Lampu *ring light* yang biasanya menyengat mataku akhirnya padam. Keheningan segera menyergap ruang tamu apartemen yang merangkap sebagai studio ini, menyisakan suara dengung halus dari pendingin ruangan. Di depanku, Maya masih sibuk dengan tabletnya, jemarinya bergerak lincah memotong klip video yang baru saja kami rekam. Rambutnya yang diikat asal-asalan menyisakan beberapa helai yang jatuh menutupi pipinya.
Aku memperhatikannya dari balik gelas kopi yang sudah dingin. Inilah Maya yang tidak dilihat oleh jutaan pengikut kami di Instagram. Maya yang tidak tersenyum lebar demi tuntutan algoritma. Maya yang matanya terlihat sangat lelah, namun tetap memaksakan diri demi mengejar target *endorsement*.
"May, sudah. Itu bisa dilanjut besok," kataku lirih. Suaraku terasa serak di tenggorokan yang kering.
Maya tidak menoleh. "Tinggal *color grading*, Leo. Kontrak dengan b**nd kosmetik itu mewajibkan kita unggah jam sepuluh pagi besok. Kalau telat, penaltinya besar."
Aku meletakkan gelas di atas meja kopi dengan denting kecil yang memecah kesunyian. "Lupakan soal penalti sebentar saja. Kamu butuh napas."
Maya akhirnya berhenti. Dia menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa. Matanya terpejam sejenak. Dalam remang lampu sudut, dia tampak begitu rapuh, sangat kontras dengan citra 'wanita tangguh' yang selalu ia bangun di depan kamera. Melihatnya seperti ini membuat dadaku sesak oleh sesuatu yang sudah lama kupendam, sesuatu yang tidak ada dalam draf skrip mana pun.
"Kita melakukannya dengan baik, kan?" gumamnya tanpa membuka mata. "Angka pertumbuhannya g***. Kita hampir sampai di titik yang kita impikan dulu."
"Iya, angkanya memang bagus," jawabku, bergerak duduk lebih dekat di sampingnya. "Tapi apa kamu bahagia?"
Maya membuka mata, menatapku dengan kerutan tipis di dahi. "Bahagia? Kita punya kontrak miliaran rupiah, Leo. Itu lebih dari c**up untuk membuatku merasa aman. Kamu tahu kan rasanya hampir kehilangan segalanya? Aku nggak mau kembali ke sana."
Aku tahu. Aku tahu ketakutannya akan kemiskinan adalah bahan bakar utama ambisinya. Tapi aku juga tahu bahwa belakangan ini, senyumnya setelah sesi pemotretan dengan Aris terlihat jauh lebih tulus daripada senyum yang ia berikan padaku saat kamera ponsel menyala. Setiap kali Aris mengarahkan gaya, mata Maya berbinar dengan cara yang menyakitiku secara perlahan.
"May," aku memanggilnya lagi. Kali ini dengan nada yang berbeda. Aku mengulurkan tangan, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh jemarinya yang dingin.
Dia tersentak kecil, tapi tidak menarik tangannya. Dia menatap tanganku, lalu menatap mataku dengan bingung. "Ada apa? Kamu mau bahas strategi konten minggu depan?"
"Nggak. Sama sekali bukan soal konten," aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang biasanya aku gunakan untuk berakting di depan ribuan orang, tapi kali ini aku membutuhkannya untuk menjadi diriku sendiri. "Aku mau bicara soal kita. Tanpa kamera, tanpa *caption* manis, tanpa tuntutan kontrak."
Wajah Maya menegang. Dia mencoba tertawa kecil, tawa yang terdengar dipaksakan. "Leo, jangan bilang kamu mau minta kenaikan bagi hasil lagi? Kita sudah sepakat lima puluh-lima puluhβ"
"Aku mencint**mu, Maya."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Sederhana, tapi dampaknya terasa seperti bom yang meledak di tengah ruangan. Maya membeku. Tawanya hilang seketika, digantikan oleh tatapan kosong yang dipenuhi keterkejutan. Jemarinya di bawah tanganku mulai gemetar.
"Leo... apa-apaan..." suaranya nyaris berbisik.
"Aku nggak lagi akting," lanjutku, suaraku kini lebih stabil meskipun jantungku berdegup kencang hingga telingaku berdenging. "Awalnya memang cuma soal algoritma. Aku pikir aku bisa profesional. Tapi melihatmu setiap hari, berjuang bersamamu, bahkan sandiwara yang kita mainkan... itu semua perlahan jadi nyata buatku. Setiap kali aku memegang tanganmu di depan kamera, aku berharap aku nggak perlu melepaskannya saat tombol *stop* ditekan."
Maya menarik tangannya dengan cepat, seolah kulitku baru saja membakarnya. Dia berdiri dari sofa, melangkah mundur hingga menab**k meja makan. Wajahnya pucat pasi. "Kamu nggak boleh ngomong begini, Leo. Kita punya kontrak. *Moral clause*. Kita nggak boleh punya skandal, kita nggak bolehβ"
"Ini bukan skandal, May! Ini perasaan jujur!" aku ikut berdiri, mencoba mendekat, tapi dia mengangkat tangan, mengisyaratkan agar aku tetap di tempat.
"Nggak, Leo. Kamu cuma terbawa suasana," suara Maya gemetar, dan aku bisa melihat ketakutan di matanya. "Kita itu partner bisnis. Hanya itu. Kalau kamu mulai merasa seperti ini, semuanya akan jadi rumit. Kita bisa kehilangan kontrak itu. Kita bisa hancur."
Aku menatapnya tajam, mencoba mencari celah di matanya. "Apa benar ini cuma soal kontrak? Atau ini soal Aris?"
Nama itu seolah menjadi tamparan baginya. Maya memalingkan wajah, tapi aku sempat melihat kilat rasa bersalah yang melintas di matanya. Dia menggigit bibir bawahnya, sebuah kebiasaan yang selalu dia lakukan saat merasa tersudut atau menyembunyikan sesuatu.
"Aris nggak ada hubungannya dengan ini," katanya pelan, tapi nada bicaranya tidak meyakinkan.
"Benarkah? Karena caramu menatap dia saat di studio tadi... itu bukan tatapan untuk seorang fotografer, May," kataku, nada suaraku mulai diwarnai kepahitan yang sulit kusembunyikan. "Aku sudah belajar bertahun-tahun untuk membedakan mana akting dan mana yang asli. Dan apa yang kamu tunjukkan ke Aris, itu asli. Kenapa kamu nggak bisa jujur sama aku?"
Maya menoleh kembali padaku, matanya kini berkaca-kaca. "Karena aku harus profesional, Leo! Karena aku nggak bisa membiarkan perasaanku merusak semua yang sudah kita bangun! Aku merasa bersalah... aku merasa sangat bersalah setiap kali aku berdiri di sampingmu tapi pikiranku ada pada orang lain. Tapi itu nggak berarti aku bisa membalas perasaanmu."
Kata-katanya menghantamku lebih keras dari yang kubayangkan. Kejujurannya yang pahit lebih menyakitkan daripada kebohongannya. Jadi benar, selama ini aku hanya menjadi penonton dalam drama cintanya sendiri, sementara aku adalah pemeran utama pria di layar ponselnya.
"Jadi itu jawabanmu?" tanyaku, suaraku kini rendah dan berat. "Kamu lebih memilih pura-pura mencint**ku demi uang, daripada menghadapi kenyataan bahwa hatimu sudah milik orang lain?"
Maya tidak menjawab. Dia hanya menunduk, butiran air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. Keheningan yang terjadi kali ini jauh lebih menyesakkan daripada sebelumnya. Aku menyadari satu hal: pengakuanku barusan tidak membebaskan apa pun. Justru, aku baru saja mempererat rant** yang menjerat kami dalam kontrak yang kini terasa seperti penjara.
Tepat saat itu, ponsel Maya di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi ma**k. Aku bisa melihat nama yang tertera di layarnya bahkan dari jarak ini.
*Aris: "Bisa bicara sebentar? Ada hal penting soal pemotretan hari ini yang belum selesai kita bahas."*
Kami berdua menatap ponsel itu. Suasana di ruangan semakin mencekam, sebuah bom waktu yang baru saja berdetak lebih cepat.
"Pilih, May," kataku dingin, meski hatiku hancur berkeping-keping. "Pilih peranmu sekarang. Jadi pacar bohongan yang setia demi kontrak, atau hancurkan semuanya malam ini juga."
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!