Cahaya putih dari *ring light* di depanku terasa seperti lampu interogasi yang menyilaukan. Di layar ponsel yang terpasang pada tripod, angka penonton terus merangkak naik dengan kecepatan yang mengerikan—dua ribu, lima ribu, hingga menyentuh sepuluh ribu hanya dalam hitungan detik. Napas mengendap di tenggorokanku, terasa berat dan berduri.
Selama ini, aku adalah arsitek di balik setiap unggahan kami. Aku yang mengatur sudut pengambilan gambar, aku yang mengedit durasi jeda agar tawa Leo terdengar lebih tulus, dan aku yang menyusun skrip kemesraan kami agar terlihat sealami mungkin. Namun malam ini, tanganku kosong. Tidak ada naskah dari agensi di pangkuanku. Tidak ada arahan manajer yang berteriak di balik layar. Hanya ada aku, sebuah kamar yang mendadak terasa terlalu sempit, dan ribuan pasang mata yang menuntut penjelasan.
"Halo semuanya," suaraku serak, hampir pecah. Aku berdeham, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian. "Terima kasih sudah bergabung. Aku tahu... ada banyak spekulasi yang beredar sejak foto-foto itu tersebar."
Kolom komentar bergerak begitu cepat hingga sulit dibaca, tapi kata-kata seperti *'Pembohong'*, *'Settingan'*, dan *'Kasian Leo'* melintas seperti peluru yang tepat sasaran. Hatiku mencelos. Selama berbulan-bulan, aku membangun citra Maya yang sempurna—gadis beruntung yang menemukan cinta sejati di tengah bisingnya media sosial. Sekarang, citra itu retak dan memperlihatkan kekosongan di dalamnya.
"Aku tidak akan membaca naskah apa pun malam ini," lanjutku, jemariku meremas pinggiran meja kayu hingga buku-bukuku memutih. "Apa yang kalian lihat selama ini... hubungan aku dan Leo..."
Aku terjeda. Bayangan Aris muncul di benakku—tatapan matanya yang teduh saat dia memegang kamera, kejujurannya yang tanpa filter, dan bagaimana dia selalu melihatku sebagai Maya, bukan sebagai 'setengah dari pasangan fenomenal'. Lalu ada Leo, sahabat sekaligus rekan kerja yang kini terjepit dalam kebohongan yang kami bangun bersama.
"Hubungan itu berawal sebagai strategi," aku akhirnya mengucapkannya. Kalimat itu terasa seperti menjatuhkan bom ke dalam air yang tenang. "Kami ingin sukses. Kami ingin keluar dari stagnasi. Dan kami pikir, menjual cinta adalah cara tercepat."
Hujatan di kolom komentar meledak.
*“Udah ketebak!”*
*“Demi duit sampai segininya?”*
*“Penipu publik! Boikot!”*
Tepat saat itu, sebuah notifikasi muncul di bagian atas layar ponselku. Sebuah surel ma**k dengan subjek yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak: **Pemberitahuan Pemutusan Kontrak Secara Sepihak - Ethereal Cosmetics.**
Duniaku serasa runtuh. Aku belum sempat membaca isinya, tapi aku tahu apa artinya. Milyaran rupiah yang seharusnya menyelamatkan keluargaku dari bayang-bayang kebangkrutan, apartemen yang baru kusewa, dan masa depan yang sudah kususun rapi—semuanya menguap dalam hitungan detik. Ketakutan terbesarku, kemiskinan yang selalu menguntit di belakangku seperti bayangan, kini melompat ke depan dan mencekikku.
"Baru saja," aku berbisik, mataku mulai berkaca-kaca saat menatap lensa kamera, "aku menerima kabar kalau kontrak kami diputus. Aku tahu konsekuensinya. Aku tahu aku mungkin kehilangan segalanya malam ini."
Aku menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar. Aku tidak boleh terlihat lemah, tapi aku juga tidak bisa lagi berpura-pura. "Tapi berpura-pura mencint** seseorang demi algoritma adalah penjara yang paling menyesakkan. Aku lelah bersembunyi di balik filter. Aku lelah membohongi kalian, dan yang paling penting, aku lelah membohongi diriku sendiri tentang siapa yang sebenarnya ada di hatiku."
Tiba-tiba, pintu kamarku terbuka dengan bantingan keras. Aku tersentak, hampir menjatuhkan ponsel dari tripod. Leo berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat pasi. Dia memegang ponselnya sendiri, matanya menatapku dengan campuran antara amarah dan keputusasaan.
"Maya, apa yang kamu lakukan?" suaranya tertangkap oleh mikrofon ponselku, terdengar jelas oleh belasan ribu orang yang masih menonton.
Aku terpaku, tidak sanggup menjawab. Di saat yang sama, ponselku kembali bergetar hebat. Bukan lagi notifikasi surel, melainkan pangg***n telepon dari nomor yang sangat kukenal. Aris.
Tanganku gemetar saat melihat nama Aris berkedip di layar, sementara Leo melangkah mendekat, hendak meraih ponselku untuk mematikan siaran langsung itu. Aku berada di persimpangan yang menghancurkan: Leo yang ingin menyelamatkan karier kami yang sudah hancur, atau Aris yang mungkin sedang menelepon untuk mengucapkan selamat tinggal—atau justru menawarkan pelarian.
"Matikan sekarang, Maya! Kamu menghancurkan hidup kita!" bentak Leo, tangannya sudah mencapai tripod.
Aku memejamkan mata erat-erat, membiarkan satu tetes air mata jatuh melintasi pipiku. Tepat sebelum layar menjadi gelap karena tangan Leo menutup lensa, aku menyadari satu hal: kejujuran memang membebaskan, tapi harganya mungkin jauh lebih mahal daripada yang sanggup kubayar.
Dan saat kegelapan menyelimuti layar, sebuah denting pesan singkat ma**k ke ponselku, muncul sekilas di bilah notifikasi sebelum semuanya mati total: *“Maya, jangan keluar rumah. Mereka sudah ada di depan apartemenmu.”*
Lanjutkan Membaca Bab 22 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!