Layar monitor berukuran tiga puluh dua inci itu menampilkan wajah Maya dalam resolusi 4K. Aku memperbesar gambar hingga ke bagian iris matanya. Di sana, di balik lapisan lensa kontak berwarna cokelat madu yang disyaratkan oleh kontrak, aku tidak melihat binar kebahagiaan yang biasanya dipuja-puja oleh jutaan pengikutnya. Aku hanya melihat pantulan lampu *softbox* dan kekosongan yang dingin.
Aku menggeser kursor, melewati ratusan foto yang diambil hari ini di studio. Semuanya sempurna. Maya yang tertawa di pundak Leo. Maya yang menyuapi Leo sepotong stroberi. Maya yang tampak seperti wanita paling beruntung di dunia karena memiliki kekasih impian publik. Namun, bagiku yang menghabiskan separuh hidup di balik lensa, foto-foto itu terasa seperti sampah plastik yang dipoles agar terlihat seperti berlian.
Suara pintu studio yang berderit menghentikan tanganku. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum vanila yang bercampur dengan aroma lelah yang khas itu memenuhi ruangan.
"Belum pulang, Ris?" suara Maya terdengar serak.
Aku menyandarkan punggung ke kursi kerja, membiarkan monitor tetap menyala. Maya berdiri di ambang pintu, masih mengenakan gaun sutra merah dari pemotretan terakhirβgaun seharga puluhan juta yang sebenarnya milik agensi. Bahunya merosot, dan riasan wajahnya mulai luntur di bawah matanya, memberikan kesan gelap yang tidak akan pernah diizinkan muncul di unggahan Instagram-nya.
"Lagi nyortir foto buat kampanye minggu depan," jawabku datar. Aku memperhatikannya berjalan mendekat, lalu duduk di sofa sudut studio yang remang-remang. Dia melepaskan sepatu hak tingginya dengan kasar, seolah benda itu adalah belenggu yang menyiksanya sepanjang hari.
"Bagus-bagus?" tanyanya tanpa minat.
"Secara teknis? Sempurna. Tapi secara rasa? Kosong, May."
Maya terdiam. Dia memijat pangkal hidungnya, lalu menatapku dengan tatapan yang ingin tampak kuat namun gagal total. "Klien nggak butuh rasa, Ris. Mereka butuh angka. Dan angka kita lagi naik g***-g***an."
Aku memutar kursiku menghadapnya sepenuhnya. "Sampai kapan, May? Sampai kamu lupa gimana rasanya senyum tanpa ada aba-aba 'action'?"
Maya memalingkan wajah, menatap kegelapan di luar jendela studio. "Kamu nggak ngerti. Kontrak ini... nilainya miliaran. Ini tiketku untuk nggak pernah lagi ngerasa takut nggak bisa bayar tagihan. Ini satu-satunya cara buat aku nggak balik lagi ke titik nol."
Aku bangkit, berjalan mendekatinya, dan duduk di meja rendah di depan sofanya. Jarak kami c**up dekat hingga aku bisa melihat detak jantungnya yang cepat di lehernya. Aku mengambil ponselku, membuka satu folder rahasia yang hanya berisi foto-fotonya yang tidak pernah kukirim ke agensi.
Aku menunjukkan layar ponsel itu padanya. Itu adalah foto candid yang kuambil seminggu lalu, saat dia duduk sendirian di pinggir set, menatap sisa kopi yang mendingin dengan raut wajah paling jujur yang pernah kulihat: kesedihan yang murni.
"Ini Maya yang aku kenal," bisikku. "Bukan boneka yang tadi siang pelukan sama Leo di depan kamera."
Maya meraih ponselku dengan tangan gemetar. Matanya berkaca-kaca menatap potret dirinya sendiri. "Dia kelihatan menyedihkan," gumamnya.
"Dia kelihatan manusiawi, May. Dan itu jauh lebih berharga daripada semua kontrak kosmetik di dunia ini." Aku memberanikan diri menyentuh jemarinya yang dingin. "Kamu lagi bunuh diri perlahan-lahan. Tiap kali kamu unggah kebohongan itu, ada bagian dari dirimu yang mati."
Maya menarik tangannya, seolah sentuhanku membakarnya. "Aku nggak punya pilihan, Aris! Ada *Moral Clause*. Kalau aku ketahuan bohong, kalau aku mutusin Leo sekarang, aku harus bayar penalti yang jumlahnya bisa bikin aku bangkrut tujuh turunan. Aku terjebak!"
"Kamu selalu punya pilihan," sahutku tegas, suaraku naik satu oktav. "Pilihannya cuma satu: Berhenti berbohong sekarang dan hadapi konsekuensinya, atau lanjutin sandiwara ini sampai kamu benar-benar kehilangan dirimu selamanya. Sampai kamu nggak tahu lagi mana yang akting dan mana yang nyata."
Maya tertawa kecil, tawa yang terdengar getir dan penuh luka. "Kamu bilang gitu karena kamu nggak punya beban kayak aku. Kamu cuma orang di balik layar, Ris. Kamu bisa bebas jadi siapa pun."
"Aku bilang gini karena aku peduli sama kamu!" Kalimat itu meluncur begitu saja sebelum aku sempat menyaringnya. Keheningan yang mencekam mendadak menyelimuti studio. Detak jam dinding seolah berdentum keras di telingaku.
Maya menatapku, matanya membelalak lebar. Ada keraguan, ketakutan, dan setitik harapan yang bertarung di sana. Dia membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu, namun pada saat yang sama, ponsel di pangkuannya bergetar hebat.
Layar ponselnya menyala terang, memecah suasana intim yang sempat terbangun. Nama 'Leo' muncul di sana dengan notifikasi pesan WhatsApp yang terbaca jelas: *"B**nd baru aja kirim draf postingan buat besok pagi. Foto kita yang lagi ciuman di taman. Caption-nya soal 'cinta sejati'. Siap-siap ya, jam 8 pagi harus sudah naik."*
Maya menatap pesan itu seolah itu adalah vonis mati. Dia beralih menatapku, lalu kembali ke ponselnya. Air mata pertamanya jatuh, merusak sisa maskara di pipinya.
"Aku harus apa, Ris?" bisiknya, suaranya nyaris hilang.
Aku berdiri, menatapnya dengan segala kepedihan yang bisa kutampung. "Aku nggak bisa mutusin buat kamu, May. Tapi kalau kamu milih buat terus pakai topeng itu, jangan cari aku lagi di balik lensa. Karena aku nggak sanggup terus-terusan memotret mayat yang pura-pura hidup."
Aku berbalik menuju meja kerjaku, mulai mematikan perangkat satu per satu. Suasana studio menjadi gelap, hanya menyisakan lampu indikator printer yang berkedip merah.
"Aris, tunggu..."
Langkah Maya terhenti saat pintu studio terbuka kasar. Leo berdiri di sana dengan napas terengah, wajahnya tampak panik sambil memegang ponsel.
"Maya! Kamu harus lihat ini!" teriak Leo tanpa memedulikan kehadiranku. "Akun gosip baru saja dapet foto kamu lagi jalan berdua sama Aris di cafe minggu lalu. Netizen mulai curiga kita cuma settingan. Manager kita telepon, dia ngamuk!"
Maya membeku di tempatnya. Dunia palsu yang dia bangun dengan susah payah mulai retak lebih cepat dari yang dia bayangkan. Dia menatapku, memohon perlindungan, tapi aku hanya diam, menunggu keputusan apa yang akan dia ambil di tengah reruntuhan kebohongannya sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!