Jempolku menggantung kaku di atas layar ponsel yang masih menyala terang. Di sana, sebuah video berdurasi lima belas detik sudah siap diunggah. Potongan gambarnya sengaja dibuat sedikit buram dengan filter *grainy* yang estetik—menampilkan bayangan dua orang yang duduk bersisian di sebuah kafe remang-remang, tangan yang nyaris bersentuhan, dan tawa rendah Leo yang terekam samar sebagai latar suara.
"Satu klik, Maya. Hanya satu klik dan hidup kita berubah," bisik Leo tepat di samping telingaku.
Aku bisa mencium aroma parfum *sandalwood* miliknya yang maskulin, aroma yang biasanya terasa menenangkan namun kini justru membuat perutku mulas. Aku menoleh sebentar, mendapati Leo sedang memperhatikanku dengan tatapan intens yang sulit kubaca. Apakah dia juga segugup aku? Ataukah dia benar-benar aktor sehebat itu hingga bisa menyembunyikan getaran di tangannya?
"Kalau ini gagal, kita cuma bakal kelihatan seperti dua orang putus asa yang mencoba terlalu keras," kataku, suaraku sedikit parau.
Leo terkekeh, suara yang biasanya memikat ribuan pengikutnya. "Dan kalau ini berhasil, kita nggak perlu lagi khawatir soal tagihan sewa apartemen bulan depan. *High risk, high return*, kan?"
Aku menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak sambil membayangkan tumpukan surat tagihan yang terselip di bawah pintu rumah ibuku. Bayang-bayang kebangkrutan keluarga selalu menjadi hantu yang mengejarku, dan sandiwara ini adalah satu-satunya jaring pengaman yang kami punya.
Dengan satu sentuhan tegas, aku menekan tombol 'Share'.
*Posting...*
Jantungku berdegup kencang mengikuti bar progres yang merayap di bagian atas layar. Begitu tulisan 'Shared' muncul, aku segera meletakkan ponsel itu di atas meja kayu di antara kami, seolah benda itu baru saja berubah menjadi bom yang siap meledak.
"Sekarang kita tunggu," ujar Leo sant**, meskipun aku melihatnya berkali-kali melirik ponselnya sendiri yang diletakkan tertelungkup.
Satu menit pertama terasa seperti satu jam. Sunyi. Hanya ada suara dengung AC di apartemen kecil Leo dan detak jam dinding yang seolah mengejek keraguanku. Aku mulai menggigit kuku ibu jariku, kebiasaan buruk yang muncul setiap kali aku merasa terpojok.
Lalu, sebuah notifikasi muncul. Kemudian dua. Lima. Sepuluh.
Ponselku bergetar pendek berkali-kali di atas meja, menciptakan bunyi *drrtt-drrtt* yang ritmis. Aku dan Leo saling pandang. Aku memberanikan diri untuk meraih ponsel itu kembali dan membuka kolom komentar.
*"Tunggu, itu Leo bukan sih? Siapa ceweknya?!"*
*"Tangan siapa itu?! OMG, Leo akhirnya go public?"*
*"Vibes-nya beda banget, lebih... intim. Spill dong!"*
Dalam sepuluh menit, jumlah penayangan menembus angka lima ribu. Angka yang biasanya butuh waktu dua hari untuk kami capai, kini terjadi dalam sekejap mata.
"Leo, lihat ini," aku menyodorkan ponselku padanya. "Algoritmanya... mereka memakannya mentah-mentah."
Leo mendekat, bahunya bersentuhan dengan bahuku saat dia membaca barisan komentar yang terus mengalir deras seperti air bah. Senyum miring tersungging di wajahnya. "Aku sudah bilang, Maya. Netizen itu haus akan romansa. Mereka bosan dengan konten tips dan trik yang kita buat sendirian. Mereka mau cerita. Mereka mau drama."
Aku memperhatikan angka *followers* yang mulai merayap naik. Ada kepuasan aneh yang menjalar di dadaku—rasa kemenangan yang sudah lama tidak kurasakan. Namun, di sudut hati yang lain, ada rasa dingin yang menyusup. Kami baru saja menjual sesuatu yang tidak ada.
"Kita harus membalas beberapa komentar," kataku, mencoba kembali ke mode profesional. "Jangan terlalu gamblang. Biarkan mereka tetap menebak-nebak. *Soft launch* harus tetap misterius."
"Aku tahu," sahut Leo. Dia meraih ponselnya sendiri, jempolnya bergerak lincah di atas layar. "Aku bakal unggah foto kopi di *Story*, dengan sudut pandang yang sama dengan videomu. Biar mereka menghubungkan titik-titiknya sendiri."
Satu jam berlalu, dan situasi mulai tidak terkendali. Tagar namaku dan Leo mulai muncul di pencarian populer. Notifikasi pangg***nku terus berbunyi dari teman-teman sesama kreator yang penasaran. Namun, yang membuat napas seolah tercekat adalah sebuah pesan langsung (DM) yang ma**k dari akun bercentang biru.
Sebuah *b**nd* kosmetik internasional, yang selama ini hanya bisa kupandang posternya di mal-mal mewah.
*"Halo Maya dan Leo, kami sangat menyukai energi kalian berdua di konten terbaru. Kami sedang mencari wajah baru untuk kampanye 'Love in Color'. Apakah kalian bersedia untuk meeting besok?"*
Tanganku gemetar hebat. "Leo... lihat ini."
Leo membaca pesan itu, dan untuk pertama kalinya, aku melihat matanya membelalak lebar. "Sial. Ini bukan sekadar ratusan ribu rupiah, Maya. Ini kontrak miliaran."
Tepat saat itu, ponselku bergetar lagi. Bukan notifikasi Instagram, melainkan sebuah pesan WhatsApp dari nomor yang sudah kusimpan dengan nama 'Aris - Fotografer'.
*“Konten yang bagus, May. Kamu kelihatan bahagia banget di video itu. Benar itu pacar kamu?”*
Kalimat sederhana itu entah mengapa terasa seperti tamparan. Aku teringat pertemuan singkatku dengan Aris di studio minggu lalu—tatapan matanya yang teduh, caranya memujiku secara tulus tanpa kamera yang menyala, dan pembicaraan kami soal impian yang jujur. Dibandingkan dengan keg***an yang baru saja kupicu bersama Leo, pesan Aris terasa seperti pengingat akan kenyataan yang mulai kutinggalkan.
Aku menatap layar yang kini penuh dengan ucapan selamat dari orang-orang asing. Angka-angka terus bertambah, popularitas mulai memelukku erat, namun ada sebuah lubang kecil di ulu hatiku yang mulai terbuka.
"Maya? Kamu oke?" Leo menyentuh lenganku, ekspresinya kini penuh dengan ambisi yang berkilat. "Kita sudah ma**k ke dalam permainan ini. Nggak ada jalan pulang."
Aku menelan ludah, mengabaikan pesan dari Aris dan kembali menatap kontrak digital di layar ponsel. Leo benar. Mesin ini sudah menyala, dan aku sendirilah yang menekan tombolnya. Aku hanya tidak menyangka bahwa menjadi 'bahagia' di mata dunia akan terasa seberat ini.
"Ya," jawabku pelan, sambil memaksakan sebuah senyum tipis yang hanya bisa kulakukan di depan kamera. "Ayo kita balas pesan *b**nd* itu. Mari kita beri mereka apa yang mereka mau."
Namun, di dalam benakku, aku bertanya-tanya: berapa lama aku bisa bertahan dalam kebohongan ini sebelum hatiku sendiri yang akan membongkarnya? Karena saat aku melihat angka penayangan yang mencapai satu juta dalam semalam, aku sadar bahwa kami bukan lagi pemilik hidup kami sendiri. Kami adalah milik algoritma, dan algoritma tidak mengenal kata putus.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!