Layar ponsel di atas nakas bergetar tanpa henti, menciptakan suara dengung yang m****akkan telinga di tengah keheningan kamar yang masih remang. Maya mengerang, tangannya meraba-raba mencari benda itu dengan mata yang masih setengah terpejam. Namun, begitu matanya menangkap deretan notifikasi yang memba****i layar, kantuknya menguap seketika.
Ada ratusan *mention* di Instagram. Puluhan pesan WhatsApp dari manajernya, dan sepuluh pangg***n tak terjawab dari Leo.
Jantung Maya berdegup kencang. Ia membuka salah satu pesan dari Leo yang dikirim lima menit lalu. Sebuah tangkapan layar dari akun gosip *@Lambe_Selegram* yang memiliki jutaan pengikut.
"Tidak mungkin..." bisik Maya. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Foto itu buram, diambil dari jarak jauh di sebuah sudut kafe remang-remang dua malam lalu. Namun, profil Maya yang sedang tertawa lebar tidak bisa disangkal. Di depannya, Aris sedang mencondongkan tubuh, tangannya tampak seolah-olah sedang menyentuh jemari Maya di atas meja—padahal saat itu Aris hanya sedang mengambilkan tisu. Di bawah foto itu, sebuah *caption* provokatif tertulis: *"Eits! B**nd Ambassador Couple kesayangan netizen lagi main api? Maya 'Unfiltered' tertangkap mesra sama fotografernya sendiri. Terus Mas Leo dikemanain? Apakah cinta kontrak ini mulai retak?"*
Tangan Maya gemetar hebat. Ia merasa seolah oksigen di kamarnya mendadak habis. Ketakutan terbesarnya—kegagalan yang menyeretnya kembali ke lubang kemiskinan—kini berdiri tepat di depan mata, mengetuk pintu dengan keras.
Bel pintu apartemennya berbunyi kasar, seolah-olah seseorang sedang mencoba mendob**knya. Maya melompat dari tempat tidur, berlari menuju pintu tanpa sempat menyisir rambut. Begitu pintu terbuka, Leo berdiri di sana dengan wajah merah padam dan napas memburu.
"Kamu g***, May?" Leo merangsek ma**k, membanting ponselnya ke atas meja ruang tamu. "Sudah kubilang hati-hati! Aris itu ancaman bagi kontrak kita, dan sekarang lihat apa yang terjadi!"
"Itu tidak seperti yang terlihat, Leo! Kami cuma bicara soal konsep *shoot* berikutnya," bela Maya, meski suaranya terdengar mencicit.
"Netizen tidak peduli soal konsep! B**nd tidak peduli soal kebenaran!" Leo berteriak, frustrasi menyapu wajahnya yang biasanya selalu tenang di depan kamera. "Mereka cuma peduli soal citra. Dan citra kita sekarang adalah sampah."
Sebelum Maya sempat membalas, ponselnya kembali bergetar. Kali ini, nama yang muncul di layar membuat seluruh tubuhnya membeku: *Bu Diana - B**nd Manager GlowUp*.
Maya menelan ludah dengan susah payah. Ia menatap Leo yang juga terdiam begitu melihat nama itu. Dengan tangan yang masih gemetar, Maya menggeser tombol hijau dan menyalakan *loudspeaker*.
"Halo, selamat pagi, Bu Diana—"
"Tidak ada yang selamat dari pagi ini, Maya," suara Diana di seberang sana sedingin es. Tidak ada keramahan basa-basi seperti biasanya. "Saya sudah melihat foto-foto itu. Direksi kami sedang mengadakan rapat darurat sekarang juga."
"Bu, itu hanya salah paham. Saya bisa jelaskan—"
"Penjelasanmu tidak akan mengembalikan nilai saham kami yang turun pagi ini atau menghapus ribuan komentar negatif di akun resmi GlowUp," potong Diana tajam. "Kamu tahu persis isi kontrak yang kamu tanda tangani, Maya. *Moral Clause*. Pasal 12 ayat 4: 'Segala bentuk tindakan yang mencoreng citra publik pasangan, terma**k keterlibatan romantis dengan pihak ketiga, adalah pelanggaran berat'."
Maya meremas ujung bajunya hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan rumah orang tuanya yang disita bank bertahun-tahun lalu berkelebat di benaknya. Rasa sesak itu kembali lagi.
"Kami tidak akan menunggu investigasi lebih lanjut," lanjut Diana. "Tim hukum kami sudah menyiapkan denda penalti. Sesuai kontrak, pelanggaran *Moral Clause* mengharuskan kalian mengembalikan seluruh *fee* yang sudah dibayarkan ditambah denda kerugian sebesar satu miliar rupiah. Tunai, dalam tujuh hari kerja."
Satu miliar. Angka itu menghantam Maya seperti palu godam. Seluruh tabungan yang ia kumpulkan dengan susah payah, setiap tetap keringat untuk membangun kariernya dari nol, bahkan belum c**up untuk menutupi setengah dari jumlah itu.
"Tolong, Bu Diana... beri kami waktu. Kami akan buat video klarifikasi. Saya dan Leo bisa—"
"Waktu kalian sudah habis, Maya. Pengacara kami akan mengirimkan surat tuntutan resmi sore ini. Jangan coba-coba menghilang, atau masalah ini akan ma**k ke ranah hukum pidana penipuan."
*Klik.*
Sambungan terputus. Keheningan yang menyusul jauh lebih menakutkan daripada teriakan Leo tadi. Maya jatuh terduduk di lant** yang dingin, matanya menatap kosong ke arah layar ponsel yang kini gelap.
"Satu miliar..." gumam Leo, suaranya kini tidak lagi marah, melainkan penuh keputusasaan. Ia menyisir rambutnya dengan kasar, lalu menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Semua yang kita bangun, May. Semuanya hilang hanya karena satu malam kamu tidak bisa menahan diri untuk tidak bertemu fotografer itu."
Maya tidak sanggup mendongak. Air mata mulai membasahi pipinya. Ia memikirkan Aris. Apakah Aris tahu tentang ini? Apakah Aris juga akan hancur? Namun, di atas segalanya, ia memikirkan dirinya sendiri. Ketakutan akan kemiskinan yang selama ini ia kunci rapat di balik konten-konten mewah kini mendob**k keluar, menertawakannya.
Tiba-tiba, ponsel Maya bergetar lagi. Bukan dari Diana, bukan dari Leo. Sebuah pesan singkat dari Aris.
*Maya, aku baru lihat beritanya. Maafkan aku. Aku punya ide untuk memperbaiki ini, tapi kamu mungkin tidak akan suka.*
Maya menatap pesan itu dengan jantung yang berdegup tidak karuan. Di tengah kehancuran yang sudah di depan mata, apakah ada jalan keluar yang lebih buruk daripada kehilangan satu miliar rupiah?
Ia menoleh ke arah Leo yang mulai mondar-mandir seperti singa dalam sangkar, lalu kembali menatap pesan Aris. Maya tahu, apa pun pilihan yang ia ambil setelah ini, hidupnya tidak akan pernah bisa kembali ke layar ponsel yang penuh filter dan kepura-puraan.
Pintu apartemennya kembali diketuk, namun kali ini lebih pelan, lebih ragu-ragu. Maya bangkit perlahan, menyeka air matanya dengan kasar, dan berjalan menuju pintu. Ia tidak tahu siapa yang ada di balik sana—pengacara b**nd, wartawan, atau Aris—tapi ia tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil sekarang adalah langkah menuju kehancuran atau keselamatan yang sangat mahal harganya.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!