Udara di dalam ruang rapat kantor hukum *Suryadi & Partners* terasa lima derajat lebih dingin daripada lobi di bawah tadi. Mungkin itu hanya perasaanku, atau mungkin AC sentral gedung pencakar langit ini memang dirancang untuk membekukan nyali siapa pun yang berani ma**k ke dalamnya. Di depanku, bertumpuk dokumen dengan logo emas Lumina Cosmetics—rant** yang mengikat leherku dan Leo selama dua tahun ke depan.
Aku menyesap kopi hitam yang sudah mendingin, berusaha meredam gemetar halus di ujung jemariku. Di seberang meja kayu m***ni yang meng***p ini, Pak Handoko, kepala tim legal Lumina, sedang merapikan letak kacamatanya. Gerakannya lambat, presisi, dan sangat mengintimidasi.
"Jadi, Maya," suaranya berat, bergema di ruangan yang kedap suara itu. "Bisa kau ulangi lagi bagian mana dari kontrak setebal empat puluh halaman ini yang menurutmu... perlu 'ditinjau ulang'?"
Aku berdeham, mencoba memanggil kembali keberanian yang tadi pagi kupupuk di depan cermin kamar mandi. "Bukan ditinjau ulang secara keseluruhan, Pak Handoko. Saya hanya menanyakan tentang klausul terminasi dini terkait... kondisi kesejahteraan mental dan ketidakcocokan visi kreatif di tengah jalan. Saya ingin tahu, adakah ambang batas tertentu yang memungkinkan pembatalan tanpa harus memicu denda penuh?"
Handoko tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku dengan mata kecilnya yang tajam di balik lensa. Dia terlihat seperti predator yang sedang menonton mangsanya mencoba melompati pagar berduri.
"Kesejahteraan mental?" Handoko terkekeh, suara yang lebih mirip gesekan amplas. "Dengar, Nak. Di dunia industri kosmetik dengan nilai kontrak miliaran rupiah, 'kesejahteraan mental' adalah sesuatu yang kau beli dengan uang bonusmu di akhir tahun, bukan alasan untuk lari dari tanggung jawab. Di sini, di halaman dua belas, poin empat."
Dia membalik halaman kontrak dengan suara *kresek* yang tajam, lalu mengetukkan jarinya di atas baris kalimat yang sudah kuhafal di luar kepala.
"Pihak Kedua dilarang keras melakukan tindakan apa pun yang dapat merusak citra publik sebagai 'Pasangan Ideal Lumina', terma**k namun tidak terbatas pada: perselisihan terbuka, perpisahan, atau keterlibatan romantis dengan pihak ketiga," bacanya dengan nada datar yang kejam. "Pelanggaran terhadap poin ini dianggap sebagai wanprestasi berat. Dendanya? Tiga kali lipat dari nilai total kontrak, ditambah pengembalian seluruh biaya produksi yang sudah berjalan. Kau tahu berapa nominalnya, bukan?"
Aku menelan ludah. Sepuluh miliar rupiah. Angka itu terngiang di telingaku seperti lonceng kematian. Bayangan masa lalu—saat kurir penyitaan menempelkan stiker di pagar rumah orang tuaku—kembali menghantui. Aku tidak bisa bangkrut lagi. Tidak sekarang, ketika aku baru saja mulai bernapas.
"Tapi, bagaimana jika situasi di lapangan berubah?" aku mencoba mendesak, suaraku sedikit naik satu oktaf. "Kami adalah manusia, bukan robot. Jika secara organik hubungan ini tidak lagi bisa dipertahankan—"
"Maka kau harus membuatnya tetap terlihat bisa dipertahankan," potong Handoko tajam. Dia condong ke depan, auranya mendominasi ruangan. "Lumina tidak membayar kalian untuk menjadi jujur. Lumina membayar kalian untuk menjadi *fantasi*. Pengikutmu tidak ingin tahu apakah kau dan Leo bertengkar soal siapa yang mencuci piring. Mereka ingin melihat kalian berpelukan di bawah lampu Paris."
Dia menutup map itu dengan dentuman keras yang membuatku terlonjak sedikit.
"Dan perlu kuingatkan, Maya. Jika kau mencoba mencari celah dengan berpura-pura sakit atau menyebarkan narasi negatif ke media tentang betapa 'mengekangnya' kontrak ini, kami sudah menyiapkan gugatan pencemaran nama baik. Kami punya tim PR yang bisa menghancurkan reputasi digitalmu dalam semalam. Kau akan dikenal sebagai pembohong yang tidak profesional, dan tidak akan ada *b**nd* satu pun, sekecil apa pun, yang mau menyentuhmu lagi."
Rasa mual mulai naik ke kerongkonganku. Napasku terasa pendek. Ancaman itu bukan sekadar gertakan; aku melihat kilat keseriusan di matanya. Baginya, aku bukan kreator konten berbakat. Aku hanya aset yang harus dijaga agar tetap menghasilkan laba.
"Jangan bermain api, Maya," lanjutnya, kini suaranya melunak, tapi justru terasa lebih mengancam. "Nikmati saja uangnya. Pakai gaun indahnya. Tersenyumlah di depan kamera Aris. Hanya dua tahun. Setelah itu, kau bebas menjadi siapa pun yang kau mau. Tapi untuk saat ini, kau adalah milik Lumina. Dan kau adalah milik Leo."
Aku bangkit berdiri, kakiku terasa seperti jeli. Aku tidak sanggup lagi berada di ruangan ini. "Terima kasih atas waktunya, Pak Handoko. Saya hanya ingin memastikan saya memahami setiap det**lnya."
"Bagus. Karena satu langkah salah, dan kau akan menghabiskan sisa umurmu hanya untuk membayar hutang pada kami."
Aku keluar dari ruangan itu dengan kepala berdenyut. Koridor kantor hukum yang dingin ini terasa makin menyempit. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungku yang berpacu. Di saku blazernya, ponselku bergetar.
Sebuah pesan dari Aris muncul di layar terkunci.
*Aris: "Lagi di mana? Aku baru saja menemukan sudut baru di studio yang pencahayaannya sempurna untuk wajahmu. Mau coba tes foto sebentar sore ini? Hanya kita berdua."*
Aku menatap pesan itu c**up lama hingga layar ponselku kembali gelap. Di satu sisi ada jurang kehancuran finansial yang menganga, dan di sisi lain ada tarikan magnetis dari seseorang yang membuatku merasa 'nyata' di tengah semua kebohongan ini.
Baru saja aku hendak membalas, ponselku kembali bergetar. Kali ini pangg***n ma**k. Nama 'Leo' muncul di layar, lengkap dengan emoji hati yang kami pasang demi keperluan konten jika ada orang lain yang melihat ponsel kami.
Aku mengangkatnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
"Ya, Leo?"
"Maya, kau di mana? Manajer Lumina baru saja menelepon. Mereka ingin kita melakukan *live streaming* mendadak malam ini. 'Dinner romantis di apartemen', katanya. Kita harus mulai persiapan sekarang."
Aku memejamkan mata rapat-rapat, bersandar pada dinding lift yang dingin. "Oke, aku segera ke sana."
Saat lift turun, aku merasa seolah-olah sedang meluncur jatuh ke dalam kegelapan. Kontrak itu bukan lagi sebuah tangga menuju kesuksesan; itu adalah peti mati berlapis emas yang tutupnya baru saja dipaku mati oleh Handoko. Dan yang membuatku paling takut bukanlah denda miliaran rupiah itu, melainkan kenyataan bahwa aku mulai meragukan apakah aku sanggup menatap mata Leo malam ini tanpa merasa seperti seorang pengkhianat—atau sebaliknya, tanpa takut bahwa sandiwara ini perlahan-lahan mulai menelan sisa-sisa diriku yang asli.
Pintu lift terbuka dengan denting yang ceria, sangat kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam dadaku. Aku melangkah keluar, kembali ke dunia di mana setiap senyumku memiliki label harga, dan setiap detak jantungku adalah milik perusahaan. Namun, saat aku melewati lobi, aku melihat sosok familiar yang berdiri di dekat pintu keluar, menungguku dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Itu bukan Leo. Itu Aris. Dan dari cara dia menatapku, aku tahu dia tahu aku baru saja dari kantor pengacara.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!