Layar ponsel itu gelap. Untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun, aku tidak merasakan dorongan kompulsif untuk memeriksanya setiap lima menit. Tidak ada jadwal unggahan yang menghantui, tidak ada draf video yang harus diedit hingga fajar, dan yang paling penting, tidak ada naskah kemesraan yang harus kuhafalkan.
Aku menarik napas panjang, menghirup aroma kopi tubruk yang mengepul dari cangkir keramik retak di hadapanku. Kami tidak lagi berada di kafe estetik dengan pencahayaan *golden hour* yang diatur sedemikian rupa. Kami hanya duduk di teras kecil apartemenku yang sempit, ditemani suara bising knalpot kendaraan dari jalan raya di bawah sana.
"Aneh, ya?" suara Leo memecah keheningan.
Aku menoleh. Dia tidak mengenakan kemeja linen mahal atau jam tangan mewah hasil *endorsement*. Hanya kaus putih polos yang sedikit longgar dan celana pendek. Rambutnya berantakan, tidak disentuh *pomade*, dan ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Namun, di mataku, dia tidak pernah terlihat se-nyata ini.
"Apa yang aneh?" tanyaku, jemariku memainkan pinggiran cangkir.
"Rasanya seperti kita baru saja bangun dari koma yang sangat panjang," Leo terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi plastik. "Biasanya, di saat seperti ini, aku pasti sudah memikirkan sudut pengambilan gambar yang bagus untuk memamerkan kopi ini. Atau mungkin menyuruhmu berpose seolah-olah kau baru saja bangun tidur dengan cantik."
Aku tersenyum tipis, merasakan sedikit cubitan di dada. "Dulu itu melelahkan, Le. Menghitung jumlah 'like' seolah itu adalah detak jantung kita sendiri."
Leo mengangguk. Dia meraih tanganku yang ada di atas meja. Tidak ada kamera yang merekam momen ini. Tidak ada tim kreatif yang memberi aba-aba agar dia mengelus punggung tanganku dengan lembut. Dia melakukannya begitu saja. Kulitnya terasa hangat, sedikit kasar, dan jujur.
"Maya," panggilnya lembut. "Aku tahu kita sudah melakukan ini selama berbulan-bulan. Tapi... aku merasa aku tidak benar-benar mengenalmu. Maksudku, Maya yang tanpa filter. Maya yang tidak peduli pada algoritma."
Aku menunduk, memandangi tautan tangan kami. "Aku juga merasa begitu. Selama ini kita terlalu sibuk menjadi 'pasangan sempurna' di depan jutaan orang, sampai kita lupa bagaimana caranya menjadi dua manusia biasa yang mencoba saling menyukai."
"Jadi," Leo memiringkan kepalanya, menatapku dengan binar yang belum pernah kulihat di layar ponsel mana pun. "Bisa kita mulai dari awal? Tanpa kontrak, tanpa klausul moral, tanpa bayaran miliaran rupiah?"
Aku merasakan jantungku berdegup kencang, jenis debaran yang berbeda dari rasa panik saat melihat statistik konten yang turun. Ini debaran yang murni, yang membuat ujung jari-jariku kesemutan. "Dari awal? Seperti apa?"
Leo melepaskan tanganku sejenak, lalu mengulurkan tangan kanannya dengan formal, seolah-olah kami baru pertama kali bertemu di sebuah pesta. "Hai. Aku Leo. Aku suka makan mi instan langsung dari pancinya dan aku benci suara alarm di pagi hari. Aku bukan model, aku hanya pria yang sedang mencoba mencari tahu apa yang ingin dia lakukan dengan hidupnya."
Aku tertawa, tawa lepas yang sudah lama tertahan di tenggorokan. Aku menyambut tangannya. Genggamannya mantap. "Aku Maya. Aku ahli dalam strategi konten, tapi aku payah dalam merawat tanaman. Aku punya ketakutan berlebih pada kemiskinan, tapi sekarang aku sedang belajar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan saldo rekening."
Kami bersalaman c**up lama, saling melempar senyum yang tidak perlu dipaksakan untuk terlihat manis di kamera. Di titik ini, aku menyadari satu hal: membangun hubungan yang nyata jauh lebih menakutkan daripada menghadapi pembatalan kontrak dari b**nd besar. Di sini, tidak ada naskah yang melindungiku jika aku melakukan kesalahan. Tidak ada filter yang bisa menutupi kekuranganku.
Leo menarik tangannya, lalu bangkit dari kursi. Dia berjalan ke arah pagar balkon, memandang langit Jakarta yang mulai berubah jingga. Kali ini, warna langit itu bukan untuk latar belakang konten *reels*. Itu hanya langit.
"Aku merindukan Aris sesekali," gumamku pelan, hampir tidak terdengar.
Langkah Leo terhenti. Bahunya sedikit menegang, tapi kemudian dia berbalik dengan ekspresi tenang. "Aku tahu. Aris adalah bagian dari kejujuran yang kau cari saat kita masih terjebak dalam kebohongan itu."
"Tapi dia adalah bagian dari masa lalu yang rumit, Le," lanjutku, berdiri dan menghampirinya. "Sama seperti kontrak itu. Sekarang, aku hanya ingin fokus pada apa yang ada di depanku. Sesuatu yang nyata."
Leo meraih bahuku, menarikku ke dalam pelukannya. Aku menyandarkan kepala di dadanya, mendengar detak jantungnya yang ritmis. Tidak ada aroma parfum mahal yang sengaja disemprotkan untuk keperluan syuting. Hanya aroma sabun mandi biasa dan aroma matahari.
"Kita akan gagal berkali-kali, Maya," bisik Leo di rambutku. "Kita akan bertengkar karena hal-hal sepele. Kita mungkin akan merasa bosan karena tidak ada drama yang perlu dipentaskan. Apa kau siap untuk itu?"
Aku memejamkan mata, menikmati keheningan yang damai. "Itu terdengar jauh lebih baik daripada pura-pura bahagia setiap hari."
Namun, di tengah kedamaian itu, getaran tiba-tiba terasa dari dalam saku celana Leo. Suara notifikasi yang khas. Leo ragu sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya. Wajahnya yang tadi rileks seketika berubah kaku saat menatap layar.
Aku ikut melongok, dan darahku seolah membeku. Di layar itu, sebuah akun gosip besar baru saja mengunggah sebuah foto buram. Foto kami berdua, beberapa menit yang lalu, sedang berpelukan di balkon ini. Diambil dari jarak jauh, dari gedung seberang.
Keterangannya tertulis singkat namun menyengat: *"Putus kontrak miliaran tapi masih mesra? Apakah skandal kemarin hanya taktik marketing jilid dua? Netizen butuh penjelasan!"*
Aku menatap Leo, dan dia menatapku. Ketakutan lama itu merayap kembali. Ternyata, meskipun kami sudah memutuskan untuk berhenti bermain dengan algoritma, algoritma belum tentu mau berhenti bermain dengan hidup kami.
"Mereka tidak akan membiarkan kita tenang, kan?" bisikku, suaraku bergetar.
Leo tidak menjawab. Dia hanya menatap ponsel itu seolah benda itu adalah bom waktu yang baru saja aktif kembali di tengah kehidupan baru yang baru saja ingin kami bangun. Di bawah sana, aku bisa melihat sebuah mobil hitam terparkir mencurigakan di depan gerbang apartemen. Para pemburu berita tidak pernah benar-benar pergi; mereka hanya menunggu naskah baru dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 23 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!