miliaran. Kamu lupa dari mana kita berasal? Kamu lupa seberapa keras kita berjuang untuk sampai di posisi ini agar tidak perlu lagi memikirkan cara membayar tagihan bulan depan?"
Aku menatapnya lekat-lekat. Aku melihat Maya yang ambisius, Maya yang ketakutan akan kemiskinan, Maya yang siap mengorbankan apa pun demi keamanan finansial. Dan di suatu tempat di balik itu, aku merindukan Maya yang tertawa tulus saat kami pertama kali merintis kanal kecil kita dulu.
"Aku tidak lupa, May," bisikku, c**up pelan agar hanya dia yang dengar. "Tapi aku tidak bisa melamarmu jika itu hanya akting. Aku tidak akan membiarkan momen itu menjadi sebuah kebohongan, karena bagiku..."
Kalimatku menggantung. Aku tidak bisa mengatakannya di sini, di depan Sarah, di bawah lampu neon yang dingin ini. Aku tidak bisa mengakui bahwa aku mencint**nya dengan begitu nyata sehingga ide untuk memalsukan lamaran terasa seperti penghinaan terhadap perasaanku sendiri.
"Leo, tolong," Maya memohon dengan matanya. "Hanya satu video ini. Setelah itu, kita aman."
Aku melihat ke arah Sarah yang mulai terlihat tidak sabar, lalu kembali ke Maya. Di benakku, bayangan Aris yang sedang mengambil foto Maya dengan tatapan memuja muncul kembali, membakar dadaku dengan kecemburuan yang tidak berhak kumiliki.
"Aku butuh waktu," kataku tegas, tanpa menunggu jawaban dari mereka.
Aku meraih jaketku dan melangkah keluar dari ruang rapat, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di belakangku. Saat pintu kaca otomatis itu tertutup, aku tahu bahwa aku baru saja menyalakan sumbu ledak. B**nd tidak akan melepaskanku begitu saja, dan Maya... Maya mungkin tidak akan pernah memaafkanku jika aku menghancurkan mimpinya.
Namun, saat aku melangkah menuju lift, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi pesan dari nomor tak dikenal ma**k ke layarku.
*Aku punya foto-foto di balik layar saat kalian bertengkar hebat kemarin. Berapa harga yang harus kubayar agar foto ini tidak sampai ke tangan Aurora Cosmetics?*
Langkahku terhenti. Jantungku serasa jatuh ke lant**. Seseorang telah mengawasi kami, dan sandiwara yang kami bangun dengan susah payah ini baru saja mendapatkan ancaman nyata yang bisa menghancurkan segalanya sebelum aku sempat membuat keputusan.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!